
Agnia terus berair mata haru, Zian terus memberinya kejutan yang bahkan dia tidak menyangkanya sama sekali, begitu pun dengan Laras dan Dave yang ikut terharu karena nya.
"Tapi hubby ... Kenapa kasih aku hotel ini? Kuliah ku saja jurusan Hukum! Bukan bisnis atau perhotelan kan? Gimana aku ngelola hotel ini."
"Baby ... Aku memberimu hotel ini bukan untuk kau bekerja di dalamnya. Kau lihat orang orang terbaik yang aku bawa dari jakarta? Mereka yang akan bekerja untukmu. Nyonya Ziandra." Zian terkekeh dengan terus mengusap air bening yang lolos begitu saja dari pelupuk mata sang pujaan hati.
"Hubby ...!" Agnia memeluk erat tubuh Zian, tidak peduli orang orang menatapnya,
"Sudah ... Jangan sedih lagi ya! Ini janji ku padamu kau ingat?"
"Janji? Memangnya kapan hubby berjanji kasih hotel ini? Gak ada ah."
Zian menangkup kedua pipi Agnia dengan lembut, dan mengenadahkan kepalanya hingga jarak mereka semakin dekat. "Aku memang tidak berjanji memberimu hotel ini, tapi aku berjanji membuat seluruh dunia menghargaimu, kau ingat?"
Agnia mencoba mengingat kata kata itu, dan satu yang bisa dia ingat, disaat dirinya bertengkar hebat dengan Laras dan wanita yang melahirkannya itu menamparnya, saat itu Zian datang dan marah pada Laras. "Jika kau yang ibunya saja tega melakukan hal ini pada putri mu sendiri dan tidak menghargainya, maka aku akan pastikan seluruh dunia akan menghargainya."
Air bening itu kembali lolos, bahkan semakin banyak saat Agnia mengingatnya, itu sudah lama sekali dan tidak menyangka semua ucapannya tidak lah main main.
__ADS_1
"Hei ... Kenapa malah menangis lagi?" ujar Zian kembali menyusut air mata yang berderai bebas di mata Agnia.
"Hubby!! I love You." ujarnya kembali memeluk Zian, dan menangis bahagia.
Tepuk tangan pun kembali terdengar riuh, bahkan suasana terasa mengharu biru.
"Cium cium cium!!" kelakar Cecilia yang di ikuti oleh Nita.
Dokter Irsan yang berada tepat di belakangnya berdecak dengan menyoroti keduanya. "Dasar anak anak muda, mereka fikir di negara bebas!"
"Kenapa Dokter Irsan? Kau iri pada Zian? Atau apa, Biarkan saja, mereka hanya remaja yang berfikir secara ekspresif, justru membuat acara ini terasa menjadi lebih santai. Kita bukan sedang berada di rumah sakit atau seminar dok!" Dokter Siska terkekeh, melihat kedua remaja yang silih berteriak tanpa rasa malu.
Siska terkekeh dengan menggelengkan kepalanya, "Hidupmu terlalu serius Dokter!"
.
.
__ADS_1
Berbeda dengan Zian dan Agnia yang bahagia, Dave mengajak Kim untuk berbicara, dan dia mengajaknya ke lantai paling atas di hotel dengan pemandangan teluk Marina itu.
"Kim aku benar benar minta maaf! Aku tidak bermaksud untuk melukai perasaanmu dengan ucapanku. saat itu aku panik karena putriku menghilang, dan aku benar benar minta maaf." ujarnya dengan menggenggam tangan Kim.
Kim tidak mengatakan apa apa, dia hanya melihat wajah Dave yang benar benar serius.
"Kim bicaralah sayang! Jangan diamkan aku seperti ini! Kalau kau marah ... Marahlah padaku Kim, pukul aku, tampar atau apapun asal hatimu lega. Aku tidak suka di diamkan begini oleh orang yang aku sayang. Please Kim bicaralah padaku."
Kim tetap diam, dengan wajah datar dan menatapnya tajam, membuat Dave frustasi sendiri.
Kim melepaskan tangan yang digenggamnya, membuat Dave tersentak "Kim ple---"
"Berhentilah bicara bodoh!!" ujar Kim dengan menarik wajah Dave dan memagutt bibirnya, menyusupkan benda tanpa tulang ke dalam rongga disertai gigitan kecil. "Kau memang bodoh Dave! Tapi kau berhasil membuatku luluh dan jatuh cinta padamu."
Dave mengulum bibir, dia menarik tubuh Kim dan menyambar kembali bibirnya lagi, membelitnya lembut hingga keduanya hanyut dalam ciumaan yang semakin panas. Hingga beberapa saat mereka baru berhenti dengan dada yang kian turun naik mengatur kembali nafas mereka.
Dave memeluk tubuh Kim yang lebih santai saat ini, tidak lagi kaku apalagi datar seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Dave ... Ayo kita menikah! Dan berikan aku seorang anak yang lucu."
"Hei kau sedang melamar pacarmu Ayana Hakim?"