
Keduanya kembali terdiam, dengan menatap kearah Aya yang tengah duduk, Zian diam-diam melirik Agnia dari atas sampai bawah, dua bulan tidak melihatnya membuat Agnia berubah, dia bertambah cantik dan juga tumbuh dengan cepat, tingginya pun hampir setara dengan sekretaris Kim. Tiba-tiba saja tanpa sadar bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan tipis.
"Aya ... ayo kita pulang!" tangan Agnia terulur kearah gadis kecil yang tengah bingung itu.
"Aya mau eskrim kak Nia!" tegasnya dengan kedua tangan yang terkacak dipinggangnya.
Bagus Aya ... kali ini aku bisa mengandalkan mu. Buat kak Aya mu itu tidak bisa menolaknya dan aku bisa punya waktu untuk menjelaskan semua padanya. Zian membatin dengan ibu jari yang direkatkan dengan jari telunjuk membuat huruf O ke arah Aya.
"Iya ... kita bisa beli ditempat lain Aya!"
"Gak mau ... Aya maunya yang di mall sini! Iya kan," Tatapan Aya berakhir pada Zian, membuat Agnia menoleh pada pria yang berdiri dibelakangnya.
"Gak usah bawa-bawa anak kecil ya!" ketusnya.
Zian menggelengkan kepalanya, "Aku tidak melibatkan Aya!"
"Gak ... kak Nia, dia bilang tadi mau beliin Aya es krim yang gede, tapi jangan bilang ketemu Aya tadi terus mau sembunyi kan tadi!" Cerocos Aya yang kemudian langsung terdiam setelah Zian membekap mulut kecilnya.
"Aku tidak mengatakan begitu! Iya kan Aya ...?"kilahnya.
Agnia melebarkan kedua maniknya tajam kearah Zian, "Apaan sih gak lucu tahu!" ujarnya dengan menarik tangan Zian dari wajah Aya.
Bak aliran listrik yang menyengat saat kulit tipis itu saling bersentuhan, keduanya terdiam sesaat, rasa rindu yang tertahan selama dua bulan itu, membuat Zian tidak bisa mengelak lagi, dia menggenggam lembut tangan Agnia, namun Agnia menepisnya dengan cepat.
Jangan harap gue mau disentuh sembarangan sama orang yang tidak pernah bisa tegas sama perempuan yang udah jelas-jelas nyakitin. Masih mau aja dipeluk peluk dan dicium, jijik banget.
"Kekanak-kanakan banget, ngapain sih ngajarin anak kecil buat bohong!" Ketus Agnia.
"Aku minta maaf Nia, tapi semua tidak seperti yang kamu lihat! Aku bisa buktikan semuanya padamu ... percaya padaku Nia!" ujar Zian terus meyakinkan Agnia.
"Ayo makan Eskrim ... jangan bertengkar terus! Aya udah bosan!" celetuk gadis kecil diantara mereka.
Sampai ada beberapa orang yang lalu lalang mulai melihat ke arah mereka.
"Ayo Aya ... Kakak beliin es krim! Sebelum orang-orang disini berfikir aku ini pria jahat!" Zian mengulurkan tangan padanya, dan seketika Aya bersorak karena senang dan memegang tangan Zian.
"Kau memang jahat! Masih gak sadar juga?"
Aya turun dari kursi dan meraih tangan Zian. "Yeeee ... ayo kak Zian! Aya mau eskrim disana!"
"Ayo Nia! Kau juga harus ikut ... setidaknya buat Aya senang, karena aku sudah berjanji padanya." Zian mengayunkan kedua kakinya mengajak Aya kembali masuk kedalam mall.
__ADS_1
"Ajarin yang bener! Udah tua mau dipanggil kakak ... gak sadar diri banget!" Agnia masih tidak terima karena Aya malah memilih pergi dengan pria yang sebenarnya juga dia rindukan itu.
"Aku tidak mengajarinya Nia! Dia sendiri yang memanggilku begitu!" Zian berjalan lurus mengikuti arah kemana Aya melangkah, sementara Agnia mendengus, namun juga mengikuti langkah keduanya meskipun berjarak beberapa langkah dibelakangnya.
Mereka tiba di stand eskrim, Aya melompat-lompat kegirangan, ditambah tempat itu lebih luas dan terdapat tempat duduknya.
"Kak Nia juga dibeliin kan kak Zian?" tanyanya polos.
"Tentu saja, kalau kak Nia mau! Sekarang Aya tanya kak Nia mau tidak?"
Sudah jelas Agnia dapat mendengarnya, namun Zian justru sengaja bertanya pada Aya. Dia juga senang melihat Agnia yang ketus dan acuh tak acuh padanya, semakin memperlihatkan jika gadis itu tengah cemburu padanya.
"Kak Nia ayo kita pilih!" tukas Aya dengan menarik tangan Agnia.
Zian tersenyum kearahnya, "Ayo Nia ... jangan buat Aya kecewa!"
