
Langit semakin menggelap, hamparan awan hitam berhias bintang-bintang dengan sinar bulan. Sebuah mobil berwarna hitam berjenis BMW X5 melaju dengan cepat, mobil mewah dan elegan yang dikemudikan Kim menuju ke rumah Zian.
Selain memberikan laporan, Kim memang kerap datang untuk mengecek bos nya itu, memastikan semua aspek kehidupannya berjalan lancar. Kim juga memiliki kunci sendiri di rumah itu, dan dia bisa datang kapan pun dia mau ke tempat dimana dia sempat tinggal sewaktu kecil.
Zian yang tengah berada di ruangan kerja sontak kaget saat mendengar ketukan di pintu. Kim masuk setelah dia tahu Zian pasti berada ditempat itu.
"Kim? Kenapa datang kemari? Aku tidak buru buru menagih laporan, kau seharusnya pulang dan istirahat." Zian bangkit dari kursi.
"Lain kali, aku tidak akan mematuhimu jika berkaitan dengan Dave!" Suara Kim lebih tegas dari biasanya, sorot matanya pun menatap tajam, ekspresi itu tampak saat Kim sesuatu yang dia tidak suka.
"Kenapa? Kau hanya mengantar makanan Kim! Bukan menginap disana." Zian terkekeh.
Sepertinya gadisku memang menangkap sesuatu dari Kim dan Dave, saat mereka bertemu. batin Zian dengan tangan menuangkan air putih kedalam gelas.
Kim tampak terdiam, hanya saja giginya bergemelatuk seolah menahan sesuatu.
"Kenapa? Jangan bilang kau menyukai Dave!" tebaknya dengan masih terkekeh.
"Tidak!"
"Lantas apa? Kau tidak menyukainya tapi kau juga menolak untuk kembali berinterksi dengannya."
Kim mendengus, dia mendudukkan bokongnya diatas sofa. "Aku tidak suka melihat caranya memandangku!"
"Kau benar benar aneh Kim! Kau takut apa?"
"Payah ... aku ini seorang wanita! Jelas sekali bagaimana dia membuatku salah tingkah! Ditambah...."
Zian tergelak, "Kau salah tingkah didepannya? Sejak kapan ... ku fikir kau sedingin gunung es, tapi ternyata bisa cair juga Kim!"
Wanita perfeksionis itu berdecak, "Pokoknya aku tidak ingin kau libatkan lagi dengan pria itu."
"Sejak kapan seorang Kim menjadi tidak profesional itu?" Zian menggelengkan kepalanya berulang kali, "Kau pasti menyukai Dave, benar bukan."
Kim terdiam, dia juga tidak tahu apa dia menyukai Dave atau tidak, dia tidak pernah berada dalam posisi seperti ini, dia tidak pernah dekat dengan seorang pria apalagi jatuh cinta, dan tentu saja, dia tidak tahu bagaimana rasanya saat menyukai seorang pria.
"Kim! Benar kan yang aku katakan? Kau memang menyukai Dave?"
"Beri aku alasan kenapa aku harus menyukai Dave?" Kim justru balik bertanya dengan sorot mata mengintimidasi Dave.
"Ayolah Kim ... tidak ada alasan yang logis untuk memiliki perasaan seperti itu! Itu alami,"
__ADS_1
"Tidak ada yang benar benar alami tuan Zian! Termasuk perasaan yang kau sebutkan tadi."
"Kau malah membuatku bingung, kau tinggal jawab ya atau tidak saja! Beres ... kalau kau memang tidak menyukainya! Jadi apa masalahmu hingga tidak ingin terlibat apapun lagi dengan Dave?" jawab Zian menohok.
Kim terdiam, entahlah dia juga tidak tahu yang pasti hatinya berdebar debar saat Dave menatapnya, walaupun dia bersikap tenang dan juga diam seperti biasa, namun sesungguhnya dadanya bergerak lebih kencang saat Dave yang mengeringkan piring dengan terus menatapnya, dia juga tiba tiba seperti tersengat listrik saat jemarinya bersentuhan saat Dave mengambil piring dari tangannya. Terlebih juga wajahnya terasa lebih panas, walaupun dia memakai rangkaian skincare yang biasa dia pakai.
Zian memicingkan kedua matanya, memperhatikan Ayana hakim yang dia tahu tidak pernah melibatkan perasaan dalam setiap pekerjaan nya kini mulai terganggu karena seorang Dave.
