
Cecilia tertegun mendengar ide yang dilontarkan temannya itu, begitu juga dengan Nita,
"Lo serius mau ngelakuin hal itu?"
"Gue serius! Serly udah gak bisa gue remehin lagi, kalau gue gak balas dengan cara itu, dia bakal terus ngusik gue, bakal nyari tahu terus tentang gue dan Om Zian."
"Menurut gue sih, biarin aja dia tahu toh emang bener! Lo ada hubungan sama guru ganteng kita! Biar nyaho dia." timpal Nita. "Cepet atau lambat kan mereka bakal tahu! Apalagi lama lama lo makin lengket sama sugar Daddy lo itu!"
Agnia mengerjapkan kedua matanya, "Sialan lo, gak sekalian pake toa Lo kalau mau ngomong!"
"Gak bisa sekarang Nit! Lo mau ujian sekolah Nia di batalin, gara gara affair sama guru disekolah? Bisa bisa dia gak bisa ikut ujian."
Nita berdecak, "Elah ketimbang ujian doang! Pacar Lo juga gak bakalan tinggal diem kali Nia!"
"Gue gak mau ngandelin kekuasaan dia buat kepentingan gue! Udah ayo cabut! Sekali lagi lo suara Lo kenceng! Gue sumpel pake sepatu Lo!" Ancamnya pada Nita, gadis yang diancamnya justru terkekeh,
Cecilia mengajak mereka pergi menyusun rencana, meninggalkan jam pelajaran bahkan sekolah. Mereka bertiga pergi kesebuah rumah sakit, tepatnya rumah sakit dimana mereka akan membuat siasat untuk memberi Serly balasan yang setimpal.
"Lo yakin Nia?"
"Sangat yakin!" Ujarnya dengan menyibak rambut panjangnya.
"Mending gue deh yang lakuin! Lo terima berees aja!"
"Gak bisa Ce! Gue yang bakal lakuin ini!"
Ketiganya sudah berganti pakaian, tak lupa mereka juga merias wajahnya secantik mungkin, Agnia sudah mengenal sesosok pria yang bekerja sebagai seorang dokter disana.
"Kalian cuma ambil gambar doang! Jangan melakukan hal yang gak gue suruh!"
"Wah parah! Gak sekalian gue yang kerjain aja sih! Kontrak gue kebetulan dah mau beres kan Minggu ini!"
"Nita! Lo gak usah maen maen!" ujar Agnia dengan mencubit lengan temannya yang kadang plin plan, dia kadang menasehatinya.
.
.
Derap kaki perlahan menghentak lantai di koridor rumah sakit, Setelah informasi yang dia dapatkan dari ruang informasi, dia menuju sebuah ruangan dimana Agnia akan melancarkan aksinya. Sementara Cecilia dan juga Nita mengikuti langkahnya dari belakang.
Deretan kursi panjang yang penuh dengan pasien yang tengah menunggu antrean dipanggil, tidak membuat Agnia menyerah, dia justru menarik tangan Nita.
"Sekarang!" gumamnya ditelinga Nita, gadis itu mengangguk, dia memegangi kedua bahu Agnia,
"Aduuhhhh ... sakit!" pekik Agnia yang mengundang perhatian dari yang lain. "Gue gak tahan lagi! Please rasanya gue mau mati!" pekiknya lagi.
__ADS_1
"Suster? Bisa kah temenku lebih dulu di periksa? Dia kesakitan dan menahannya dari tadi." ucap Nita dengan memegangi Agnia yang mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit, serta memegangi perutnya.
"Kenapa temanmu?"
Nita menatap Cecilia lalu menatap Agnia, "Apa bisa bicara didalam!"
"Bicara disini saja! Supaya aku bisa memberitahukan kronologis nya pada Dokter."
Nita tampak ragu, dengan wajah serius dia berakting sangat bagus. "Dia minum obat untuk menggugurkan kan---"
"Aduuhh!!! Sakit ... ini sakit, aku gak kuat!"
Terlihat suster itu menghela nafas. Tanpa diduga akting Agnia membuat rencananya mulus, suster mempersilahkan mereka masuk kedalam walau mendapat protesan dari pasien yang lain.
Sustet itu memperhatikan ketiganya yang masih remaja, lalu menyuruhnya masuk. Dia berbisik pada sosok pria berjubah putih, yang tengah duduk, dan seketika melihat kearah mereka.
"Silahkan baringkan dia!"
Nita dan Cecilia memapah Agnia ke ranjang pemeriksaan yang berada disudut ruangan, di sampingnya terdapat sebuah alat tandusel dan mesin USG.