"Aya ... Aya, sengaja banget Aya dijadiin alasan!"
Zian tidak berhenti mengulas senyuman, saat memperhatikan Agnia yang tengah memilih bersama Aya, dia lantas mendaratkan bokongnya di kursi dan tetap menatap keduanya.
Tak lama keduanya berjalan kerahnya, lebih tepatnya Aya yang menarik tangan Agnia hingga dia tidak dapat menolak gadis kecil yang tengah senang karena keinginannya terpenuhi.
"Udah milihnya?" tanya Zian.
"Aya ... panggil dia Om Zian! Bukan kak."
Aya yang tengah menatap Agniapun beralih menatap Zian, "Om ya?"
"Aya boleh panggil apa saja!" kilah Zian pada Agnia yang mempermasalahkan panggilan yang sepele itu.
"Enggak boleh, ajarin dia yang bener! Ayo Aya ... apa yang kak Nia bilang?"
Aya mengangguk, "Aya harus nurut!"
"Terima kasih Om Zian."
Zian mengulum senyum karena sikap Agnia yang membuatnya kembali terpesona, dibalik umur yang masih terbilang sangat muda itu, Agnia memiliki sifat dewasa dan juga tangguh, tidak salah selama ini dia menyukainya, Agnia wanita yang memiliki prinsip, dia juga tidak mudah ditindas.
Ketiganya duduk dengan Agnia yang berhadapan dengan Zian, dan Aya duduk disamping Agnia, dia menikmati es krim miliknya. Sementara Zian menatap Agnia tanpa berkedip.
Dia lantas merogoh ponsel miliknya dan memutar rekaman video dari CCTV yang dia dapatkan dari kantor Global globe, "Aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Lihatlah ini!"
__ADS_1
Video itu berputar, dari mulai kedatangan Dita yang juga sebenarnya dia lihat pagi itu, ditambah ibu Wang yang ternyata membantunya, lalu kedatangan Dita kedalam ruangannya.
"Kau bisa lihat, aku disana tidak melakukan apa yang khawatirkan! Aku tidak membalasnya."
"Iya tapi kau diam dan menikmatinya!"
Amarah itu kembali tersulut, Agnia kesal karena Zian masih membela dirinya karena dia memang hanya diam pada saat itu.
"Kau kan bisa saja menyuruhnya keluar! Sudah jelas jelas dia itu menjebakmu! Dan kau juga salah, aku bukan marah karena dia mencium dan memeluk mu. Tapi aku marah pada sikapmu yang lemah! Kalau masih menyukainya, kembali saja padanya! Kenapa malah mencariku?"
Agnia meletakkan sendok es krim dengan sedikit kasar, bagaimana bisa pria sedewasa Zian masih bisa dipermainkan Dita semudah itu.
"Aku tahu aku salah karena tidak tegas menolaknya, tapi waktu itu dia mengatakan kalau dia akan pergi dan datang ke kantorku hanya untuk berpamitan, dan dia ingin memelukku untuk terakhir kalinya!" terang Zian, mengatakan semuanya yang terjadi tanpa kecuali.
"Dan kau percaya gitu aja?"
"Aku tahu aku salah Nia ... maafkan aku!" ujar Zian dengan meraih tangan Agnia diatas meja.
"Kembalilah pulang kerumah! Kita teruskan rencana kita untuk segera menikah!" ujar Zian kemudian.
"Kak Nia mau nikah sama Om Zian? Kak Nia kan masih sekolah? Kenapa bisa menikah!" tanya Aya membuat keduanya terdiam.
Agnia menarik mundur jemarinya, "Maaf ... tapi aku tidak berniat buat kembali ke rumah Om Zian, aku udah sangat nyaman dengan hidupku sekarang, sama Aya juga!"
Ucapan Agnia tentu saja tidak main-main, dia memang sudah memutuskan untuk tidak kembali kerumah Zian, dia ingin fokus dengan sekolahnya dulu, keinginannya menikah dengan Zian pun ditahannya.
"Bagaimana dengan rencana kita untuk menikah Nia?"
Agnia terdiam, dia tidak bisa menjawabnya saat ini. Dia masih bingung dan sulit memutuskan, karena dia juga tidak ingin kehilangan Zian.
Zian menghela nafas, "Aku akan tetap berusaha untuk membuatmu kembali yakin Nia, dan aku bersungguh-sungguh dengan ucapan ku! Kalau kau tidak ingin kembali kerumah dan tinggal bersamaku, aku terima. Tapi kalau melepaskan mu, maaf aku tidak bisa! Aku akan tetap mengejarmu Nia."
"Kalau begitu selamat mencoba!"
.
.
.
Ayo Om kejar sampe dapet, tapi jangan gegabah, Nia gak murahan jadi harus sekuat tenaga yaa..
__ADS_1
Wwkwkwk othor Lo dukung siapa sih sebenernya??