
Gadis berambut panjang itu berdecak kesal, pasalnya dia menyuruh Cecilia dan juga Nita mengembalikan jaket milik Regi yang dipinjamkannya malam itu. Dia menyelonong pergi begitu saja, setelah tahu Cecilia belum mengantarkannya.
"Nia ... dengerin dulu! Gue udah mau nganterin ke tempat Regi, tapi katanya entar aja! Dia juga lagi sibuk!" Cecilia berusaha menyamai langkah Agnia, disusul oleh Nita.
"Dia malah suruh gue anterin lagi ke lo ... katanya buat lo aja jaketnya! Itu yang bikin gue bingung Nia ... gue gak mungkin kan nganterin jaket itu ke rumah lo lagi! Bisa mampus gue sama laki lo."
Agnia menghentikan langkahnya, dia menoleh pada Cecilia, juga Nita yang terlihat mengangguk anggukan kepalanya.
"Bentar! Dia bilang jaket itu buat gue? Maksudnya apaan?"
Gadis berambut pendek mengerdik, sedangkan gadis yang berambut pirang menggelengkan kepalanya. Membuat Agnia menghela nafas, "Cari mati aja!"
Agnia kembali melangkahkan kakinya, berjalan ke selasar gedung dan berpapasan dengan Serly yang tengah menelefon, namun dia hanya menatap Agnia sekilas lalu melewatinya begitu saja.
"Kenapa tuh bocah?" Gumam Nita yang terlihat heran.
"Udah insaf kali!" jawab Cecilia yang memutarkan tubuhnya hanya untuk melihat Serly.
"Syukurlah kalau gitu! Seenggaknya setan dimuka bumi ini berkurang satu!" Timpal Nita lagi, dan membuat Cecilia tertawa. Sedangkan Agnia hanya diam dan terus menatap Serly,
"Semoga Serly gak bener bener udah berubah, dan gak lagi punya rencana jahat lainnya." gumamnya namun terdengar jelas ditelinga Cecilia yang kemudian memutarkan tubuhnya lagi ke arah Serly pergi. Sementara Agnia kembali melanjutkan langkahnya.
"Nit ... dia pergi kemana?"
"Ke luar gerbang! Kenapa? Lo mau kepo?"
Cecilia menatap Nita, keduanya saling menatap lalu bergegas berjalan menjju gerbang sekolah, mengikuti Serly yang keluar.
"Lo fikir dia bakal ngapain? Bikin curiga gak sih?" Nita bergumam dengan terus berjalan keluar.
"Tau deh! Gue penasaran aja! Semoga feeling si Nia salah, gue juga penasaran sama dia kan jadinya Nit!"
"Mana ada setan yang bisa dipercaya Ce!"
"Cuma lo yang bisa!"
__ADS_1
"Heh ... sialan! Lo samain gue sama set---"
Ucapan Nita terhenti saat Cecilia merentangkan tangannya menahan langkah Nita. Gadis berambut pendek itu terlihat heran karena tiba tiba Cecilia berhenti.
"Apaan Ce?"
"Lo lihat itu?" Cecilia menunjuk ke arah sebrang, dimana Serly terlihat mengobrol dengan seseorang yang berada di atas motor.
"Si Serly kan?"
"Itu Regi kan? Lo liat motornya ... itu motor Regi!" terang Cecilia pada Nita yang semakin menajamkan penglihatannya.
"Sumpah demi kerang milik sponsbob lo bener Ce! Itu Regi." Nita menatap sahabatnya begitu juga dengan Cecilia.
"Apa yang mereka bicarakan Ce! Bukannya kemaren Si Regi bilang lagi sibuk dan gak bisa kita temui! Kenapa malah ngobrol sama tuh anak."
"Tau deh!! Gue malah takut si Regi terpengaruh!" ujarnya dengan berbalik badan dan manarik Nita untuk kembali masuk gerbang.
"Lo katanya penasaran, kenapa kita gak kesana aja malah masuk!"
"Elah ... semaleman belajar apaan! Orang lo cuma nontonin video bo kkep di laptop lo Ce! Lo fikir gue gak tahu Ce!"
Cecilia menoyor kepala Nita, "Itu juga belajar bego! Kita harus seimbang kan? Biar ada kemajuan, siapa tahu besok ketemu daddy yang kayak Om Zian kan!"
"Eeh ... lo bener juga!"
Keduanya tertawa dengan terus berjalan. Sementara Agnia yang sudah berada di kelas tengah membuka kembali catatan yang di berikan Kim padanya. Hal yang harus dia pelajari, cara mengatur jadwal meeting, bahkan lengkap dengan pembagian waktu agar meeting tidak bentrok ataupun tumpang tindih.
Cecilia dan Niga tiba tuba masuk dengan suara keduanya yang sama sama berisik dan tertawa. Cecilia langsung duduk disampingnya dan Nita duduk di depannya dengan mengarah ke belakang.
"Gue punya info penting buat lo Nia!"
Agnia memasukkan kembali catatan milik Kim yang diberikan kepadanya ke dalam tas, lalu mengambil boks plastik berisi pastel yag diberikan bi Nur.
"Info apaan?" Tanyanya dengan meletakkan boks berisi pastel diatas meja.
__ADS_1
Nita membukanya, dan mengambil satu pastel lalu mengunyahnya pelan, "Enak seperti biasa!"
Cecilia mendelik ke arahnya seraya berdecak, lalu menatap Agnia.
"Gue lihat Regi sama Serly ngobrol di seberang jalan!" gumamnya jelas.
Agnia yang hendak memasukkan pastel ke dalam mulutnya pun menoleh, bahkan pastelnya terjatuh. "Lo serius?"
Cecilia mengambil satu pastel, "Serius ... lo tanya Nita!"
"Bener Nit?"
Nita yang tengah sibuk mengunyah dengan mulut penuh itu mengangguk dengan pasti.
"Lo curiga gak sama mereka? Kok gue jadi takut! Regi ngomongin lo dan laki lo ke Serly dan Boom ... Serly bikin ulah yang bikin lo repot!"
"Nyebarin gosip lagi?" kata Nita dengan kembali mengambil pastel.
"Bukan gosip lagi ... itu kan fakta! Tapi kita belum tahu nih, gue takut aja jadi masalah nanti Nia."
Agnia tertegun, dia bahkan tidak jadi menyuapkan pastel ke dalam mulutnya, benar kata Cecilia, Regi salah satu orang yang tahu hubungannya dengan Zian. Dan mereka tidak tahu apa yang terjadi antara Regi dan Serly.
"Regi gak mungkin ngelakuin hal kayak gitu!"
"Eeh bisa aja! Apalagi dia sakit hati karena lo Nia! Orang sakit hati bisa lakuin apa aja."
"Tapi kayaknya gak deh!!"
.
.
Nah lo Regi sama Serly ngapain ... Gi awas lo macem macem! wkkwwk....
Makasih buat kalian yang selalu dukung othor ... lope lope pokoknya deh.
__ADS_1