
Regi terhenyak serta memejamkan matanya saat mendengar ucapan Agnia yang tengah meracau, sebab dia tahu, ucapan seseorang yang tengah mabuk biasanya adalah apa yang dia rasa dalam hatinya dengan jujur.
"Ya Gi! Lo jahat Regi, gue ... gue kan masih pengen temenan sama lo! Lo temen baik gue, forever." Tangan Agnia merentang ke udara hingga Regi hampir jatuh, namun Regi sekuat tenaga menahannya.
"Diem dulu Nia lo mau jatoh!" desisnya dengan terus memperhatikan wajah Agnia yang kini mengenadah, hingga Regi bisa melihat leher bagian depannya yang putih.
Sebagai pria namun tanggung, tentu saja Regi tergoda. Berkali kali menelan saliva dengan dada yang berdebar debar,
Akhirnya mereka sampai di toilet, namun sayang semua pintu toilet tertutup, Nita dan juga Cecilia melangkah masuk lebih dulu, mereka sampai harus menggedor satu persatu supaya ada salah satunya cepat keluar.
"Woi cepet woi ... gantian!"
Regi menurunkan tubuh Agnia walau limbung, hingga di memegangi kedua bahunya sambil menunggu salah satu pintu toilet terbuka.
Agnia menusuk nusuk lengannya, "Eeh ... Gi! Lo kenapa ada disini? Ini kan toilet cewek!" Ucapnya dengan terbahak.
"Rese banget si Nia ... aduuuhh, mana lama banget lagi nih! Pada ngapain sih mereka!" Nita mendumel sendiri, "Atau udah lah guyur di wastafel aja gimana?"
"Nyampe setaun Nit kita ngumpulin air diwatfel kecil begini!" Seru Cecilia saat membuka kran air di wastafel.
Agnia masih tertawa, dia melingkarkan satu tangannya pada bahu Regi, dengan kepala bersandar. "Jangan ngejauhin gue Gi!"
Regi memejamkan matanya saat itu, permintaan yang sangat berat buat nya, karena dengan begitu hatinya akan selalu sakit.
Agnia mengenadahkan kepalanya, hingga mereka bertatapan sangat dekat, nafas hangat keduanya saling berhembus satu sama lain, dengan dada Regi yang semakin berdebar dan aliran darahnya berpacu.
Namun tanpa di duga, Agnia menarik sedikit kepala Regi dan melummat bibirnya, Regi tersentak dengan apa yang dilakukan olehnya, dia ingin menolak dan mendorongnya, namun hatinya mengatakan jangan, otaknya pun seakan membeku seketika, dan tubuhnya tentu saja membatu.
Agnia terus melummat dengan lembut, kedua tanganya mengerat di sela leher Regi, efek mabuk membuat tindakan impulsifnya keluar. Hingga akhirnya Regi pun membalasnya dengan memejamkan mata. Mengambil kesempatan yang tidak akan pernah datang dua kali dalam hidupnya, karena setelah ini, dia kan melangkah pergi.
Cecilia terperangah dengan mulut mengangga, begitu juga dengan Nita yang menutup mulutnya tidak percaya, mereka saling menatap lalu kembali melihat adegan dihadapannya.
__ADS_1
"Mampus! Si Regi kalau Zian tahu." gumam Cecilia dengan berdiri terpaku.
Nita berdecak, "Orang si Nia yang gila, dia yang duluan!"
Cecilia melangkah untuk menghentikannya, namun tangannya dicekal oleh Nita, "Biarin dulu Ce, biar gak terlalu kasian sama Regi!"
"Konyol lo dia istri orang!"
"Memangnya kenapa kalau istri orang! Kita. juga serimg ngelakuinnya sama suami orang!" Udah deh Ce sekali ini doang, biar jadi kenangan manis buat Regi!"
Agnia melepaskan tautan bibirnya, dia kemudian memeluk Regi dengan menyandarkan kepalanya. Tanpa kata tanpa bicara, hanya setitik air mata yang lolos begitu saja dari pelupuk matanya, Regi pun melakukan hal yang sama, dia memeluk Agnia dengan erat.
