
Uhuk
Agnia tersedak saat Zian menanyai tentang dokter Sam padanya. Papa nya Serly yang sempat dia kerjai bersama Cecilia dan juga Nita. Jika Zian tahu, entah bagaimana reaksinya. Terlebih ada Ayah dan ibunya juga sekretaris Kim.
"Zian ... kau ini membuat putriku tersedak!" seru Dave yang duduk dengan memukul bahunya keras.
Zian yang tengah memberikan segelas minuman pada Agnia itu mendelik kearahnya. "Diam saja! Tidak perlu ikut campur."
"Dave ... sudahlah!" cegah Kim dengan menarik tangan Dave agar tidak terus memukul Zian.
Laras melihat ke arahnya, walaupun dia sempat berharap kembali pada Dave, tapi semua tidak akan membuat keadaan berubah. Dan saat melihat keakraban Dave bersama wanita disampingnya, dia semakin yakin jika mereka tidak bisa kembali bersama. Dia pun mengulas senyuman. Kebahagian dengan berkumpulnya kembali keluarga yang sempat berantakan tidak harus kembali pada Dave bukan. Fikirnya.
"Sayang ... kau tidak apa apa kan?" tanyanya saat putrinya sudah kembali menyuap makanan.
"Enggak kok! Hanya tersedak biasa aja karena buru buru."
"Memangnya kau mau kemana baby?" ujar Zian menimpali, dia masih tidak mengerti jika Agnia tersedak karena pertanyaannya.
Agnia terkekeh, "Enggak kok ... Nia hanya ... hanya terlalu senang karena kita berkumpul kayak gini! Lengkap ...."
"Kalau begitu ... kita akan setiap hari kemari? Gimana?" Dave menoleh pada Kim juga Laras.
"Tidak boleh ... maksudnya kenapa mesti setiap hari! Kau hanya akan mengganggu aku saja!" sela Zian dengan mendengus ke arah Dave.
Dave menyuapkan makanan disendoknya dengan santai, "Dasar menantu kurang ajar, orang lain itu akan senang dikunjungi mertua, kau malah sebaliknya."
"Dave ... Zian ... kembali makan! Jangan terus ribut seperti anak anak, kalian bukan lagi anak anak, tapi sudah dewasa dan jadi orang tua!" Tegas Kim dengan menyoroti keduanya bergantian.
"Kau dengar itu Dave? Calon ibu mertuaku sudah bicara! Kau harus mendengarnya kalau tidak dia akan marah!"
Laras terbelalak mendengarnya, hingga sendok yang tengah dia pegang pun terjatuh dan berdenting mengenai piring, benar dugaannya mengenai kedekatan mereka.
"Maaf ... aku tidak sengaja menjatuhkan sendokku." ujarnya pelan.
Suasana berubah menjadi lebih hening, Dave melirik Laras yang terlihat menjadi tidak nyaman setelah Zian mengatakan hal itu. Dia memang tidak mengatakan apapun pada Laras mengenai kedekatan dirinya saat ini bersama Kim.
Hingga acara makan malam itu berakhir, Dave maupun Laras tidak ada yang mencoba bertanya apalagi menjelaskan. Melihat gelagat Laras, Zian pun menarik lengan Agnia.
"Sepertinya ibumu tidak tahu jika Dave berkencan dengan Kim! Apa ibumu masih berharap padanya?" tanya Zian saat Dave juatru mengikuti Kim yang masuk ke dalam ruangan kerja Zian untuk mengambil berkas.
"Gak sih kayaknya! Emangnya Om mau balik lagi sama Dita pas udah tahu dia udah berkali kali nyakitin? Kalau Nia sih ogah." herdik Agnia.
__ADS_1
Zian merengkuh pinggangnya hingga tubuhnya menjadi lebih dekat, "Memangnya kamu rela Superman mu ini memilih wanita lain?"
Agnia menjumput hidung Zian, "Jangan sembarangan bicara ya ...!"
"Itu artinya kamu tidak rela kan?" kekeh Zian.
"Iih masih nanya juga!"
Zian semakin merekatkan rengkuhan di pinggangnya, dia terus tertawa bahagia dengan sesekali mendaratkan kecupan.
"Iih apaan gak jelas banget!"
"Enggak aku hanya merasa bahagia!" Zian kembali mengecup bahunya. Namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah serius, "Tapi kamu belum jawab pertanyaanku."
