
"Apa yang ingin kau dengar. Hem?"
Suara bariton itu justru menggetarkan tubuh agnia, dia takut jika Zian terpancing emosi dan melakukan kekerasan kepada regi. Dan ternyata regi tidaklah gentar, dia menatapnya dengan sorot mata yang tajam, menukik langsung ke ulu hati yang jutsru membuat Agnia justru semakin takut terjadi kekerasan di antara mereka.
Zian melangkah, namun Agnia menahan lengannya. serta menggelengkan kepalanya, Regi menatap cincin di jari manis Agnia, lalu menatap kembali Zian.
"Gue hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini? Sebenarnya Lo siapa?" tanya Regi dengan suara tegas. Tidak ada keraguan dalam dirinya, dia juga terlihat lebih berani dan juga dewasa.
Tak disangka Zian tergelak, "Kau ingin tahu siapa aku? Bukankah kau sudah tau? Kau yakin ingin tahu siapa aku?" ujar Zian menunjuk dirinya sendiri,
Agnia menarik kembali lengan Zian, "Om biar Nia sendiri yang menjelaskan pada regi!"
"Why ... kenapa harus kamu?"
Agnia menatap Zian dengan tatapan nanar, berharap pria itu memberikannya kesempatan untuk menjelaskan semua kepada regi. "Please?" Katanya dengan nada lirih.
Zian menghela nafas, lalu mengangguk, "Oke aku akan memberikanmu kesempatan baby, tapi ingat, jangan kecewakan aku."
Agnia mengangguk, dia lantas menoleh kepada Regi dan berjalan beberapa langkah dari pekarangan rumah, "Kita bicara di sana!" tunjuknya kearah luar.
Dengan mata tajam yang tidak beralih dari Zian, Regi mengikuti langkah Agnia keluar dari rumah, mereka berjalan dengan kebisuan hingga akhirnya sampai di sebuah taman.
Zian menghela nafas, dia bisa saja menjelaskan semuanya kepada Regi tanpa kecuali, namun dia juga ingin menghargai keputusan dari istrinya dan memberikan ruang untuk Agnia menyelesaikan nya, walaupun Zian terlihat ragu dengan membiarkan keduanya jauh dari pandangan.
"Kenapa kalian masih di sini? Ikuti mereka ... jangan biarkan bocah tengil itu menyentuh Agnia." Sentaknya pada Cecilia dan Nita yang masih berdiri di belakangnya.
Cecilia dan juga Nita serempak mengangguk, dan pergi dari sana untuk melihat Agnia dan juga Regi.
Ditaman kecil yang terletak tidak jauh dari area real estate itu, Agnia duduk berdampingan di sebuah kursi, menatap hamparan langit yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang bersinar terang, namun bagi Regi langit itu terasa kelam, gelap, kosong dan juga sepi. Kehadiran Agnia di sisinya saat itu, membuat hatinya semakin yakin jika di antara mereka ada sesuatu yang sulit dijelaskan yang membuat langkahnya akan berhenti begitu saja.
"Regi maafin gue!"
__ADS_1
Sungguh kata itulah yang takut Regi dengar saat ini dari mulut Agnia, kata yang akan membuat hubungan mereka semakin berjarak. Kata yang justru membuat kecurigaannya semakin kuat, namun dia tetap terlihat tegar sebelum kepastian terucap dari mulut Agnia.
"Tidak usah mengatakan apapun lagi Nia! Cukup katakan ya atau tidak kalau gue tanya!"
Agnia menggigit bibir bagian bawahnya, menahan diri saat Regi terlihat berpura pura tegar, namun hanya anggukan yang bisa dia lakukan saat ini.
"Apa gue masih punya kesempatan untuk memperjuangkan hati lo Nia?"
Agnia kembali menggigit bibirnya tanpa menoleh.
"Lo hanya cukup bilang ya atau tidak!"
"Ti---tidak!"
"Apa karena pria itu?"
"Yyy---ya!"
"Apa gue kurang baik di mata Lo Nia?"
