
Agnia benar benar serius dengan ucapannya, dia tidak ingin diantar oleh Zian maupun Dave. Gadis yang masih berusia 17 tahun itu menaiki motor ojek online untuk sampai ke sekolah.
"Nia tunggu!" seru Dave berlari mengejar.
Disusul oleh Zian dari belakang yang juga ikut mengejarnya. Kedua pria dewasa yang tidak hentinya menginginkan perhatian Agnia.
"Ini semua gara gara kau Dave! Kenapa kau tidak kembali ke apartemen mu saja dan berhenti mengganggu keharmonisan keluargaku." sungut Zian yang kesal.
"Kau berani mengusir mertuamu sendiri Zian?" Dave mendengus, "But i'm so sorry, permintaanmu tidak bisa aku kabulkan." ujarnya lagi lalu kembali masuk kedalam rumah, sementara Zian berdecak kesal lalu melirik jam ditangannya. Dave kembali keluar dan masih melihat Zian yang mematung melihat ke arah jalan.
"Kau menunggu Kim? Lupakan ... dia tidak akan kemari!" ketusnya masuk kedalam mobil lalu menghidupkan mesin kendaraannya.
"Kenapa dia tidak kemari! Tumben sekali!" gumam Zian kembali melirik jam berwarna hitam yang melingkar dipergelangan tangannya.
Tin
Tin
Dave membunyikan klakson mobil, berharap Zian melihat ke arahnya, dia sudah bisa menduga jika Zian tengah menunggu Kim yang tidak datang pagi ini.
Padahal Kim akan selalu menjemputnya jika ada meeting penting. Dia tidak pernah datang terlambat sedikitpun.
Zian menatap mobil Dave, pria yang tengah memundurkan mobil itu menarik satu garis tipis bibirnya, "Kau tidak akan percaya apa yang aku tahu saat ini Zian!" gumamnya pelan.
Sementara itu Agnia tiba di sekolah, dia turun dari motor dan berjalan masuk ke gerbang sekolah. Sebelumnya dia merapikan pakaian dan juga rambutnya, menarik kerah seragam sekolah yang dikenakannya agar menutupi lehernya.
Tatapan mata teman temannya sedikit berbeda saat dia lewat, tak jarang mereka ada yang berbisik bisik. Namun baginya itu sudah biasa, dia tidak ingin ambil pusing dengan mereka.
Mobil merah melaju pelan di belakang Agnia, lalu berbelok ke pelataran parkir mobil. Cecilia dan juga Nita keluar dari mobil dan memanggilnya.
"Nia ...!"
Agnia menoleh ke arah belakang, dimana Cecilia dan juga Nita memanggilnya, lalu dia melambaikan tangan.
"Ayo buruan!"
Nita berdecak, "Elah tunggu Ce!"
Cecilia berjalan lebih dulu diikuti oleh Nita dari belakang, keduanya menghampiri Agnia yang sengaja menghentikan langkahnya. "Gimana soal kemarin?" Tanya Agnia tanpa basa-basi.
"Sebenarnya sih gue mau ngomong sesuatu tapi nanti deh bahaya kalau ada yang denger."
"Apaan emang?" Tanya Agnia heran.
"Udah Ce ngomong aja lah sekarang!" ujar Nita menepuk tangan sahabatnya.
__ADS_1
Cecilia mengedarkan pandangannya, "Bahaya nih kalau ada yang dengar!"
"Emang apaan sih kalian malah bikin gue penasaran deh!"
"Ini ada hubungannya dengan yang kemarin sih!" Nita berbisik ke arah Agnia.
Plak
Cecilia menggeplak kepalanya, "Gue bilang nanti, bahaya kalau sampe ada yang denger! Lo mau kita ketahuan?"
Nita membalas geplakan dikepalanya pada Cecilia, "Gak mesti pake ngegeplak ege!"
"Ini malah berantem, udah ngomong aja ngapain ngomong sepotong-sepotong lu malah bikin gue makin penasaran tahu!" desak Agnia pada keduanya.
Akhirnya ketiganya berjalan menuju taman yang berada disamping gedung sekolah, dan menunjuk sebuah kursi kosong di sana, memastikan tidak ada siswa lain yang berada di sana terlebih dahulu sebelum bicara.
"Lo tahu gak?" Cecilia menepuk paha Agnia.
"Enggak lah ... Lo kan belum ngomong apa apa sama gue Ce!"
"Ege juga sih Lo ce!! Kebangetan ege nya." Nita terkekeh.
Cecilia tersenyum, "Ini bakal heboh kalau lo yang handle Nia! Dan gue fikir momentnya gak tepat!"
Agnia menatap Cecilia dengan heran, "Maksudnya?"
"Sialan ... gue fikir apaan!! Terus yang lain tadi ngapain ngeliatin gue aneh kayak gitu ... gue udah gede rasa kalau kalian udah handle masalah itu."
"Enggak lah! Ngapain gue marah!! Gue tahu kalian sibuk!" Agnia tergelak dengan mulut lebar.