"Kalian boleh menunggu disana!" ucapnya dengan menunjuk sebuah kursi.
Cecilia mundur beberapa langkah, memastikan posisinya pas saat mengambil foto.
Tiba tiba Agnia bangun dan memeluk Dokter tersebut, "Tolonglah ... jangan suruh aku menggugurkan kandungan ini!"
Dokter itu tersentak, "Apa ma---?"
Agnia semakin melingkarkan kedua tangannya di perut dokter, "Berjanjilah ... apapun yang terjadi, jangan suruh aku menggugurkan anak ini! Jangan, aku tidak mau!"
"Kau belum memeriksamu! Kamu tenang ya ... biar aku periksa terlebih dahulu apa yang terjadi."
"Enggak ... pokoknya aku tidak mau! Please ... ini memang kesalahanku, tapi aku menyayangi anak ini."
Agnia terus menangis, dalam rengkuhan pria berjubah putih yang tampak sabar, dia menenangkan Agnia agar bisa memeriksanya lebih dulu. Namun saat pria itu akan memeriksa, Agnia kembali histeris hingga Cecilia menghampirinya.
"Lady ... tenangkan dirimu! Biarkan dokter memeriksamu terlebih dulu! Kau bahkan belum tahu apa kau hamil atau tidak!"
"Aku--- aku yakin, karena aku merasa ada yang bergerak gerak di dalam perutku!" ujarnya dengan menyusut air matanya.
Dokter itu kembali memeriksanya, "Kita lihat apa yang dikatakan temanmu itu benar atau tidak!" ujarnya dengan terus mengamati wajah Agnia.
Sial jangan sampai dia ngenalin gue! Gue harus buru buru cabut dari sini.
Agnia turun dari ranjang pemeriksaan, "Aku gak mau! Aku takut ...!" ujarnya dengan berlari keluar,
__ADS_1
"Astaga ... hei ... Lo belum diperiksa!" teriak Nita, dia langsung menatap Cecilia.
Keduanya meminta maaf pada dokter yang masih belum mengerti apapun.
"Maaf dok! Sepertinya teman kami memang tidak mau, dia takut ketahuan oleh keluarganya atau apapun itu. Kami akan membujuknya dan akan kembali kemari."
"Sure ... silahkan, pastikan terlebih dahulu apa teman kalian hamil atau tidak!"
"Terima kasih dok!"
Keduanya berlalu pergi ke luar, menyusul Agnia yang telah lebih dulu. Hatinya merasa lega karena aksinya itu berhasil.
"Dasar anak anak zaman sekarang! Pergaulan mereka sangat bebas! Bahkan tanpa pengawasan orang tua mereka bisa hidup seperti kita ini hidup dibarat!" ujar dokter kembali duduk di kursi miliknya.
"Benar dok! Jangan sampai anak anak kita juga begitu,"
"Hm ... apalagi melihat mereka, aku seperti melihat putriku sendiri!" Dokter itu kembali meletakkan stetoskopnya diatas meja, dan merogoh ponsel.
"Beri aku lima menit untuk menelepon putriku!" ucapnya pada Suster.
.
.
Ketiganya keluar dengan nafas terengah engah, mereka bergegas masuk kedalam mobil milik Cecilia dan tertawa dengan keras.
"Ide lo emang gila Nia! Sepertinya dia dokter yang baik dan juga jujur!"
"Gue tahu! Bokap Serly emang baik ... tapi asal kalian tahu, dia juga gak baik baik amat!" seloroh Agnia dengan menghapus jejak tangisan dikedua matanya.
"Gue fikir lo bakal langsung godain dia! Ternyata Lo malah pura pura hamil." Nita memegangi dadanya yang berdebar, "Jantung gue ampir copot tadi!" sambungnya lagi.
Cecilia mengeluarkan kamera kecil yang merekam dan mengambil foto Agnia dan juga dokter itu diam diam.
"Hasilnya bagus! Gue pastiin ... foto ini bakal bikin Serly bungkam! Dia gak bakal lagi kepo sama urusan lo Nia!"
"Good job girls ... gue serahin sama lo berdua!"
Nita dan Cecilia saling menatap, lalu mengulas senyuman jahat, "Gue ahlinya!"
"Gue tahu fikiran lo Ce! Tapi muka gue gak keliatan kan?"
"Aman ... muka lo aman, Yang gak aman itu waktu kita! Kita mesti buru buru cabut dari sini." jawab Ceceilia yang duduk di kursi belakang.
"Sialan ... jam berapa ini? Gue lupa mesti ketemu Om Zian siang ini!"
__ADS_1