Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 104


__ADS_3

"Kenapa?"


Agnia terpaku ditempatnya, tubuhnya tiba-tiba lemas bagai tak bertulang, melihat dengan jelas tanda tangan dengan nama di bawahnya.


Ziandra Maheswara. Nama pria yang selama ini mengisi kekosongan dihatinya, dan memberinya segala kehangatan yang dia tidak dapatkan dari orang lain.


Kecewa? Sudah pasti, merasa selama ini dibohongi, Zian tidak pernah mengatakan apapun, bahkan dengan tingkat kepercayaan dirinya, dia mengatakan bukan pemilik Global globe, mengatakan padanya akan menghajar pria manapun diperusahan ini yang berani mendekati Agnia, padahal dia sendiri pemiliknya.


Ibu Wang tampak terdiam, lalu menutup bekas itu dan memasukkannya kembali ke dalam laci.


"Bu ... apa pemilik kantor ini bernama Ziandra?"


Ibu Wang terdiam, dia sudah bersumpah tidak akan mengatakan apapun pada Agnia mengenai hal ini.


"Ibu Wang?" Tanyanya lagi.


"Maaf Agnia, untuk hal itu, aku tidak bisa menjawabnya."


Dan saat itu juga, Agnia sadar, jika semua perlakuan yang dia dapatkan dari semua staff, posisi staff yang hanya wanita, bahkan perlakuan mereka yang terkesan berbeda, adalah campur tangan Zian, membuat selintingan yang dia dengar sampai terakhir pun itu karena dikaitkan dengannya.


Agnia bangkit dari duduknya, setelah menganggukkan kepalanya Agnia keluar dari ruangan itu. Dia ingin melihat dan memastikan sendiri, jika big bos yang mereka maksud adalah Zian yang dia kenal.


Hentakan sepatu yang beradu dengan lantai menjadi saksi jika Agnia tengah kesal, dan juga marah. Dia menekan tombol terbuka di pintu lift dengan keras, lalu mengayunkan kedua kakinya masuk kedalam.


Tak lama kemudian, Agnia keluar dari dinginnya kotak besi yang membawanya naik 2 lantai keatas, dia mengarah pada ruangan dimana sebelumnya dia mendengar suara bariton yang tengah berteriak marah tadi pagi.


"Jadi itu dia!! Gue gak salah ngira, kalau suara itu adalah suara Zian. Brengsekk!!" gumamnya dengan tangan mengepal.


Agnia melewati lorong panjang dan satu belokan untuk sampai di ruangan rapat, dengan merekatkan tangannya di tas selempang yang tersampir dibahunya, Agnia mengabaikan beberapa orang yang berpapasan dengannya, Mereka pasti baru saja keluar dari ruangan yang dituju Agnia, dengan harapan diruangan itu tersisa Zian atau bahkan Kim.


"Sekretaris Kim juga gak bilang apa-apa! Mereka sama saja." gumamnya lagi.

__ADS_1


Agnia mengambil nafas panjang saat dirinya berdiri didepan pintu masuk, lalu melangkah masuk, namun langkahnya terhenti saat pintu itu terlanjur terbuka, sosok pria dengan balutan jas lengkap berdiri didepannya.


Agnia terkesiap, mempersiapkan diri akan apa yang terjadi nanti, namun ternyata tidak berjalan sesuai harapan.


"Kau mencari siapa?" tanya pria itu.


Agnia mengenadahkan kepalanya, menatap pria dihadapannya ternyata bukan Zian.


"Semua orang sudah pergi!" ujarnya lagi.


"Aku mencari pemilik perusahaan ini!" ujarnya tegas.


"Untuk?"


Agnia merangsek masuk kedalam, dan pria itu tidak berbohong, Apa gue salah orang? Gak mungkin, jelas-jelas gue lihat namanya diberkas tadi, gue gak salah lihat.


Wakil CEO yang keluar paling terakhir itu mengernyitkan dahi, "Sudah tidak ada orang didalam!" ujarnya dengan meninggalkannya seorang diri.


Saat berjalan melewati lorong itulah dia melihat sekretaris Kim keluar dari satu ruangan, membuat Agnia terpaku ditempatnya saat itu juga, Kim yang melihatnya pun sontak kaget, lalu bergegas menghampirinya.


