
Zian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak memperdulikan klakson yang saling bersahutan dari kendaraan lain yang terganggu karena kecepatan mobil miliknya.
Lalu berhenti tak jauh dari gerbang sekolah Agnia, pria itu melonggarkan dasi yang mengikat dilehernya, dengan kedua bola mata yang menajam ke arah gerbang yang masih tertutup itu.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya gerbang itu terbuka, dan siswa laki-laki dan perempuan berhamburan keluar, namun sosok yang dia cari tidak juga muncul disana, hingga disana mulai sepi, hanya satu dua siswa yang masih berjalan maupun menunggu jemputan mobil milik Cecilia pun keluar dari gerbang sekolah, Zian pun mengikutinya dari belakang. Bagaimanapun juga mereka itu temannya, dan sudah dipastikan bahwa mereka tahu keberadaan Agnia.
Zian mengikutinya hingga mobil itu berhenti disebuah rumah besar, Zian ingat jika rumah itu adalah rumah Laras.
"Apa mungkin Nia sudah kembali pulang kerumahnya?" gumamnya dengan terus melihat pergerakan kedua gadis remaja itu.
Namun tak berselang lama, keduanya keluar dengan wajah yang merengut. Lalu kembali melajukan mobilnya.
Zian akhirnya kembali mengikutinya, "Nia ... aku lakukan ini hanya untukmu! Karena aku tidak ingin kamu pergi. Ku mohon kembalilah!"
Padahal dia bisa saja menyewa orang untuk mengikuti kedua remaja itu! Namun Zian memilih melakukannya sendiri.
Hingga beberapa waktu, mobil Cecilia berhenti disebuah taman, Cecilia keluar disusul oleh Nita, lalu berjalan kesebuah gerai aksesoris.
Zian mengikutinya, dan tersentak setelah melihat sosok Regi ada disana.
"Gi ... lo beneran gak tahu Agnia sekarang dimana?"
Regi menggelengkan kepalanya, "Gue gak tahu sama sekali!"
"Lo jangan bohong Gi, gue tahu cuma lo temen dia yang paling care sama Nia! Lo pasti ngumpetin dia kan?"
"Astaga ... gue bener-bener gak tahu! Kalau pun gue tahu, gue juga bakal kasih tahu kalian! Emangnya Nia kenapa sih?" tanya Regi balik.
"Kalian sahabatnya, dia juga sering bareng sama kalian, masa iya kalian gak tahu masalah yang dia alami?"
Cecilia menghela nafas, "Gue gak tahu pasti masalahnya apa! Yang jelas ini pasti ada hubungannya dengan Zian!"
Zian yang berdiri tak jauh dari sana pun ikut mendengar pembicaraan mereka.
"Zian? Om nya Nia kan?"
Nita dan Cecilia saling pandang, lalu kembali menatap lelaki berparas tampan didepannya, "Gue gak bisa cerita detail, yang pasti Zian juga mencarinya! Kita udah kerumahnya, tapi dia tidak ada! Yang bikin gue sedih, ibunya bahkan kayak gak peduli Nia mau ilang atau kemana."
__ADS_1
Apa gara-gara itu Nia berniat bunuh diri dijempatan itu? Dia merasa ibunya tidak peduli? Tapi setahu gue, Nia udah cabut dari rumah sejak lama. Pasti ada masalah lain, dan Om Zian? Gue udah curiga sama tuh orang. batin Regi.
"Heh ... malah bengong Lo! Lo yakin gak tahu dia dimana?" tanya Nita sekali lagi.
Regi menggelengkan kepalanya pelan, membuat kedua gadis itu berdecak, "Jadi kita harus cari lagi dia dimana dong Ce?"
"Gue gak tahu!"
"Yaudah, kita cabut duluan! Kita mesti cari dia lagi."
Regi mengangguk lagi, membuat Zian yang mendengarnya buru-buru mundur beberapa langkah.
Setelah kepergian Cecilia dan Nita, Regi menrogoh ponsel dan mengotak-ngatik nya sebentar, dan saat itulah Zian menghampirinya.
"Kamu pasti tahu dimana Nia saat ini!" ujarnya tanpa basa-basi.
Regi menoleh kearah belakang, lalu mendengus kasar. "Kalau gue tahupun gue gak bakal kasih tahu lo!"
"Apa maksudmu?"
