
Baru kali ini Zian harus menuntaskan hasratnya seorang diri, biasanya dia yang akan menerima pelayanan yang sangat bagus dari seorang wanita, tapi kali ini dia harus sabar menghadapi gadis belia itu.
Zian masuk kedalam kamar mandi untuk beberapa waktu, sementara Agnia berjalan ke area belakang, dia membuka pintu ke arah kolam renang.
Dengan hanya mengenakan T-shirt berwarna putih yang ukurannya lebih besar. Dan celana pendek sepaha, Agnia menceburkan dirinya ke dalam kolam renang. Air yang dingin itu tidak menghalangi dirinya untuk berenang.
Zian menyibakkan tirai kamar yang langsung tertuju ke area kolam renang, dan harus menenggak salivanya berulang kali.
"Kenapa dia selalu menguji imanku!" gumamnya dengan meraup wajah dengan kedua tangannya.
Agnia berenang dengan gaya punggung, membuat Zian semakin terpana melihatnya.
"Oh tuhan ... ampuni aku!"
Zian turun menyusul Agnia ke kolam renang, "Nia naiklah! Ini sudah malam, kau bisa sakit!"
"Sebentar saja Om."
Pria itu menyampirkan bathrobe di bahunya, lalu duduk di kursi santai dipinggir kolam, dengan kedua mata yang tidak melepas pergerakan Agnia.
"Nia ... ayo naik! Kau bisa masuk angin." serunya lagi.
Agnia pun berenang ke tepi kolam, lalu melambaikan tangan kearah Zian, "Bantu aku naik Om!"
Zian pun mengulurkan tangannya dan menarik Agnia untuk naik, namun Agnia menariknya lebih kencang dengan menahan kakinya ditepi kolam, hingga Zian tercebur ke dalam air.
"Nia ...!"
Agnia tertawa, dia lantas meloncat naik keatas sambil tertawa dan meninggalkan Zian begitu saja. Lagi- lagi tingkah nya membuat dongkol pria 34 tahun itu.
"Nia...!" Teriaknya dengan memukul air.
"Percuma kalau hanya basah saja!" ujarnya kemudian.
Zian beranjak dari kolam dan mengejar Agnia yang tengah menaiki tangga, dia menggendong Agnia dan membawa masuk ke dalam kamarnya, "Kau harus di hukum!"
"Ehh ... Om hentikan Om!"
Zian mendorong pintu dengan tungkai kakinya lalu menutupnya kembali, dia membawa Agnia masuk kedalam kamar mandi.
"Sekarang kau harus mandi!"
__ADS_1
"Eh ... tidak mau! Sudah sana keluar! Aku bisa mandi sendiri. Dasar mesum, sudah sana keluar jangan mengintip!" ujarnya menutupi dada dengan kedua tangan.
"Kata siapa aku akan mengintipmu, aku hanya bilang akan memandikanmu langsung." ujar Zian tergelak.
Mereka saling mencipratkan air, dengan sama-sama tertawa, hingga keduanya terpingkal.
Tak lama tawa itu menghilang, berganti dengan Zian yang mendekati Agnia yang mulai menggigil, Zian menaikkan tubuh Agnia diatas wastafel, menguncinya dengan kedua tangan yang bertumpu pada dinding kaca, Agnia mengerjapkan mata, gelayar aneh itu kembali dirasakannya, perlahan telunjuk Zian menganggap sedikit dagu Agnia hingga kedua mata mereka bertemu.
"Aku mencintaimu Nia!" gumam Zian dengan jelas.
Agnia tidak mampu berkata-kata, bibirnya bergetar karena dingin, membuat Zian semakin gemas melihatnya apalagi saat gadis itu menggigit sedikit bibir bagian bawahnya.
"Nia ...!" suara Zian tercekat di tenggorokan, sesuatu yang hebat kembali menyerang dirinya sendiri.
"Nia ... bagaimana jika aku tidak dapat menahannya lagi!" lirih Zian.
"Aku tidak mau! Semua itu milik pria yang akan jadi suami Nia nanti!" ujarnya dengan menjulurkan lidahnya.
Zian mengulum senyuman, "Bagus! Maka aku akan menunggunya sampai saat itu tiba!"