"Nia?"


"Mana dia?"


"Lebih baik kita pergi dari sini Nia!" ucap Kim menarik bahunya lembut.


Agnia menepiskan tangannya dengan cepat, "Aku tanya dimana dia? Apa dia diruangan itu?"


"Tidak ada ...! Aku bisa menjelaskannya, kita pergi dulu ya!" sekali lagi Kim mengajaknya pergi dari sana.


Namun bukan Agnia namanya jika dia akan menurut begitu saja. Dia berjalan dengan cepat keruangan dimana Kim baru saja keluar, ruangan bertuliskan ruangan Direktur utama itu.

__ADS_1


Pintunya yang tidak tertutup sempurna membuatnya terpaku, dan langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang dia pikir akan memberikan kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan itu tengah berada dipelukan seorang wanita, dan wanita itu adalah wanita yang tadi pagi dia lihat keluar dari ruangan Ibu Wang. Anindita.


Ada apa ini? Semuanya gak bisa gue pahami, apa yang terjadi.


Agnia melihat Tangan Dita terulur diwajah Zian, mengelusnya lembut kemudian dengan lembut pula dia mengecup bibir Zian, sementara satu tangannya melingkari pinggangnya.


Bak langit runtuh saat itu juga menimpa dirinya, Agnia membisu, kemarahan dan kekesalannya seolah hilang begitu saja, niatnya untuk menemui Zian dengan sejuta kata-kata umpatan tak lagi berguna, yang ada dirinya justru bak patung yang tak mampu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Muak, sangat muak melihat apa yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri, hingga tak lagi mampu berkata-kata, jangankan marah, emosinya tak lagi dapat dibendung saking muaknya. Dia hanya ingin segera pergi, berlari sampai semua orang tidak bisa menyakitinya seperti ini.


Agnia tersentak saat sebuah tangan menyentuh bahunya, menariknya lembut, membuat tubuh Agnia lunglai begitu saja, mengikuti arah kemana Kim membawanya.


Langkah Kim terhenti, "Aku bisa menjelaskan apa yang kau ingin tahu Nia!" ujarnya.


"Tidak perlu sekretaris Kim! Aku sudah melihatnya sendiri."


Agnia baru sadar, dan dia terdiam, Sekertaris Kim kembali membawanya namun Agnia hanya diam.


"Lepaskan!" sekertaris Kim terhenyak, Agnia berjalan melewatinya begitu saja. Lalu berlari sekuat dia, masuk kedalam lift yang tengah terbuka, dengan menatap sekretaris Kim yang mengejarnya.


Agnia keluar dari perusahaan itu, tidak sedikitpun dia mengeluarkan air mata, dia hanya berlari dan terus berlari, hingga dirinya lelah sendiri.


Gadis itu mematahkan kedua hak dari high hillnya dan kembali berlari sejauh mungkin, ponselnya berdering, namun dia tidak berniat melihatnya, dia terus berlari, ingin menjauh dari orang-orang yang tidak pernah tulus padanya, dia baru berhenti saat larinya mulai terseok, dengan nafas terengah-engah yang dirasakannya, dia berhenti di sebuah jembatan, dengan sungai besar dibawahnya.


"Kenapa semua orang jahat! Tidak ada satupun dari mereka yang tulus menerima gue, gak kedua orang tua gue, dan sekarang lelaki yang gue kira jadi sandaran gue!" gumam Agnia.


Kedua mata Agnia mulai menghangat, dengan bulir yang menitik tanpa terasa, Agnia mencoba menyusutnya perlahan, namun bukannya berhenti, bulir itu malah semakin deras.


Air sungai yang deras dengan batu-batu besar didalamnya lebih menarik dibandingkan panggilan telepon yang terus saja berbunyi nyaring didalam tas.


"Lo bodoh Nia! Lo orang paling bodoh!" umpatnya pada diri sendiri.


Ponsel yang terus menjerit itu tak membuat dirinya ingin melihatnya, apalagi ingin tahu siapa yang menghubunginya, tidak sudah tidak peduli lagi, kedua tangannya mencengkram besi pembatas jembatan dengan tatapan lurus kearah sungai.

__ADS_1


"Meskipun gue mati, gak akan ada yang peduli!"


__ADS_2