"Denger yah tuan Zian yang terhormat, gue emang gak tahu apa-apa dengan masalah yang terjadi diantara kalian, tapi gue tahu. Lo sumber masalah dia, makanya dia gak mau balik ke rumah lo!"
Regi terdiam ditempatnya, walaupun pria dihadapannya lebih tegap dan juga dewasa, dia tidak takut, terlebih semua berkaitan dengan gadis yang dicintainya.
"Denger bocah ingusan! Nia itu tanggung jawab ku, sekarang katakan dimana dia?"
"Gue gak tahu! Kalau pun gue tahu, gue tetep gak bakal kasih tahu lo!"
Zian hilang kesabaran, terlebih lelaki yang menurutnya ingusan itu terlalu berani ikut campur, dan dugaan nya benar, jika dia yang menyembunyikan Agnia, hingga dia maju dan merangsek kerah kemeja yang dikenakan Regi, "Gue tanya sekali lagi! Dimana lo sembunyikan Nia!"
Wajah mereka saling berhadapan, dengan sorot mata yang saling menatap tajam, Regi hanya diam tak melawan, "Ayo pukul ... pukul gue sepuas Lo! Karena seribu kali pun lo tanya ke gue, gue gak tahu!"
"Jangan mancing emosi gue! Lo pasti tahu sesuatu!" ujar Zian dengan mengeratkan cengkeramannya.
Regi menepiskan tangan Zian walaupun dengan susah payah, karena tenaganya cukup berbeda, "Udah gue bilang, gue gak tahu! Yang jelas gue juga lagi nyari dia!"
Ucapan Regi membuatnya tersentak, semua orang mencari Agnia, lalu dimana sekarang dia sedangkan teman-teman terdekatnya saja tidak tahu.
__ADS_1
"Gue emang ketemu dia terakhir saat dia sendirian di tepi jembatan, dan kita ngobrol sebentar. Satu hal yang gue tahu, dia gak baik baik saja! Dan saat gue bilang gue anter pulang, dia gak mau!" ujarnya kemudian.
Zian terdiam, Sedang apa dia tepi jembatan? Pasti saat itu dia sangat kecewa setelah melihat aku dan Dita.
"Kamu serius tidak tahu dia dimana?" Suara Zian kembali berubah, begitupun dengan kata-kata sapaan Lo gue yang keluar dari mulutnya.
Regi menggelengkan kepalanya, berulang kali.
Sementara itu.
Setelah kepergian Zian, sekretaris Kim juga keluar dan melajukan kendaraannya. Dia menuju ke gedung Global globe, dan menemui Wang.
Kim berjalan dengan elegan, masuk keruangan HRD dan duduk begitu saja.
"Panggil nyonya Wang kemari!"
Kepala HRD menganggukkan kepalanya, lalu mengangkat intercom dan menyambungkannya keruangan kepala Humas, setelah menunggu beberapa saat, suara ketukan terdengar dipintu. Nyonya Wang yang tidak lain adalah kepala Humas itu muncul dengan wajah berseri.
"Sekretaris Kim?" sapanya dengan kepala yang sedikit menunduk.
"Mulai besok, kau tidak usah masuk! Posisimu akan digantikan oleh orang lain?"
Ibu Wang tersentak, "Ta--tapi kenapa?"
Kim bangkit dari duduknya, "Kau urus dia! Dan berikan pesangon untuknya."
Sekretaris Pribadi big bos yang terkenal dingin itu keluar begitu saja dari ruangan HRD tanpa mengatakan apa-apa lagi. Dan kini kepala HRD yang menghela nafas berat.
"Maaf Wang, aku tidak bisa membantumu, perbuatanmu kali ini benar-benar membuat big bos murka!"
"Aku ingin bicara langsung padanya! Atas dasar apa dia memecahku Li?"
"Big bos mengirim sekretaris Kim kemari, itu artinya dia tidak ingin bertemu dengan mu Wang! Mengenai alasannya, kau yang lebih tahu Wang!!" ucapnya menohok.
Ibu Wang terhenyak, semua sudah dapat dia duga, yaitu membantu Dita, wanita itu mengepalkan tangan lalu keluar begitu saja.
"Wang ... jangan membantunya lagi atau kau akan lebih menyesal daripada sekarang ini!" seru Kepala HRD yang bernama Li itu, sebelum Ibu Wang menutup pintu ruangannya.
__ADS_1
Sekretaris Kim berjalan keluar, dia merogoh ponsel miliknya dan menelepon Zian,
"Semua sudah beres!"