Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 34


__ADS_3

"Biar aku yang keluar!"


Zian mengambil payung dari tangan sekretaris Kim, lalu dia keluar dari mobil.


Zian berjalan mendekat ke arah Agnia yang terpaku ditempatnya dengan basah kuyup. Agnia mendongkak, melihat sosok pria yang memayunginya.


Om Zian


"... Lo kemari mau apa? Mau nambahin kacau hidup gue?"


Zian menatap nanar gadis kecil yang berantakan dihadapannya. Rambut kelimis yang basah, serta pakaian yang basah dan kotor.


"Ayo ikut pulang denganku!"


Agnia menggelengkan kepalanya, "Gue gak mau!"


"Kamu bisa sakit Nia! Ayo...."


"Lo hanya akan nambah hidup gue tambah berantakan!" Agnia berlari.


Dalam derasnya hujan dia menyeberang begitu saja hingga dia tidak melihat laju motor yang bergerak cepat, Zian melihatnya dan langsung mengejar, bahkan melemparkan payung yang dia pegang, kemudian menarik tangannya dengan cepat.


"Kau mau mati! Hampir saja tertabrak motor!" ujarnya dengan merengkuh bahu Agnia yang basah.


Agnia menangis tersedu, "Iya ... gue mau mati aja! Semua orang jah--."


Tubuh Agnia lunglai seketika dan tak sadarkan diri di dekapan Zian. "Hei ... Agnia?"


Zian langsung membawa Agnia masuk ke dalam mobil, dan segera menyuruh Kim untuk pergi ke rumah sakit.


Apa yang terjadi denganmu? Wajah penuh luka dan tidak karuan begini. Apa kau mengalami kekerasan, saat bersama klien mu?


"Kim cepat, kita ke rumah sakit saja! Wajahnya penuh luka."


Sekeretaris Kim menatapnya dari spion tengah pada mobilnya dan segera mempercepat laju kendaraannya.


Tak lama kemudian, mobil mereka sampai didepan sebuah rumah sakit, Zian menggendong Agnia keluar dari mobil, begiyu pula dengan Kim yang langsung berhambur. masuk mencari pertolongan.


"Dokter ... suster tolong! Keponakan saya!" Teriak Kim,


Seorang suster mendorong blankar dan menyuruh Zian membaringkan tubuh Agnia.


"Silahkan mengurus administrasinya terlebih dahulu." ucapnya pada Zian.


Pria yang tengah bingung itu pun mengangguk, dia tidak pernah merasa secemas ini sebelumnya.


"Biar aku saja, kau tunggu di dalam, siapa tahu Agnia sadar dan mencari kita!" Ujar Kim.


Seorang perawat yang masih menunggu itu pun kembali menghampiri, "Mari ikut saya...."

__ADS_1


Kim akhirnya mengikuti perawat itu dan Zian menunggu di balik pintu IGD.


Hingga tak lama kemudian, seorang wanita berjubah putih keluar dari ruangan IGD.


"Dokter, bagaimana keadaannya?"


"Dia tidak apa-apa, hanya mengalami shock, dan kelelahan, sepertinya perutnya kosong, dia juga demam tinggi!" jawab dokter itu.


"Bagaimana dengan luka-luka di wajahnya?"


"Tidak serius, hanya luka robek dan lebam sepertinya bekas pukulan dan cakaran kuku! Atau Kalau mau lebih lanjut, kita bisa lakukan medical checkup."


"Baik ... dok, apa boleh aku melihatnya?"


"Silahkan, dia belum sadar! Kalau begitu saya permisi." sambung dokter itu kembali.


Zian masuk ke dalam ruangan, terdapat beberapa ranjang pemeriksaan, yang hanya dibatasi oleh bentangan gorden berwarna khas rumah sakit. Dia mengedarkan mata mencari gadis kecil yang sudah membuatnya cemas.


"Nia?" ucapnya membuka gorden penutup, namun ternyata bukan sosok yang dia cari.


Hingga dia menangkap sosok yang tengah menangis lirih dengan mata terpejam.


"Agnia!!" gumamnya dan langsung mendekatinya.


Sosok gadis yang kerap menimpal saat mereka berdebat, bahkan melawan dan juga tidak takut padanya itu kini terbaring lemah, dengan jarum infus di pergelangan tangannya, pakaian basahnya pun telah berganti dengan pakaian dari rumah sakit.


