
Keduanya berjalan keluar dari butik tersebut, Kim lebih dulu membuka pintu mobil untuk Zian. Namun Agnia lagi-lagi mencubit lengannya.
"Aww ... Nia kenapa mencubitku lagi!" ujar Zian menggosok lengannya.
"Bukain pintu saja harus gitu sama sekretaris Kim, yang gentle itu buka sendiri!"
"Iya tapi tidak harus mencubitku Nia, bagaimana kalau tubuhku ini biru-biru semua, kau mau mengobatinya? Tidak kan, kau hanya bisa memancingku tapi tidak ada kelanjutannya." Zian terkekeh, membiarkan Agnia masuk terlebih dahulu, sementara Kim menggelengkan kepalanya. Lalu berputar masuk kebalik kemudi.
Setelah gadis itu masuk dan menutup pintu dengan tersungut, barulah Zian berjalan kepintu sebelahnya.
"Nia ... jangan galak-galak!" tukas Kim yang hanya bicara melalui spion kaca yang terletak didalam mobil. Agnia hanya menatapnya lalu terkekeh, tak lama Zian masuk.
"Ayo Kim!"
Sekretaris Kim melajukan mobilnya, menuju sebuah tempat yang yang tertera di kartu undangan, satu hotel yang berada di dekat pantai, butuh waktu satu jam untuk sampai kesana.
Zian terus menatap Agnia yang duduk disampingnya dengan tenang, iris mata meneduhkan itu mengamati setiap inci wajah jelita dari gadis yang masih berusia 17 tahun itu.
"Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?" Tanyanya dengan meraba pipi dengan kedua tangan, "Kayak Tante Tante ya? tanya nya lagi.
Zian mengulum senyum dengan menggelengkan kepalanya, "Tidak sama sekali, kamu cantik dan aku semakin tergila-gila padamu Nia. Dunia ku!"
"Ppfttt ...!" Kim menahan tawa, namun tidak sama sekali ingin melihat raut wajah Zian yang tengah menjadi budak cinta itu, walaupun dia ingin melihatnya.
"Apaasih ... Om!" sungut Agnia.
Zian menautkan jari-jarinya, "Aku sudah tidak sabar untuk mengajakmu menikah, kamu pasti akan bahagia!"
Agnia memukul punggung tangan Zian, "Otakmu selalu mesum, dasar tua!"
Zian terkekeh, "Tapi nyatanya kamu juga menyukaiku."
Ya Tuhan, pria keras kepala ini benar-benar jadi budak cinta. Batin Kim disela pendengarannya yang menangkap semua yang diucapkan oleh bosnya itu.
"Om ... please deh gak usah norak!"
"Menurutmu aku ini norak?"
"Banget!"
Zian menatap lurus kerah Kim, "Kim ... apa aku norak?"
__ADS_1
Kim membalas tatapannya melalui spion mobil, "Sama sekali tidak tuan, hanya sedikit dan tidak masalah!"
"Kau dengar Nia? Aku tidak norak!" ujarnya kembali menatap Agnia.
"Jelas saja, dia tidak akan mengatakannya dengan jujur, sampai matipun dia akan tetep belain Om." sungutnya lagi.
Zian tergelak, "Lalu aku harus bagaimana agar tidak norak?"
Agnia hanya mengerdikkan bahunya, sedangkan isi kepalanya tengah memikirkan bagaimana reaksi Zian saat bertemu dengan ayah kandungnya, dan bagaimana setelah itu, kemudian hubungan yang rumit menurutnya itu. Banyak hal yang jadi fikirannya saat ini, hingga gadis broken home itu tidak menyadari jika Zian berkali- kali mengecup punggung tangannya.
Kim menepikan mobilnya sesaat, mereka telah sampai di tempat tujuan tanpa aral melintang, tempat yang mulai ramai dengan lampu lampu warna-warni disekitar pesisir pantai, juga kursi-kursi yang tertata rapi yang kini sudah mulai banyak yang mendudukinya.
Suasana pesta yang entah pesta apa itu sangat terasa, dengungan musik jazz yang terdengar dari arah ballroom hotel, juga gelak tawa dari para tamu menjadi penghias malam itu.
Kedua turun dari mobil, tak lama Kim melajukan mobilnya kembali menuju basement, Zian menggenggam tangan Agnia dengan erat, senyuman pun tak lepas dari bibirnya.