"Dave memang selalu bisa mempesona setiap wanita yang melihatnya, walaupun hanya dari cara dia memandang, dia selalu begitu sejak dulu." gumam Zian tapi masih bisa didengar oleh Kim.
"Justru itu, aku tidak ingin terlibat apapun dengannya!"
Zian kembali tergelak, bukan hanya jawaban Kim namun juga penuturan Agnia yang ingin menjodohkan ayahnya dengan Kim. "Kau hanya takut jatuh cinta padanya Kim!"
Kim bangkit dari kursinya, dia menyimpan beberapa dokumen yang harus Zian tandatangani diatas meja kerja, "Pokoknya aku tidak ingin melakukan hal seperti itu lagi!"
Setelah mengucapkannya, Kim keluar dari ruangan kerja Zian.
Wanita itu menuju mini bar yang terletak di area belakang, mengambil wine putih dan menuangkannya kedalam gelas. Sementara Zian mengulum senyuman dengan mengetikkan sesuatu di ponselnya.
Sementara itu Agnia keluar dari kamar, dan mendapati ayahnya tengah duduk termenung.
"Daddy? Are you Ok?"
"I'm oke Nia!" ujarnya dengan mengelus punggung Agnia yang kini duduk disampingnya.
"Daddy sudah memikirkan hal ini dengan matang, Daddy juga sudah putuskan untuk menerima hubunganmu dan Zian."
Kedua mata Agnia membola sempurna, Bahkan hampir lepas dari tempatnya.
"Are you seriuse?"
Dave mengangguk, "Tidak ada alasan lagi untuk Daddy menolak nya Nia, asal kamu bahagia! Dan Daddy yakin Zian adalah orang yang tepat."
"Daddy...." Agnia memeluk sang ayah dengan erat.
"Daddy akan segera bicara dengan Zian."
Gadis itu mengangguk penuh bahagia.
Keesokan hari
__ADS_1
Wajah polos tanpa make up dan hanya liptint tipis menghiasi bibirnya yang berwarna merah muda, dengan rambut dicepol ke atas serta tas tersampir di punggungnya, Agnia bersiap siap pergi ke sekolah dengan di antar oleh Dave.
Dave sengaja bangun pagi dan sebelum pergi ke proyek usaha barunya, dia menyempatkan diri mengantar sang buah hati ke sekolah.
Agnia mengecup pipi Daddy nya itu saat hendak turun.
"Makasih Daddy! Nia senang banget hari ini bisa diantar Daddy."
"Sama sama sweetheart ...!" ujar Dave mencuil ujung hidungnya.
Setelah menatap Agnia yang masuk kedalam kawasan sekolah, Dave baru pergi dengan senyuman terukir di wajahnya, baru kali ini dia mengantar putrinya ke sekolah. Juga melihat sang putri begitu bahagia, hatinya pun ikut bahagia tiada tara, barulah setelah itu Dave kembali melaju.
Bukannya berjalan menuju kelas, Agnia justru berjalan ke arah ruang guru. Mencari sosok pria dengan ketampanan diatas rata rata, hingga tidak peduli didalam ternyata ada pak Sopian dan juga seorang guru wanita.
"Om ... sini!"
"Nia?"
Kedua gurunya menatap kearahnya dengan hersn, walaupun mereka tahu jika hubungan antara Zian dan Agnia adalah paman dan keluarga.
Sial ... gue lupa kalau ini ruang guru! Untung gue panggil Om, gak panggil ayang. batinnya dengan bibir yang di kulum.
Zian menghampiri gadisnya itu, dia juga kaget sendiri tiba tiba Agnia datang mencarinya, dengan wajah berseri seri.
"Ada apa sayang?" ucapnya setengah berbisik lalu terkekeh.
"Iiihhh ... Nia lupa kalau ini ruang guru!" ucapnya dengan mencubit lembut pinggangnya.
Zian menangkap jemari Agnia dan menggenggamnya, hingga keduanya saling menatap. "Masih pagi Nia!" Zian terkekeh lagi.
Gadis itu menepiskan tangan Zian, "Iihh ... nyebelin banget, padahal Nia bawa kabar bagus hari ini!"
"Benarkah? Apa itu?"
"Daddy bilang, dia sudah nerima kita dan akan bicara lagi sama Om!"
"Benarkah?"
Agnia mengangguk, mereka sama sama sudah merentangkan tangan hendak membuka, namun tersadar semua siswa dan beberapa guru berdatangan.
"Kita bicara lagi sepulang sekolah!" Ujar Zian mengacak rambut gadisnya.
__ADS_1
Agnia mengangguk, "Of course my sugar Daddy."