"Setelah ini jangan lakukan pada pria lain Nia, jadilah istri yang baik untuk suami lo! Gue tetap akan pergi untuk nyembuhin hati gue yang sakit lo jaga diri baik baik ya."
Tidak ada jawaban dari Agnia, namun tangannya merekat lebih erat.
Salah satu pintu toilet terbuka, dua orang wanita keluar dari sana, melihat ke arah mereka kemudian berlalu. Cecilia dan Nita saling pandang lagi, Nita memapah Agnia masuk kedalam bilik toilet sementara Regi menunggu.
Regi masih terdiam, itu memang kesalahan, tapi entah kenapa dia juga merubah menjadi bodoh seketika.
"Kalau Zian tahu gimana? Lo bisa mati Gi! Gila lo!"
"Lo gak akan pernah ngerti perasaan gue Ce, lo juga gak bakal paham kalau jadi gue!"
Setelah mengatakan hal itu Regi keluar dari sana, dengan kepala tertunduk lesu serta hati yang sakit. Bukan dia tidak ingin menolaknya, tapi perasaan yang selama ini dia simpan hanya untuk Agnia, dan harapan tentang mereka berdua dimasa depan yang kini telah sirna menjadi penyebab nya.
Biarkanlah jadi kesalahan terindah gue, mereka gak akan pernah paham, hanya gue yang tahu rasanya. Walaupun gue gak tahu maksud Nia ngelakuin hal itu, atau bahkan dia ngerasa ngelakuin itu pada Zian, gue gak peduli. Regi membatin, dengan terus melangkah kembali ke room dimana dia dan teman temannya berada.
Agnia benar benar diguyur, namun efek minumannya tidak menghilang begitu saja. "Gimana nih Ce!"
"Udah lah hubungi Zian aja!"
__ADS_1
"Jangan! Jangan ... Jangan hubungi suami gue dong! Besok pagi kita udah ujian, kita masih ada waktu malam ini!" Agnia menarik tangan Cecilia dan melihat jam tangan yang dikenakannya. "Masih jam Empat!"
"Bego juga!! Yamg dia lihat jarum panjangnya, bukan jarum pendek ... Udahlah hubungin aja suaminya."
"Huum ... suruh dia kemari dan jemput gue!" Agnia menyandarkan kepalanya di dinding toilet, "Kepala gue pusing banget deh Ce."
Cecilia berdecak, Agnia benar benar meracau kemana mana, mungkin dia juga tidak ingat apa yang telah dia lakukan pada Regi.
Akhirnya Nita menghubungi Zian, mengatakan hal sebenar benarnya walaupun dirinya sendiri takut.
Sementara Regi kembali masuk dengan wajah lesu, dia langsung membantingkan tubuhnya disofa, menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan tangan memijat keningnya serta kedua mata terpejam.
"Lo kenapa? Pusing?" tanya Aris yang tengah melihat temannya yang lain bernyanyi dengan di temani seorang gadis cantik yang bekerja sebagai pemandu lagu di karaoke itu.
Regi terdiam, dia tidak ingin menjawab pertanyaan yang sangat tidak penting itu.
"Minum nih!" Aris menyerahkan botol berwarna hitam padanya.
Regi menggelengkan kepalanya, dia lantas mencondongkan tubuhnya dan mengambil minuman miliknya sendiri. "Gue balik duluan yaa."
"Ya elah ... masih siang ini!"
"Siang pala lo! Gue pusing tahu gak lo!"
"Kenapa sih, gara gara cewe tadi kan? Lo gak bisa move on abis di tolak? Elah ... cewek banyak kali bro, santai aja! Mungpung kita juga. masih off part time, lo gak denger tadi pak Roy udah mau ambil sample lagu kita. Ini harus dirayakan ya gak bro!" ujarnya pads temannya yang kembali duduk setelah bernyanyi.
"Kenapa lo Gi?"
"Sakit hati Gam! Abis ditolak!" Sahut Aris, sementara Regi berdecak.
"Bacot lo!!"
__ADS_1