Agnia sendiri pintar membawa diri, wajah ketus dan inocent kini berubah menjadi dewasa dan juga anggun, berubah drastis dari Agnia yang sebelumnya.
"Ini salah satu dari banyaknya yang aku suka darimu Nia, kamu bisa menyesuaikan diri ditempatmu berada, tidak perlu mengajari dan juga memberitahumu. Aaahh ... aku makin suka!" bisik Zian saat mereka berjalan masuk.
"Udah deh ... gak usah terus gombal!" gerutu Agnia.
Semua mata menatap kearah mereka berdua, tanpa kecuali seorang perempuan yang berdiri diantara para eksekutif muda, yang kini mengepalkan tangannya sendiri.
Padahal saat ini Agnia tengah berusaha tenang dengan jantung yang terus bertalu-talu dengan kencang, mendapati banyaknya tamu, mungkin ayahnya sendiri belum menyadari keberadaannya ditempat itu, namun entah apa yang terjadi jika mereka bertemu.
"Om ...!" gumamnya dengan tangan yang kian mengerat.
"Hmm ...?"
"Kalau terjadi sesuatu nanti, maafkan aku!" gumamnya dengan lebih pelan, hingga Zian tidak dapat mendengarnya.
"Apa?"
"Ah ... tidak!" jawabnya lagi, mengurungkan niatnya untuk mengatakannya.
Seorang pria menghampiri Dave lalu berbisik di telinganya, entah apa yang dia bisikkan yang jelas pria tegap berumur 37 tahun yang tengah berbincang dengan beberapa pria tersentak didepannya, berbalik arah dan menatap Zian dan juga Agnia, sepasang netra menajam, dengan rahang yang mengeras, giginya bergemelatuk, tulang tegas yang berada di kedua gerahamnya ikut mengeras.
Tak kalah dengan Dave, Agnia saat ini semakin mengeratkan genggaman tangannya, sementara Zian yang belum mengetahui hubungan ayah dan anak itu tampak sumringah.
"Dave ...!" ujarnya dengan mengulurkan tangan.
__ADS_1
Tangan Zian masih menggantung, Dave mengabaikannya begitu saja, sikap arogan dan sombong yang sudah ada sejak dulu kini kian terlihat jelas.
Dave melirik Agnia, bibirnya mengatup menunggu sebuah penjelasan. Zian yang seakan paham lirikan itu tersenyum tipis, "Dave, kenalkan ini calon istriku ... Nia, kenalkan ini temanku Dave!"
"Calon istri? Astaga ...!"
"Daddy....!" lirih Agnia, yang tersentak karena suara Dave yang menggelegar.
Zian terperanjat, dia menoleh pada Agnia yang menatap Dave dengan tatapan yang sulit diartikan, begitu juga dengan Dave, "Daddy?"
"Kau mengencani putriku Zian? Kau sengaja kah? Brengsekk...!"
Bugh
Dave memukul rahang Zian, beberapa orang menoleh kearah mereka, tanpa tahu apa-apa.
"Kenapa kau memukulku brengsekk, mana aku tahu calon istriku itu anakmu!"
Dave berdecih, "Mana mungkin kau tidak tahu Zian, kau sengaja!"
"Daddy ... stop!" Agnia menahan lengan ayahnya yang hendak merangsek Zian, tak mau kalah, Zian pun membalas pukulan saat itu juga.
Bugh
"Dengar Dave, aku tidak sepengecut dirimu, saat aku bilang aku tidak tahu, itu artinya aku memang tidak tahu ... aku tidak akan berpura-pura tidak tahu!" terang Zian dengan sedikit sindiran.
"Aku tidak percaya!" Dave kembali menerjang dengan memukul keras pintu lalu menghantam tubuh Zian dengan sebuah kursi, namun Zian dapat menghindar hingga kursi itu terlempar dan mengenai pintu kaca di depannya.
"Hentikan kalian berdua!!" Agnia tak mampu menahan keduanya yang saling menyerang, hingga beberapa orang ikut melerainya.
"Kalian bersikap seperti anak kecil!" ujar Agnia dengan melangkah keluar.
Zian mendorong tubuh Dave, lalu menyusul Agnia keluar, begitupula Dave yang ikut melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Bubarkan pesta ini!" titahnya pada orang-orang yang berpakaian hitam-hitam dibelakangnya.
.
.
.
__ADS_1
Penasaran gak ada apa sih diantara Dave dan Zian??? Pantengin terus pokoknya yaa ❤️