Nita mengernyit, matanya berfokus pada leher Agnia yang terlihat berbeda. "Wait ... wait apaan nih?"
Agnia terperangah saat Nita menyentuh lehernya, sedangkan gadis itu mengenadahkan kepala Agnia lalu telunjuknya menggosok sedikit kulit leher yang membuatnya curiga. Agnia sontak kaget, dia mendorong Nita begitu saja hingga dia terjerembab jatuh ke bawah.
"Wah lo parah ... ternyata lo nggak polos-polos amat ya!" Nita tergelak sembari bangkit dan menepuk bokongnya yang kotor. Dia sudah menduganya walaupun dia belum berhasil menggosok kulit leher Agnia.
"Apaan Nit?" Tanya Cecilia.
"Lo harus tahu Ce, temen lo nih!!" Nita terus tergelak. Sementara Agnia hanya mendengus dengan menarik kerah seragam nya lebih ke atas.
"Ya Apaan bilang!"
Nita tertawa dengan menunjuk lehernya sendiri ke arah Cecilia. "Lo harus lihat nih di sininya nih!" tunjuknya pada lehernya sendiri sebagai kode.
Cecilia menatap Agnia dengan curiga kedua matanya tertuju pada leher yang ditutupinya, dia menarik tangan Agnia lalu menyibak kerahnya, "Apaan coba lihat!"
__ADS_1
Keduanya terbahak sampai tertinggal-pingkal, padahal Agnia tidak mengatakan apa apa, keduanya pun sudah tahu walau gadis itu hanya terdiam dan berkali kali mendengus.
"Nih temen lu nih parah juga ternyata!" Nita menyenggol lengan Cecilia.
"Temen Lo juga kali Nit!"
"Kalian kebangetan deh!!!" ketus Agnia mengerucutkan bibirnya.
"Cie ... cie ... kemajuan ke tahap yang lebih hot tuh!!"
"Hooh ... ke arah sini ... besoknya sini ... besoknya sini deh!!! Uuhhh mantap!!" tukas Nita menunjuk dada, tali pusar lalu bagian inti kewanitaannya.
"Mari kita berbuat dosa!!" seru Cecilia membuat ketiganya tertawa.
"Pantesan Lo tanya gimana sakitnya Virginia Lo diambil!!" Tukas Cecilia lagi.
Kali ini Agnia membekap mulutnya. "Brengsekk Lo Ce!!! Jangan keras keras! Lo mau bikin pengumuman?"
Nita membulatkan kedua matanya tidak percaya, "Hah ... seriusan lo tanya gitu?"
Cecilia mengangguk, "Hmm ... kemaren sore! Dan gue tebak, itu terjadi malam tadi kan? Wah parah ... masih kuat lo buat pergi kesekolah!"
"Gue aja dulu gak bisa ngapa-ngapain dipagi hari setelah kesucian gue terenggut!"
"Gaya omongan lo Nit!!"
Cecilia dan Nita kembali tertawa. Sementara Agnia hanya menggelengkan kepalanya, dengan menatap kedua sahabatnya itu yang justru tidak berhenti menceritakan pengalaman pertamanya saat kehormatannya hilang direnggut pria yang menukarnya dengan sejumlah uang.
Gue gak tahu apa semalam Vir gin gue udah keambil atau belum ya. batin Agnia sambil berfikir keras, Tapi kayaknya belum deh, kan yang masuk cuma kepalanya doang. batinnya lagi.
"Heh ... malah bengong Lo!! Lo ngebayangin Daddy ganteng Lo lagi di atas Lo kan? Atau Lo lagi bayangin enaknya sampe seribu kali lipat?""
Kali ini Agnia menjambak rambut Nita, karena ucapannya yang terdengar jelas. "Sialan Lo! Gak sekalian Lo ngomong di interkom sekolah Lo biar kedengaran semua orang!"
Cecilia tergelak, namun tidak berlangsung lama karena terdengar lagu Fire milik boyband asal Korea B.T.S bergema diseluruh gedung.
"Ayo ah cabut! Lama lama gue bisa ikut gila!" ujar Agnia yang berjalan lebih dulu.
Cecilia dan Nita menyusulnya, mereka saling merangkul bahunya sambil terus tertawa dengan kedua mata menyipit sempurna, dan saling mengedipkan mata.
"Awas lo ya ... masih bahas yang gituan! Gue Jambak lagi!" ancam Agnia lalu ikut tertawa.
"Eeh ... kalian bosen gak lagu ini terus yang jadi bunyi bel sekolah kita! Gue pengen ganti deh!" seloroh Nita saat ketiganya menuju Selasar gedung.
"Ganti apaan Nit?" Cecilia masih tertawa kecil.
__ADS_1
"Cinta satu malam!!" kelakarnya dengan kembali tertawa. "Cinta satu malam ooh indahnya, cinta satu malam buatku melayang!!" ucapnya dengan cengkok dangdut.
Membuat Cecilia dan juga Agnia menoyor kepalanya secara bersamaan. "Bego lo!!!"