Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 67


__ADS_3

"Kembalikan, itu milik pribadiku!"


Iyan hendak mengambil paksa, namun Kim dengan lihai mempertahankannya.


"Kenapa kau takut! Apa ada hubungannya dengan Zian,"


"Kim kembalikan, kau tidak perlu ikut campur masalah ini!"


Kim berdecak, "Apa kau lupa Iyan? Urusan Zian akan menjadi urusan kita berdua! Dan kau yang sudah berubah."


"Flash disk itu hanya berisi foto-foto!"


Sekertaris Kim tergelak, "Fotomu bersama Anindita?"


"Tidak hanya fotoku saja!"


"Ayolah Iyan, kau tidak suka berfoto ria, atau susunan rencana kalian?"


Kim menggelengkan kepalanya, "Iyan- Iyan ... kau memang bodoh!" Dia bangkit dari kursi dan melangkah maju, "Aku sudah mentransfer sejumlah uang, pergilah dan bawa kekasihmu dari sini, sebelum Zian berubah pikiran dan melaporkanmu ke polisi."


Sekretaris Kim kemudian keluar dari ruangan itu, dan kembali menyimpan flashdisk itu ke dalam sakunya, sementara Iyan terpaku ditempatnya.


Setelah selesai, Iyan pun keluar dengan boks yang dia bawa ditangannya, dia melewati pintu ruangan milik Zian dan menoleh sebentar.


Lalu pergi begitu saja, dan bertemu Anindita yang tengah tertahan oleh security di lobby.


"Sedang apa kau di sini?" tanyanya pada Iyan,


"Aku membawa barang-barangku! Ayo kita pergi."


"Aku tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Zian, dan dia memintaku untuk kembali padanya!"


Iyan menggelengkan kepalanya, "Sudahlah, kau tidak perlu melakukan hal seperti ini, Zian tidak akan menemui mu lagi, dia sudah tidak ingin bertemu dengan mu!"


Anindita mendelik ke arah Iyan, "Ini semua gara-gara kau Iyan, kau bodoh dan kau menghancurkan semua rencanaku!"


Iyan menarik tangannya, "Sudah lah ayo pergi! Zian sudah memberiku uang,"


"Benarkah?"


Zian menghela nafas dengan mata tertuju pada keduanya, dia melihat semuanya saat ini. Entah tujuannya apa, yang jelas mereka berdua memang sengaja bermain dibelakang karena ingin menguasai harta.


"Kim ... apa kau sudah memeriksa semuanya?"


"Huum ... setidaknya Iyan Belum bertindak sejauh yang ditakutkan, tapi semua sudah dipersiapkannya dengan matang, begitu kau menikah dengan Dita, baru lah dia akan beraksi, menggerogoti mu perlahan hingga semua pada akhirnya jatuh ke tangan Dita,"


"Dan aku akan lebih terpuruk saat itu?"


"Kau harus berterima kasih padaku setelah ini, aku sampai rela join aplikasi kencan online sialan itu!"

__ADS_1


"Jadi kau sudah tahu?"


Kim melangkah masuk kembali ke ruangan Zian, dan dia mengekor di belakangnya, "Iya ... dan sudah bosan memberitahumu tanpa kau tahu yang sebenarnya, dan aku terus mengumpulkan bukti, hingga pada saat malam itu."


Zian hanya menghela nafas panjang, "Aku memang bodoh! Maafkan aku!"


Kim menghempaskan tubuhnya di sofa, "Tidak perlu minta maaf padaku, minta maaflah pada Agnia, ternyata hanya dia yang membuatmu bisa berfikir 2 kali." ujarnya terkekeh.


"Kau benar, hanya dia yang bisa membuat ku menghabiskan hampir 3 jam waktuku hanya untuk menungguinya."


Kim tergelak, "Kau sudah jatuh hati padanya, sejak awal, tapi kau tidak menyadarinya."


"Benarkah?"


Mana mungkin, disaat cintaku masih begitu besar pada Dita, sampai hari ini pun aku masih mencintainya.


.


.


Semua siswa keluar dari kelas setelah jam pelajaran berakhir, Agnia memasukkan peralatan sekolah miliknya ke dalam tas, begitu juga Serly.


"Nia ... Lo mau pulang bareng gue gak?"


