
Zian berjalan dengan kedua mata yang terus memperhatikan Agnia, rasanya dia ingin membawanya saat itu juga, namun lagi lagi dia harus bersabar dan menahan dirinya, gadis berusia 17 tahun itu pun masuk kedalam kelas, namun tiba-tiba Nita memanggilnya.
"Nia ...?" Nita berlari menghampiri, lalu melingkarkan tangan pada bahunya. "Dari mana?" tanyanya lagi.
"Ruang guru!" ketusnya.
"Lah ngapain?"
"Lo pasti tahu gue ngapain di ruang guru! Pake belaga gak tahu, nyebelin banget."
Nita terkekeh, dengan menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan kirinya masih tersampir dibahu Agnia. Langkah mereka pun sekarang mengarah pada kantin yang masih terlihat sepi, hanya beberapa orang yang ada dalam. Keduanya masuk kedalam, dan duduk.
"Iya sorry ... sorry deh! Gue dan Cecil emang sengaja gak bilang apa-apa sama lo Nia, kalau enggak...!" Nita menghentikan ucapannya saat Serly berjalan mendekat.
"Nia ... gue udah pesenin lo makan! Sini ...!" ucapnya dengan melambaikan tangan.
"Lho padahal gue bawa bekel," Agnia duduk dihadapan Serly, "Tapi ya udah deh, doble juga gak apa-apa!" ujarnya dengan terkekeh, lalu menyantap makanan yang kini berada di hadapannya.
"Astaga Nia, lo kesurupan?" Tukas Cecilia yang baru saja tiba, dia mendelik saat melihat Serly, lalu duduk disamping Nita, "Ngapain sih ada dia disini?" Bisiknya ditelinga Nita.
Nita mengerdikkan bahu, "Udah lo duduk aja! Gak usah nyari ribut sama dia, anggep aja bangku itu kosong!"
Cecilia terkekeh, dan Serly yang berada di hadapannya pun menajamkan kedua bola mata kearahnya, "Apa lo?"
Cecilia mengerdik, kemudian Agnia menarik ujung baju Cecilia, hingga keduanya terdiam. "Udah gak usah ribut! Gue lagi makan!"
Sementara Zian masuk kedalam mobil lalu melaju keluar dari sekolah, dia menuju kantor pusat dan menemui Kim.
Tak lama, mobilnya sampai di lobby hotel, pria berumur 34 tahun itu menyerahkan kunci pada petugas lalu masuk begitu saja.
"Dari mana saja? Kau terlambat sepuluh menit!" ujar Kim yang resah menunggunya dan melangkahkan kakinya menyamai bosnya itu.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tuan Dave sudah datang, dan dia sudah menunggumu di ruangan." jelas Kim kembali.
Zian mendengus kesal, "Hm ... aku akan segera kesana!"
Keduanya masuk kedalam lift, kotak besi itu bergerak naik keatas mengantarkan mereka ke tempat tempat dimana ruangan Zian berada, tak lama mereka pun sampai.
"Didalam!" gumam Kim saat membuka pintu ruangan itu.
Zian masuk disusul sekretaris Kim dari belakang, "Siang Mr Dave?"
Zian mengulurkan tangan ke arah pria yang duduk di sofa, dengan wajah angkuh dan juga datar, dia hanya menatap Zian tanpa menyambut uluran tangannya, hingga Zian harus menarik kembali tangannya.
"Tidak usah basa-basi, aku tidak datang untuk membicarakan kerja sama diantara kita!"
"Ada apa lagi? Bukankah aku sudah bilang, aku tidak ingin bekerja sama dengan orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri!" jawab Zian dengan mendudukkan tubuhnya di atas sofa, dan menatap lurus kearah pria bermanik coklat didepannya.
Pria itu tergelak, dia menganggkat satu kakinya yang dia topangkan keatas kakinya yang lain, dan tangan yang melipat diatas dada.
Zian berdecih, "Aku tidak peduli!"
Sang sekretaris yang sejak tadi hanya berdiri, kini membuka lipatan jas yang dikenakannya lalu mengeluarkan sesuatu, memberikannya kepada Dave.
"Aku kemari untuk mengundangmu pada acaraku! Datanglah ...!" ujarnya dengan menyimpan undangan itu diatas meja.
Zian yang masih terlihat datar itu tidak bergeming, dia hanya menatap pergerakan yang dilakukan Dave didepannya.
"Baiklah ... aku tidak bisa lama-lama, walaupun aku sebenarnya juga ingin lebih lama disini!" tukas Pria yang kini telah berdiri itu, dia merapikan pakaian lalu disusul oleh satu pria yang memberikan kaca mata hitam padanya.
Dave mengambil dan mengenakannya lalu keluar dari ruangan Zian, sementara Zian berdecak dengan kesal.
"Mau apa dia kembali ke mari Kim? Bukankah bisnisnya tengah berkibar di sana?"
Kim mengambil kartu dari atas meja lalu membukanya, "Mungkin dia sedang perjalanan bisnis! Atau pembukaan perusahaan baru!"
__ADS_1
"Dan undangan ini hanya untuk pengusaha-pengusaha yang tengah berjaya saat ini!" tambah Kim kemudian.
"Aku tidak butuh Kim, kau saja yang pergi menggantikan aku!"
Kim menoleh, "Mana bisa begitu! Mereka pasti ingin kau hadir seperti biasanya."
Mana bisa aku hadir kali ini! Jika biasanya aku akan pergi bersama Anindita, kali ini tidak mungkin aku mengajaknya lagi.
Seperti mampu membaca fikiran tuannya, sekretaris Kim pun berdehem, "Tidak perlu khawatir, kau bisa mengajak Nia kesana!"
"Dia pasti menolaknya Kim, untuk apa dia datang ke acara orang dewasa! Dia pasti akan bosan."
"Mencobanya saja belum! Untuk apa kau mengajar disekolah menjadi guru kelas tambahan jika masih tidak bisa memanfaatkan situasi!" ketus Kim pada akhirnya.
Seperti mendapatkan Ilham, Zian tersenyum sumringah, dia kembali memasukkan ponsel kedalam saku dan menyambar kunci mobilnya, "Kau benar Kim! Aku akan mengajaknya, kalau begitu! Siapkan dia Kim!"
Zian bangkit dan melangkahkan kedua kakinya keluar, sekretaris Kim bergegas menyusulnya.
"Eeh ... mau kemana lagi? Sebentar lagi ada rapat!"
Tanpa menoleh ke arah suara, Zian melambaikan tangan ke atas,
"Kau urus saja!"
.
.
.
...Hai Readers terlope lope ... maaf yaa jadwal othor up jadi berantakan. hehehe...
...makasih buat semua dukungannya yang luar biasa dari kalian,.. lope lope pokoknya....
__ADS_1