Dengan gerakan lembut Agnia kembali menyambar bibir mungil merah muda itu, menyusupkan lidah dan kembali bermain disana, membelitkan benda basah itu dengan kedua mata yang terpejam, tangan Zian terulur pada jenjang kaki dan menariknya hingga membelit pinggangnya sendiri, membuat tubuh mereka merapat tanpa jarak.
Kedua tangan Zian mengepal, menahan sesuatu yang menyerang dengan perlahan, jika tidak mengingat ucapan Agnia, mungkin dia sudah menerobos masuk.
Agnia mengernyit, "Udah sana keluar, aku mau mandi!"
Agnia membuat suasana serius itu kembali mencair, Zian selalu lupa jika Agnia hanyalah seorang gadis remaja yang mana mungkin memikirkan tentang masa depannya secepat itu.
"Iya sini, biar aku mandiin! Aku ini sudah ahli dalam masalah permandian," tukas Zian membuat Agnia memicingkan kedua matanya, lalu mendorong tubuhnya hingga keluar dari kamar mandi.
Zian tergelak dengan seluruh tubuh yang basah, dia pun keluar dari kamar Agnia dan masuk kedalam kamarnya sendiri.
Setelah basah-basahan yang menguras energi, mereka sama-sama kelelahan. Agnia sampai tertidur dengan sendirinya, berkali-kali Zian memanggilnya untuk makan terlebih dahulu, namun Agnia tidak kunjung keluar juga.
Zian akhirnya kembali masuk, namun kali ini pintu kamar Agnia terkunci, dia sengaja menguncinya dari dalam agar Zian tidak bisa masuk saat dirinya tidur.
"Anak itu!" gumamnya kembali turun.
Keesokan pagi
Agnia terbangun dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, dia turun ke bawah dan menuju ruang makan, tak lama kemudian, Zian turun dengan rambut setengah basahnya, lalu turun menghampiri Agnia.
__ADS_1
Cup
"Pagi dunia!"
Zian mengecup pipi Agnia dengan lembut, membuat gadis itu melebarkan kedua mata dan menyoroti ke arahnya,
"Iihh ... seenaknya aja sih!"
Zian terkekeh, "Maaf!! Itu karena kamu menggemaskan."
Agnia mendengus, dengan melahap roti tawar dengan selai coklat, "Menggemaskan pala mu!"
Zian menyusut ujung bibir Agnia yang berantakan karena sisa coklat menempel disana, "Kamu sayang tidak pada dirimu sendiri?"
"Sayanglah!! Kenapa enggak!"
"Sama ... aku juga sayang sama kamu!" ujarnya tergelak sendiri.
Sementara Agnia mengernyit, "Apaan sih Om ... udah gak pantes lagi kayak gitu-gituan!" ujarnya menohok.
Hubungan mereka semakin baik, sikap Zian semakin berubah, dia tidak hanya berhenti datang ke klub, namun juga berhenti minum alkohol, setiap pagi dia keluar untuk joging atau pun sekedar berenang, setelah itu bersiap-siap mengantarkan Agnia kesekolah dan baru pergi ke kantor.
Membuat sekretaris Kim sedikit heran, dia tidak lagi pusing dengan jadwal yang berantakan karena posisi Iyan yang kosong, namun justru Zian lah yang sudah mampu menata jadwalnya sendiri.
Zian yang bergantung pada Iyan dan Kim kini bisa menjalankan tugasnya sendiri, dan itu karena kehadiran Agnia dalam hidupnya. Begitupun dengan gadis itu, setiap kali kesulitan dalam tugas-tugasnya, Zian pasti membantunya, mengajari hal yang dia tidak paham. Sampai mengerjakan tugas-tugas sulit miliknya.
"Bagaimana dengan workshop yang menjadi tugas akhirmu Nia?" ujar Zian saat melihat Agnia tengah mengerjakan tugasnya di laptop miliknya.
"Aku masih mencari informasi perusahaan yang bisa menerima proposal ku Om."
Zian mengelus rambutnya, "Butuh bantuan?"
"Gak usah, kalau Nia udah tidak ada jalan baru Nia akan minta bantuan."
"Oke honey!" ujarnya dengan mengecup pipi Agnia dengan gemas.
Agnia mendorong tubuh Zian, "Iihh ... najis! Jangan panggil dengan nama itu!"
"Kenapa? Kamu cemburu?" ujarnya dengan gelak tawa.
Agnia mendengus kesal.
__ADS_1
"Sumpah ... Om itu norak pake banget!"