"Enggak Gi ... justru lo baik banget! Lo selalu ada buat gue gimanapun keadaan gue, dan apapun yang selalu gue lakuin."
"Cukup bilang ya atau tidak Nia! Gue gak sanggup rasanya....!"
"Regi maafin gue, gak ada niatan gue buat bikin lo kayak gini! Tapi gue juga ___!"
"Sejak kapan?" Tanya Regi, "Sejak kapan lo bohongin gue Nia? Lo gak bisa sedikitpun jujur sama gue walaupun itu sakit!" teriaknya dengan mata berkaca kaca.
"Sejak awal lo emang gak mau cerita sama gue! Lo ngebiarin gue terus berharap suatu hari nanti Lo buka hati lo sama gue ... Lo terus bikin gue berfikir suatu hari nanti gue bisa ada di hati lo, dengan tulus Nia tanpa ada keterpaksaan." teriaknya lagi.
"Itu karena hubungan antara gue dan Zian terlalu rumit Gi!"
__ADS_1
"Rumit?" Agnia mengangguk, sementara Regi berdecih, "Lo sendiri yang bikin rumit Nia, dengan bilang ke semua orang kalau dia itu om Lo!"
"Lo yang mempersulit diri Lo sendiri ... membohongi semua orang!"
Regi meraup wajahnya kasar, dan menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
"Gi ... gue tahu gue salah, gue gak jujur sama Lo, sama yang lain karena gue takut! Gue masih gak nyangka bisa cinta sama orang yang usianya jauh dibandingkan gue sendiri!" terang Agnia. "Ditambah dengan berita yang ngejelekin jelekin nama gue!"
"Kenapa? Lo takut ketahuan kalau Lo cinta sama pria itu, disaat kenyataannya lo emang cinta! Gue gak habis fikir sama jalan pikiran Lo Nia!"
Regi kembali terdiam, begitu pula dengan Agnia, Yang terdengar hanya suara gemericik air dari kolam buatan dengan lampu kerlap kerlip.
Regi menghela nafas panjang, "Maafin sikap gue yang berlebihan ini Nia! Gue hanya ngerasa gue berhak atas kejelasan atas langkah apa yang mesti gue ambil kedepannya. Gue berharap lo selalu bahagia sama dia! Dan Gue gak akan lagi ragu buat berhenti."
Agnia menitikkan air mata, semua ucapan Regi terasa pilu. Membuatnya merasa bersalah karena tidak pernah jujur dari awal, padahal tidak sekali dua kali Regi selalu bertanya padanya.
"Gue udah nikah Gi!" lirihnya dengan tangan yang menyapu ujung matanya.
"Gue udah lihat cincin di jari lo dan gue udah bisa nebak kalau cincin itu cincin nikah Lo sama dia!" Gumam Regi dengan berkali kali memejamkan matanya.
"Maafin gue Gi!"
Regi menggelengkan kepalanya, "No ... lo gak perlu minta maaf, lo gak salah ... Rasa yang gue miliki juga gak salah, gue juga gak salah, semuanya gak ada yang salah!! Cuma waktu yang salah! But It'ok ... gue harus terus berjalan, dan nyari Agnia yang lain."
Agnia terkekeh, "Lo pasti dapetin orang yang tepat nanti!"
Regi mengulas senyuman, "Semoga!! Dan semoga gak ada lagi saingan yang terlalu berat kayak Zian, biar gue masih bisa berjuang!"
"Iiihh ... apaan sih! Berat apa coba?" Agnia terkekeh dengan terus menyapu matanya yang basah.
"Ya berat lah Nia, gue masih ngandelin duit orang tua buat biayain lo!" ucapnya, "Udah gak usah nangis, soalnya gue udah gak bisa bantuin Lo buat hapus air mata Lo! Gue juga gak bisa meluk Lo biar Lo nangis di bahu gue." ujarnya dengan kembali terkekeh. "Gue masih muda, masih bisa cari yang lain!" ungkapnya lagi dengan alis yang turun naik, membohongi diri atas kepedihan hatinya.
__ADS_1
"Maafin gue ya Gi!"