
Apa pernah mencintai seseorang dalam diam, atau baru sadar kita merasakan cinta ketika orang itu sudah menemukan tempat berlabuhnya? Atau bahkan baru sadar jika perasaan yang dimiliki selama ini adalah cinta?
Itulah Ayana Hakim. Hidup sebatang kara sejak kecil, dan baru merasakan kasih sayang keluarga saat dirinya diasuh Mahesa, kakek Zian. Hidup bersama sejak kecil membuat mereka saling menyayangi, saling melindungi terlebih ucapan Mahesa yang selalu menjadi acuan dalam hidup Kim.
Lantas, kenapa Kim baru sadar sekarang jika dia memiliki perasaan cinta untuk Zian justru saat Zian memiliki Agnia. Kenapa tidak dari dulu saat sebelum Zian menikah.
Sikap Zian memang selalu baik pada wanita, terlebih pada teman kencannya, ataupun pada Dita sekalipun, sejak dulu hingga terakhir, sikap Kim juga tidak pernah ramah pada mereka, dia akan selalu menyelidiki teman kencan Zian tanpa sepengetahuan Zian, itu juga dia lakukan pada Dita. Namun tidak pernah sekalipun Kim mengatakan semua hal buruk mengenai Dita, semata mata karena Zian tidak akan pernah mendengarkan, telinganya seakan tuli jika dia sedang jatuh cinta, dan Kim sudah tahu itu.
Namun saat bertemu Agnia, Kim merasakan hal yang berbeda, gadis kecil itu mampu membuat Zian melupakan Dita, dialah yang membuat Zian bangkit dari terpurukannya oleh perbuatan Dita. Itu semua semata mata karena Agnia, namun saat itu jugalah hari terburuk dalam hidupnya. Zian sangat bergantung padanya mengenai apapun, namun saat terpuruk itulah, hanya Agnia lah yang mampu menyembuhkannya, dan saat itu dia baru sadar jika dia memiliki perasaan cinta padanya.
Kepulan asap dari secangkir kopi tidak merubah pandangan kosong Kim, dengan tatapan ke arah luar dimana saat itu gemericik hujan turun. Membuat kaca jendela yang dia pandangi berembun.
Kim sendirian di kafe yang tidak terlalu ramai itu, entah kenapa dia suka kesunyian, juga ketenangan. Suasana yang menurutnya sangat nyaman, karena disaat sepi itulah Kim baru bisa memikirkan dirinya sendiri.
Perjalanan hidupnya yang tidak mudah, proses yang dia lalui hingga bisa seperti sekarang, dan tentu saja Zian.
Bagaimana dia merasa jika perasaan yang dia miliki saat ini adalah sebuah kesalahan, seperti sesuatu yang haram dilakukan, itu semua karena janjinya pada Mahesa.
Hingga sebuah tangan kekar menyentuh bahunya, namun secepat kilat dia memutarkan tangan itu lalu mendorongnya hingga pemilik tangan tersungkur. Sebuah gerakan refleks yang dia miliki sebagai wanita juga sebagai pertahanan diri.
Kedua matanya terbelalak saat melihat orang yang tersungkur di lantai itu ternyata Dave. Pria yang dia kira dari dulu hanyalah seorang pecundang, namun sekarang dia lah pemegang rahasia hidupnya.
"Astaga Kim ... kau hampir membunuhku! Kuat sekali tenagamu itu," Tukas Dave dengan bangkit, lalu menepuk pantatnya yang dia rasa kotor.
"Maafkan aku Dave! Itu refleks saja. Aku tidak tahu kau datang kemari." Kim kembali duduk di tempatnya, diikuti oleh Dave yang duduk di dihadapannya.
"Mobilku mogok disana! Dan saat aku melihat ke arah sini, aku tidak sengaja melihatmu." Tangan Dave menunjuk sebuah mobil diseberang jalan, yang nyatanya walaupun sedari tadi Kim menatap jalanan, dia tidak melihat.
"Oh!!"
Dave menatapnya lagi, "Oh? That it's? Oh my God...! Kau tidak mengatakan apapun lagi selain oh...?"
"Kau mau aku bicara apa Dave?"
__ADS_1
Kedua manik Dave memicing kearahnya, dengan kedua tangan yang dia rekatkan lalu kemudian dia topangkan di dagunya.