Agnia mengerjapkan kedua matanya, dan mengurai pelukannya "Pertanyaan yang mana ya?"
"Baby?"
Agnia mengayunkan langkahnya ke arah kolam renang, dan Zian tentu saja mengikutinya.
Kalau om Zian tahu kayak waktu aku dibonceng Regi, dia justru akan diam saja. Tapi sekarang Zian kayaknya emang gak tahu. Makanya terus nanya. Gumam Agnia sambil berjalan.
Agnia menelan salivanya, dia sepertinya memang harus bicara jujur walaupun dia sendiri sebenarnya takut jika Zian akan marah.
Agnia berbalik dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zian, dengan kepala yang menengadah kearahnya, "Tapi hubby janji gak marah?"
Zian mengernyit, "Katakan saja!"
"Janji dulu jangan marah,"
"Iya aku janji tidak marah asal kan kamu jujur."
Lamat lamat Agnia mengangguk kecil, "Dokter Sam itu papanya Serly."
"Ooh papa nya Serly!"
"Jadi waktu itu Nia pernah sengaja ke rumah sakit un---untuk ...." Ujarnya dengan takut takut.
"Untuk?"
"Untuk ngerjain balik Serly, karena dia---dia!"
__ADS_1
Belum selesai bicara Zian sudah terlihat membulatkan kedua matanya. Dengan melepaskan kedua tangan Agnia yang melingkari pinggangnya.
"Jangan bilang kamu berbuat hal hal yang mempersulit dirimu sendiri Nia? Apa karena Serly yang sering ganggu kamu. Aku sudah pernah bilang, jangan lakukan hal hal konyol yang membuatmu terlibat masalah Nia. Astaga! Aku tidak tahu lagi harus berkata apa ... Kenapa kau selalu nekat! Hem ...?"
"Tapi kalau gak kayak gitu Serly terus bakal nyari tahu tentang hubungan kita."
"Aku sudah bilang! Biar saja mereka tahu baby! Toh memang kita sudah menikah. Bahkan aku sudah memberi tahu pihak sekolah tentang hal itu!"
Agnia tersentak, kedua pupilnya melebar sempurna, "Pihak sekolah udah tahu?"
Zian mengangguk, "Aku sudah menjelaskan semuanya. Dan mereka tidak ada masalah selagi itu tidak mengganggu prestasimu."
"Itu sebabnya rumor itu gak di usut lagi, laporan Serly ilang gitu aja?"
Zian kembali mengangguk, "Jadi kamu tidak perlu melakukan hal hal konyol seperti itu lagi! Kau paham? Aku tidak ingin mendengar hal seperti ini lagi. Terlebih saat ini kau sedang hamil. Kau dengar Agnia?"
Saat Zian memanggil namanya seperti itu, dia tahu Zian tengah kesal dan marah. Namun dia juga melakukannya hanya untuk memberi pelajaran pada Serly. Agar dia sadar dan berhenti mengganggunya. Tapi jika Zian sudah menjelaskan pihak sekolah, lalu untuk apa lagi dia melakukan kekonyolan itu.
"Agnia ... kau dengar aku?"
"Ya aku dengar, sangat jelas bahkan. Tapi aku tidak salah salah amat, kau harusnya bilang padaku kalau sudah menjelaskan semuanya ke pihak sekolah. Aku melakukan hal itu justru karena tidak ingin pihak sekolah tahu! Agar Serly berhenti laporin hubungan kita ke sekolah." Ujar Agnia dengan suara yang lebih tinggi satu oktav dari sebelumnya. "Kalau mereka udah tahu ... terus apa yang aku lakuin juga gak guna!" Agnia menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Kenapa jadi kamu yang marah?"
"Tau ahk ... nyebelin banget!" Agnia kembali membalikkan tubuhnya dan membelakangi Zian.
"Baby ...?"
"Aku kesel ... kenapa kau tidak katakan padaku? Jadinya kan aku gak usah capek capek akting nangis, pura pura hamil segala." Agnia mengacak rambutnya sendiri saking kesalnya pada Zian.
"Baby ...!"
"Udah ah ... Nia males!" ujarnya beranjak pergi,
Zian menarik lengannya, "Oke oke ... aku minta maaf! Please jangan marah lagi ya. Oke baby."
.
.
Ih kenapa jadi Om yang minta maaf yaak wkwkwkw... si Nia nih cari gara gara aja. Ayo dong like dan komennya yang banyak. Masa jadi makin dikit ah ...
__ADS_1