
Othor sih tadinya gak mau nampilin visual biar para readers yang visualin dengan kehaluannya masing masing. Tapi kemarin ada masukan dari salah satu reader gimana kalau othor kasih beberapa pilihan biar reader yang nentuin, jujurly itu susah banget karena bakalan gak sama sih...
Jadi othor kasih visual yang selama ini othor sendiri yang haluin saat ngetik. Kalau gak sesuai dengan ekspektasi kalian gpp ... semua tergantung kehaluan masing masing yaa.
OKE CUSS
Yang pertama babang Ziandra Maheswara, pria 34 tahun, pengusaha di bidang perhotelan, sikapnya penyayang apalagi kalau udah cinta, bisa norak dan bucin. Tapi sangat serius kalau bicara apalagi bekerja.
Uucchh tatapannya itu🤣🤣....
Nih Kalau jadi Pak guru Zian, jambang ma jenggot dan kumis tipis cukur dulu baru ke sekolah
Yuk mau jemput Nia di parkiran 😅
a
Abang Zian olahraga dulu, biar kuat.
Nih neng Agnia Sarasvati, 17 tahun, cantik, pintar, tidak mudah di tindas.
Gimana menurut kalian?? cocok gak?
Agnia, Cecilia dan Nita, musuh yang akhirnya jadi teman baik..
Cepol Cepol ... gaya rambut khas Agnia kalau lagi mager, eeehh malah jadi kesukaan Zian karena bisa lihat lehernya yang putih.
Nih
Daddy Dave 37 tahun yang suka tebar pesona. Tegas tapi gak jelas, plin plan tapi kesayangan Nia. wkwkwkw
u
Kalau ini jangan ditanya, dia Ayana hakim alias Kim. 37 tahun Sekretaris perpeksionis dan tidak mudah ditebak, sikapnya datar, tatapannya tajam dan hanya peduli pada Zian dan juga Nia.
Nah mereka visual othor, kalau kalian punya visual sendiri it oke gak apa apa. Semua othor serahkan sama kalian gimana enaknya. hihihi
Dan karena bab ini pendek kalau lagsung up tentang visual doang jadi cus langsung baca.
Jangan lupa like, komen, gift, rate 5 dan vote sekalian...hihihi.
Makasih juga buat semua dukungan, semua komen yang gak sempet dibalas, dan semua emosi yang bagi othor itu adalah support sistem. Lope lope badag buat kalian.
.
__ADS_1
.
.
Kim hanya mengangguk kecil, baginya memang sangat sulit berduaan dengan pria karena dia tidak pernah terlibat asmara sebelumnya, dia terbiasa hanya dengan Zian.
"Maaf, apa aku membuatmu tidak nyaman sekretaris Kim?" Seloroh Dave.
"Maaf Mr Dave, apa kau terganggu?" Kim justru balik bertanya,
"Tentu tidak sekretaris Kim, maaf jika sikapku kemarin membuatmu tidak nyaman."
Kim mengulas senyuman, "Terima kasih sudah mengerti."
"Tapi apa kita bisa berteman? Aku fikir berteman denganmu akan sangat menyenangkan."
Kim tampak terdiam, dia juga tidak ingin terlibat perasaan nantinya, tapi dia juga tidak bisa menolak jika hanya berteman bukan.
Kim akhirnya mengangguk, "Tentu saja kita bisa berteman Mr Dave,"
Dave mengulum senyuman, "Nasihat dan pendapatmu akan sangat membantuku Sekretaris Kim!"
Kim tersenyum, lantas dia pamit pergi dan menghampiri beberapa orang, Dave masih menatapnya dengan penasaran, dia masih belum bisa menebak apa yang ada di fikiran Kim saat ini.
Sementara Agnia dan Zian menatap mereka berdua dari kejauhan.
"Sudah ku bilang, Daddy sepertinya menyukai Sekretaris Kim kan!"
"Aku rasa tidak, dia hanya penasaran saja!"
"Pantas saja penasaran, Sekretaris Kim itu memang bikin penasaran. Apa dia sudah punya pacar atau bahkan menikah?"
Zian mencuil hidungnya, "Hei ... makan makanan mu, jangan terus mengurusi mereka, biarkan saja, mereka sudah dewasa. Dan lebih baik kita bicarakan tentang kita saja. Hem!"
Agnia mendengus, "Dasar ... memangnya kenapa kalau aku pengen ngomongin mereka!"
"Kita akan secepatnya menikah! Aku akan mengurusnya. Kamu hanya tinggal memberitahu ibumu saja." ujar Zian tiba tiba.
Agnia menoleh, "Tunggu ... secepatnya? Ayolah Om ... sebentar lagi aku ujian kelulusan, apa gak nanti aja setelahnya?"