"Sepertinya kau sangat menderita Kim? Kenapa? Apa ada hubungannya dengan Zian?"
"Bukan urusanmu Dave!"
"Ayolah Kim ... kita ini teman bukan? Meskipun kita pernah tanpa sengaja___" Dave menaik turunkan kedua alis tebalnya lalu memajukan bibirnya sedikit ke depan.
"Kau brengsekk Dave! Sudah aku katakan pada mu, itu tidak sengaja!"
Dave tergelak, dengan terus menatap Kim yang tengah salah tingkah, "Kau serius sekali Kim!"
Wanita bermata tajam itu hanya mendengus kesal, dia sudah banyak fikiran malah justru bertambah saat Dave datang.
"Aku harus pergi!" Kim beranjak dari duduknya, mengeluarkan dompet untuk membayar tagihan.
Sementara Dave mencekal pergelangan tangannya, "Ayolah Kim ... tidak perlu serius begitu! Kopiku saja belum tiba, aho temani aku minum kopi."
"Ayolah Kim ... sebentar saja! Please."
Kim menghela nafasnya panjang, namun dia kembali duduk di tempatnya, "Oke ... tapi jaga bicaramu! Jangan pernah katakan hal itu lagi!"
"Ok Kim deal ...!" jawab Dave dengan cepat,
Setelah menunggu beberapa saat Kopi pesanan Dave tiba, dia membicarakan banyak hal tidak penting hanya sama sekali tidak dijawab Kim.
"Dave ... berhentilah bicara! Kau membuatku sakit kepala." Tukas Kim dengan sengit.
"Baiklah kalau begitu, kau yang bercerita, ceritakan tentang rencana mu ke depannya!"
"Kim menyorotinya dengan tajam, "Aku akan pergi untuk beberapa waktu, sampai hati ku bisa benar benar pulih."
Dave mengangguk anggukan kepalanya pelan, "Apa kau hatimu sesakit itu? Sampai kau harus pergi!"
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin sampai aku berbuat yang tidak tidak dan tidak bisa mengontrol diriku." Jawab Kim dengan kembali menyeruput kopi miliknya.
"Kapan kau pergi?"
"Kenapa?"
"Aku hanya ingin tahu! Siapa tahu aku punya rencana ke tempat lain, dan ternyata tujuan kita sama." Dave tergelak, "Dua orang yang sama sama sakit hati!" ujarnya lagi dengan tangan mengudara.
Kim berdecih, dengan tangan yang kini memutar mutar gelas kopi miliknya, "Kita berbeda Dave ... kau berkali kali jatuh cinta dan baru sekarang mendapatkan balasannya,"
Dave kembali tergelak, "Penilaianmu padaku benar benar buruk sekali Kim...!"
"Tentu saja! Bagiku kau tidak ada bagus bagusnya!" Kim mengulas senyuman, "Dan kau juga masih belum berubah sepenuhnya!"
"Hei ... jangan gegabah Kim! Kau tidak tahu aku sudah berubah saat ini!"
Kim ikut tergelak, "Benarkah ... tapi Nia meragukanmu, kau pergi semalaman dengan siapa kalau begitu?"
Deg
Dave mengernyit, "Apa putriku menceritakan semua padamu?"
Wanita berusia 37 tahun itu menggelengkan kepalanya, "Tidak ... tapi dia menganggap kau pergi dengan ku semalaman, dia fikir kita berkencan." Terangnya dengan mendengus.
Dave menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sembari terkekeh, "Tapi kau tidak mau berkencan denganku Kim!"
"Jangan bercanda Dave!! Tentu saja aku tidak mau ...!"
"Aku pergi dengan seorang gadis Kim, aku hendak menolongnya namun dia membuatku gila! Untung saja aku sudah berubah, kalau tidak aku sudah melahapnya sampai habis!" Ujarnya menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap.
Kim mengernyitkan kedua alisnya, "Seorang gadis?"
"Hm ... teman sekolah Nia, aku menemukannya di klub malam dengan seorang pria hidung belang dalam keadaan mabuk parah! Karena aku mengenalnya, maka aku membawanya dan aku antar dia pulang! Tapi dia menyerangku di mobil!"
__ADS_1