Agnia menoleh ke arahnya, "Enggak deh Serly, makasih ... gue ada urusan bentar! Lagian gue gak pulang ke rumah kok."


"Lo mau pergi bareng sahabat baru Lo itu Nia? Dan lupain gue gitu aja?"


Agnia mengentakkan tangan Serly dari lengannya lalu keluar dari kelas, Adam yang melihat Agnia sudah keluarpun menyusulnya,


"Nia ... Lo mau pulang bareng gue?"


Agnia menoleh, "Gak Dam thanks, gue mau balik sam---"


"Nia ... ayo!" Seru Nita yang sudah berjalan ke arah tempat parkir.


"Sorry Dam gue duluan!"


Agnia pun mempercepat langkahnya, dia ingin menghindari Adam, karena dekatpun akan percuma, hanya akan memperburuk hubungannya dengan Serly.


Agnia menghampiri Nita, lalu masuk begitu saja ke dalam mobil, sementara Cecilia baru saja tiba,


"Dari mana Lo?"


"Toilet...!" ujarnya dengan masuk ke dalam mobil.


"Kita ke apartemen? Atau kemana?"


"Gue pengen ke mall deh! Gimana?" seru Nita dari belakang kemudi.

__ADS_1


"Duh gue gak bisa, sore ini gue udah ada janji dengan Daddy gue!" tukas Cecilia.


"Elah ... Daddy mulu sih hidup lo!"


Agnia mengerdikan bahu, "Gue balik aja deh, mau rapihin barang gue juga!"


"Lo pindah ke mana sih Nia? Kita boleh dong maen ke tempat Lo?" Nita mulai melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir sekolah.


"Entar aja deh, Lo pada juga bakal tahu, kalau sekarang gue gak enak sama yang punya!"


Cecilia memegangi perutnya yang terasa sakit, "Perasaan lo gitu juga pas gue nganterin Lo ke tempat Om lo, eeh maksudnya ke tempatnya Zian."


"Ya ... gue gak enak aja, gue juga kan numpang! Jadi harus tahu diri lah."


"Nyokap bokap lo gak nyariin lo?" Agnia menggeleng kan kepala nya.


"Kayaknya gue sakit perut nih!" ujar Cecilia dengan wajah meringis.


Nita dan juga Agnia menoleh ke arah kursi belakang, dan melihat Cecilia semakin kesakitan, dengan keringat yang dingin yang menjalar dari dahinya.


"Lo gak apa-apa Ce?"


"Sakit banget gila ... mana nanti sore gue harus ketemu Daddy lagi."


"Ya udah si ... Lo tinggal batalin doang!"


Nita mempercepat laju kendaraannya. "Gak bisa Nia, gak bisa batalin gitu aja! Tapi juga lo gak bisa maksaain kali Ce!"


Agnia mengangguk setuju, "Udah deh ... kesehatan Lo lebih penting!"


"Gak bisa Nia, kecuali Lo bisa bantuin gue!!"


"Bantuin apa?"


Cecilia menatap wajah Agnia yang tengah menatapnya juga, "Lo bantuin gue sekali aja, temenin Daddy gue, ya please."


"Hah ... gila lo, gue gak mau!!"


"Lo tenang aja Daddy gue yang ini beda dari yang lain, dia gak bakal macam-macam, dia suka ditemenin ngobrol doang sama makan, palingan Lo cuma disuruh dengerin cerita dia aja!! Mau ya Nia please," ujarnya dengan menahan sakit.


"Cuma nemenin doang! Lagian ketemunya juga di mall, bukan di hotel." pungkasnya lagi.


"Ada-ada aja sih, lagian lo gak bisa apa cari kerjaan part time dimana gitu! Malah milih kerjaan kayak gini." gerutu Agnia dengan membalikan posisi duduknya seperti semula.


"Karena hanya kerjaan kayak gini yang duitnya cepet Nia! Kita ini berburu waktu, waktu makan, waktu sekolah!" sahut Nita terkekeh.


"Lagi pula, kalau gak kayak gini, kita gak bakal bisa sekolah di SMA favorit hanya karena ngandelin otak, noh kayak si Cecilia,"


Cecilia mendengus, dan menendang kursi jok dimana Nita duduk, lalu beralih pada Agnia.

__ADS_1


"Nia bisa yah bantuin gue!"


__ADS_2