Zian menggelengkan kepalanya, "Nanti atau sekarang kan sama saja!" ujarnya dengan beranjak dari duduknya dan mengambil sepiring salad.
Agnia mengikutinya dari belakang, dia memang ingin menikah tapi tidak buru buru seperti itu juga.
"Memangnya mau tunggu apa lagi sayang?"
Agnia menatap ayahnya, lalu kembali menatap Zian, "Ayahmu sudah setuju, dia menyerahkan semuanya padaku!"
Gadis itu tidak lagi bisa berkata kata apa apa lagi, dia hanya terdiam, perasaan senang, haru, kaget bercampur jadi satu.
"Kamu tenang saja! Ini pasti akan menyenangkan, aku pastikan kebahagianmu Nia."
.
.
.
Agnia hanya terdiam, dan bersandar di seat mobil, sementara Dave menyetir dengan sesekali melirik ke arah putrinya.
"Nia? Are you Ok?"
Agnia mengangguk kecil, "Ya ... Nia hanya sedikit kaget aja!"
"Kenapa? Nia tidak menyangka akan menikah di usia muda?"
__ADS_1
"Nia hanya tidak menyangka akan secepat ini!"
"Zian memang berbeda dengan Daddy, dia sangat serius dengan seorang wanita, tidak pernah main-main seperti Daddy."
Agnia kembali terdiam, Dave mengusap kepalanya lembut, "Kau tenang saja, Zian juga tidak mungkin mengajakmu menikah besok kan?"
Agnia sedikit tertawa kecil, "Tidak mungkin juga Dad! Masa iya nikah besok!"
"Iya Daddy juga mengatakan seperti itu tadi! Mana mungkin besok, memangnya mau menikah setelah pulang sekolah!"
Kali ini keduanya tertawa, "Itu konyol! Konyol sekali." ujar Dave.
"Banget!!"
Keduanya pergi ke kantor Laras, mereka sengaja datang menemui Laras karena ingin sama sama melihat kantor baru milik Dave, pria berumur 37 tahun itu menunggu di luar, sedangkan Agnia masuk terlebih dahulu.
"Maaf Non, ibu Laras sedang rapat! Lebih baik non menunggu, sepuluh menit lagi selesai." ujar Resepsionis saat Agnia bertanya dimana ibunya.
"Baiklah, katakan pada mommy, Nia tunggu di lobby. Ada Daddy juga!"
Resepsionis itu mengangguk, lalu mempersilahkan Agnia untuk menunggu disatu ruangan di lobby.
Setelah beberapa lama, akhirnya Laras turun, dia menemui Agnia lalu keluar.
"Mana your Daddy?"
"Daddy nunggu di mobil, kita akan langkung ke kantor baru Daddy."
"Baiklah ... tunggu disini, Mommy ambil tas dulu." ujarnya kembali bangkit.
"Mommy?"
Laras berbalik, "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa Nia?"
"Apa mommy gak keberatan kalau Nia menikah dalam waktu dekat?"
Laras mengulas senyuman, "Kita bicara bertiga dengan Daddy ya ... tunggu disini."
Dalam perjalanan ke ruangan Laras menelepon Dave agar menemuinya, dia menyuruhnya masuk kedalam lobby dan menunggu bersama Agnia.
Dave pun masuk dan menunggunya,
"Daddy? bukannya Daddy nunggu di mobil?"
"Mommy mu menelepon, dia menyuruh Daddy menunggu disini."
"Tadi Nia sempat bilang pada Mommy masalah pernikahan. Apa menurut Daddy mommy akan setuju?"
"Daddy tidak tahu! Lebih baik kita menunggunya."
Tak lama Laras kembali masuk,
"Dave? Kau sudah disini?" sapanya.
"Ya Laras! Tadinya aku hanya akan menunggu di mobil karena takut mengganggu."
"Tidak masalah, toh mereka sudah mengetahui kau mantan suamiku tapi tetap ayah anakku Dave." Laras menarik kursi lalu menghempaskan tubuhnya, "Ini mengenai putri kita? Kau setuju begitu saja Dave, dia masih muda? Kenapa kau tidak keberatan, bagaimana dengan masa depannya, pendidikannya, juga emosinya yang belum stabil?"
Agnia tercengang dibuatnya, begitu pun Dave yang membisu, Laras menatap ke arah sang putri.
"Nia apa kau yakin sayang? Pernikahan itu tidaklah mudah, mommy hanya khawatir."
"Apa mommy tidak ingin melihat Nia bahagia kayak mommy pernah bilang sama Nia, kebahagiaan Nia lah yang utama, Nia bahagia sekarang, dan Nia yakin Om Zian pasti akan membuat Nia bahagia."
__ADS_1
Laras menarik bibirnya melengkung, dia mengangguk pelan dengan mengusap punggung tangan Agnia. "Mommy harap Nia selalu bahagia! Tapi apa harus secepat ini?"