Gumaman demi gumaman terdengar dari mulut kecilnya, dengan masih ter isak tangis. Zian menarik kursi dan duduk disampingnya, menatap raut wajah yang memperlihatkan kesedihan.


"Daddy ... daddy!!" lirihnya pelan.


Zian tersentak, Sempat-sempatnya nih anak memanggil sugar daddy-nya saat sakit seperti ini.


"Daddy ... Mami!"


Zian mengernyitkan dahinya, melihat Agnia terus memanggil dua nama itu, dengan terpejam.


Zian menyentuh dahinya yang masih demam, kemudian melihat seorang perawat yang datang dan menyuntikkan sesuatu di tabung infusnya.


"Memang demamnya belum turun, dan ini obat untuk demamnya, jika sudah sadar, pasien sudah boleh pulang!"


"Jalur infus ini hanya dipakai untuk jalan obat dan mengganti cairan tubuhnya, nanti di setelah pulang, pasien harus banyak makan, dan di usahakan jangan telat makan, karena ada riwayat penyakit lambung." jelas perawat itu dengan panjang lebar.


Zian hanya mengangguk-anggukan kepalanya, dan kembali menatap Agnia, luka kecil di sudut bibir dan juga pelipis, dan bekas cakaran kuku di kedua pipinya.


"Siapa yang melakukan ini padamu Nia?"


.


Perlahan Agnia membuka matanya, menatap langit-langit ruangan dan sosok pria di sampingnya. Daddy

__ADS_1


Sekali, Agnia mengerjapkan mata, pandangannya masih terlihat mengabur, dia kembali mengerjapkan kedua matanya, dan sosok disampingnya itu semakin jelas.


"Om Zian?"


"Kamu sudah sadar?"


"Nia ada di mana? Nia mau ketemu Daddy ... dan juga Mami! Nia ... Nia mau bilang, Nia gak kuat lagi! Nia mau mati aja!" ujarnya dengan terisak kembali.


Zian mencondongkan kepalanya, tangannya terulur menyapu air bening di matanya. "Sudah jangan menangis, kau harus istirahat dulu!"


"Kenapa Om mau nolongin Nia? Kenapa Om gak biarin Nia dijalanan aja!" isaknya.


"Kamu ngomong apa? Sudah, lebih baik kamu istirahat, kita bicarakan nanti ya!"


"Sekarang Kim sedang mengurus administrasinya, kau ikut pulang denganku ya!"


Agnia tertegun menatap pria dewasa di sampingnya, Zian kembali menyentuh dahinya, dan membuat Agnia mengerjapkan mata.


"Demammu sudah turun!" ucap Zian dengan lengkungan di bibirnya.


Melihat Agnia yang menatapnya curiga, Zian kembali mencondongkan kepalanya, "Kamu tenang saja, aku hanya ingin membantu, dan kita punya perjanjian yang belum selesai bukan?"


Agnia menatapnya dengan datar, Mungkin sementara ini ada baiknya gue emang tinggal di rumah om Zian, dia juga tidak berani macam-macam, sampai luka diwajahku pulih. Dan aku akan membalas mereka. Tentang perjanjian, ahk lupakan.


Dengan sadar Agnia mengangguk pelan, dan Zian yang melihatnya menyunggingkan bibirnya. sementara Kim baru saja tiba, dia tersenyum ke arah Nia.


"Hai Nia ... what do you Feel now?


"I'm good!" ucap Agnia.


Sekertaris Kim pun mengangguk, "Good Girl." Lalu mendekat ke arah Zian, "Bisa kita bicara diluar?"


.


.


Kim menyerahkan selembar kertas yang dia temukan ditas milik Agnia, dan ponsel berisi video perundungan terhadapnya yang terjadi disekolah.


"Ada kemungkinan ini penyebabnya." ujar Kim dengan mendaratkan bokongnya di kursi tunggu.


Zian mengikuti disampingnya, "Benarkah? Apa. hanya karena foto ini, dia jadi seperti ini?"


Kim mengeluarkan Kartu identitas yang juga dia temukan disana. "Aku temukan ini juga!"


Zian mengernyit melihat kartu identitas dan mengambilnya dari tangan Kim.


"Apa ini sugar Daddy Agnia?"


Sekretaris Kim menghela nafas, "Kau masih berfikir dia gadis seperti itu?"

__ADS_1


"Buktinya ini?" ujarnya dengan mengembalikan kartu itu ke tanagan Kim.


"Aku akan mencari tahunya lagi! Dan aku yakin dia bukan gadis yang kau fikirkan Zian!"


__ADS_2