Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 308


__ADS_3

Hingga kehamilan Agnia menginjak usia 25 minggu, Zian tidak hanya over protektif, dia bahkan tidak mengijinkan Agnia melakukan apa apa, sudah lebih dari tiga bulan dia masih tidak tahu jika Serly sudah tidak ada, Cecilia dan Nita pun tidak berani memberitahunya karena larangan Zian. Semua orang menjaga rahasia itu agar Agnia tidak mengetahuinya, entah sampai kapan.


Disela over proktetifan Zian yang menjaga Agnia seketat mungkin di kehamilannya, berujung pada Agnia yang kini benar benar bergantung pada Zian, dia tidak lagi menjadi keras kepala, malah justru sebaliknya. Penjelasan Dokter Siska terkait kehamilan di usia muda, yang masih sangat rentan benar benar difikirkannya. Alhasil Agnia hanya bisa menuruti semua aturan yang dibuat oleh Zian, tidak boleh keluar rumah selain dengannya, tidak boleh jajan sembarangan, tidak boleh makan fast food, termasuk es boba kesukaannya, tidak boleh naik turun tangga. Dan banyak hal hal remeh lainnya. Dan itu berlaku pada semua orang yang ingin bertemu dengannya termasuk Cecilia dan Nita.


Setiap tas akan diperiksa, bahkan semua makanan yang dibawa untuknya.


"Gila, ketemu lo kayak ketemu ratu inggris!" celetuk Cecilia saat berkunjung ke rumahnya. Dan Agnia hanya terkekeh.


Begitu pun dengan Dave dan Kim yang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan, mereka datang hanya untuk memberikan pilihan Dress yang akan di pakai oleh Agnia nanti.


"Sayang, ayo! Katanya mau memilih dress untuk hari pernikahan ayahmu." ujar Zian mengguncang bahu istrinya yang masih bermalas malasan di atas kasur.


Agnia menolehkan sedikit kepalanya, menatap lirih ke arah suaminya yang sekarang lebih banyak di rumah dari pada bekerja.


"Hubby, kenapa gak kerja lagi?"


Zian naik ke atas ranjang, masuk kedalam selimut dan memeluk sang istri, tangannya menggerayang di perutnya, "Menghabiskan waktu dengan mu dan anak kita lebih penting dari mengurus pekerjaan."


Agnia menarik sudut bibirnya ke atas, serta memutar tubuhnya yang mulai sulit bergerak, "Mau jadi pengangguran banyak uang?"


Zian tergelak, mengecup pucuk kepala Agnia, "Aku sudah bekerja keras sejak dari aku masih muda, dan aku bisa pensiun di usia 30 an. Ayo ayah mu sudah menunggumu."


Agnia menghela nafas, rasanya dia ingin cepat cepat melahirkan agar bisa bergerak bebas lagi, lepas dari aturan hal hal remeh yang banyak dari suaminya. Dia sampai menghitung jarinya,

__ADS_1


"Tujuh, delapan, sembi---"


"Tidak usah di fikirkan, sekarang atau nanti! Aku tidak akan berubah, atau bahkan lebih ketat jika anakku sudah lahir. Hem?" Sela Zian mengedipkan satu mata ke arahnya.


"Hubby ih!"


"Semua aturan ini untuk kebaikanmu, kebaikan anak kita dan sudah pasti untukku juga. Keluarga kita sayang."


"Iya ... Iya, bawel, aku udah mulai terbiasa, udah kayak di penjara. Udah ayo, Nia ingin ketemu Daddy." ketusnya dengan menyambar ikat rambut di atas meja.


Zian mengulum senyuman, mengambil ikat rambut dari tangannya lalu memutarkan tubuhnya ke belakang, dia mengambil semua rambut Agnia hingga bergulung di tangannya.


"Aku tidak mau merasakan lagi apa itu kehilangan Nia, aku sudah kehilangan kedua orang tuaku, aku juga kehilangan kakek ku karena ke egoisanku, kehilangan Jasmine dan anaknya karena keteledoranku. Dan aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama, jadi aku mohon mengertilah kenapa aku melakukan semua ini padamu." lirihnya sambil mengikat rambut Agnia.


"Jangan khawatir lagi! Nia akan nurut semua perkataanmu Hubby. Nia tidak akan keras kepala dan mengeluh lagi."


Zian terkekeh, mengecup pucuk kepalanya dengan lembut. "Sayang sekali, dokter Siska juga melarangku melakukan hal menyenangkan sering sering, kalau tidak aku sudah akan menyerangmu."


"Iih ... ngeselin!" ucap Agnia dengan mencubit pinggangnya.


Keduanya akhirnya keluar dari kamar, menuju ke bawah dengan sangat hati hati, menemui Dave dan Kim yang telah menunggu.


"Aku fikir kita ini sedang bertukar posisi!" seru Dave yang tengah duduk di sofa.

__ADS_1


"Apa maksudmu Dave?" Tanya Zian, begitu juga dengan Kim dan Agnia yang penasaran.


"Iya, seperti ini ... Kita yang menikah tapi kalian yang di istimewakan! Seharusnya kami yang calon pengantin yang mendapat keistimewaan ini." dengusnya, dia bangkit dan menghampiri Agnia.


"Bagaimana keadaanmu?"


Zian menarik sudut bibirnya hingga terangkat, "Kim! Masih ada waktu untuk membatalkannya!"


"Hey, jangan memperngaruhi calon istriku! Dia akan jadi ibu mertuamu! Kau ini." ujarnya memukul bahu Zian.


Sementara Kim hanya mengulas senyuman tipis, dia sibuk dengan dua orang wanita dari butik yang membawa dress untuk Nia.


"Daddy!"


"Maaf sweetheart, Daddy sangat kesal dengan dia! Selalu saja begitu! Tidak ada hormatnya pada mertua. Ayo cepat pilih, tapi jangan sampai dress kalian lebih bagus dari pengantinnya." ujar Dave dengan kembali menghempaskan bokongnya di sofa.


Kedua orang wanita dari butik menperlihatkan gaun pada Agnia, yang berbeda model dan juga warna.


"Yang kanan bagus!" Bisik Zian,


Agnia mengangguk, itu juga pilihan pertamaku, tapi nanti kita kelihatan lebih wah gak dari pada pengantin." menoleh pada Zian dengan wajah penuh kerisauan.


"Kita memang akan terlihat wah di acara mana pun baby! Kau tidak perlu risau. Pilih saja yang kau suka."

__ADS_1


__ADS_2