
Serly tampak geram, dia bahkan menendang tong sampah yang terletak tak jauh dari unit apartemen milik Dave. Bagaimana tidak, dia datang dengan merendahkan dirinya sendiri, berniat menggoda Dave, mencari tahu Agnia yang disinyalir berhubungan dengan Zian.
Wajahnya merengut, ketidak puasan juga terlihat kentara di wajahnya, menyeret kakinya keluar dari gedung apartemen itu.
"Kenapa sih, nasib gue begini banget! Padahal gue hanya ingin persahabatan gue balik kayak dulu, gue, Nia, Vina. Bukan duo racun yang hanya bisa pengaruhin Nia buat jauhin gue." Gumam Serly dengan nada lirih, menginginkan dirinya berbaikan dan kembali bersahabat, namun dia tidak sadar cara yang dia lakukan justru semakin membuat pertemanannya jauh.
Tiiin
Klakson motor terdengar nyaring, lalu berhenti tiba tiba serta terguling karena menghindari Serly yang hampir saja tertabrak.
"AAaaaa astaga!" Pekik Serly melihat orang yang mengendarai motor itu jatuh dengan motor yang menimpa kakinya.
"Lo punya otak gak sih! Tahu bedanya trotoar dan badan jalan?" orang itu berkata dengan membuka helm full face nya, berusaha mengangkat motornya agar ada celah untuk kakinya bisa keluar, namun tidak sekalipun dia melihat ke arah Serly.
Sementara Serly membulatkan pandangannya, saat dia mengenali sosok didepannya. "Regi?"
Regi baru mengangkat kepalanya setelah gadis itu memanggil namanya, dia juga tersentak karena gadis yang hampir saja tertabrak itu ternyata Serly.
"Sorry Gi! Gue gak maksud ...!"
"Untung lo gak ketabrak Serl! Lo ngapain sih malem malem gini ada di jalanan?" kedua mata Regi berkeliaran menatap Serly lalu gedung apartemen dimana kini dia berdiri, bersikap dingin pada Serly karena tahu seperti apa Serly selama ini.
"Gue ada urusan! By the way lo gak apa apa kan?"
Regi menggelengkan kepalanya, untung saja dia tidak sedang mengebut, hingga jatuhnya tidak terlalu keras, kalau tidak mungkin dia sudah terpelanting jauh atau bahkan menabrak pohon.
"Lo yakin Gi? Kaki lo gak apa apa?"
"Gak!" Regi mengangkat motornya, ingin segera melaju pergi, tidak ingin peduli pada orang lain disaat suasana hatinya buruk seperti ini.
Namun sayang, motornya tiba tiba tidak bisa menyala, mesinnya mati. Regi pun meraup wajahnya kasar. Melihat hal itu Serly mendekatinya,
"Lo mau gue panggilin bengkel?"
__ADS_1
"Lo gila! Mana ada bengkel buka jam segini!" ketus Regi, dia tidak ingin bermanis manis pada gadis bermuka seribu itu sama sekali, dengan sahabatnya saja, masih bisa berbuat licik apalagi orang lain.
Namun nyatanya Serly tidak begitu, dia mengenal Regi dari sekolah tingkat pertama, bersama Agnia juga, dan mereka tidak ada masalah. Hanya saja sikap Serly tidak mudah di tebak, dia bisa melakukan apapun jika kecewa.
"Gue telefon orang bengkel langganan bokap gue." Ujar Serly merogoh ponselnya, mengotak ngatiknya sebentar lalu melakukan panggilan keluar. Regi melihatnya sekilas, namun dia tidak peduli, yang penting, motornya bisa menyala dan dirinya bisa pulang dengan cepat.
"Lo habis dari mana Gi?"
"Bukan urusan lo!" Regi benar benar tidak ingin peduli.
"Galak banget lo sama gue! Gara gara gue jahat sama Nia ya?"
"Lo bukan cuma jahat tapi lo licik! Ngaku sahabat tapi gak berhenti bikin ulah." ucapnya dengan ketus.
Serly mengangkat senyuman datar, dia memang jahat dan juga licik, tapi dia merasa punya alasan untuk melakukan hal itu, dan mereka tidak ada yang mengerti.
Seseorang dari bengkel yang di hubungi Serly akhirnya datang untuk memperbaiki motor Regi. Sementara Regi memilih duduk di kursi yang kebetulan ada tidak jauh dari situ.
"Lo banguin gue Gi?"
"Hm!" ujar Revi dengan nada malas, bahkan menoleh pun tidak.
"Lo tahu Nia ada hubungan spesial sama pak Zian? Guru kelas tambahan di sekolah gue?"
Regi menoleh, menelisik kedua mata Serly dengan tajam. "Lo jangan bikin ulah lagi sama Nia! Sebenernya dia salah apa sih sama lo! Lo sampai terus ngusik dia ... gak kapok kapok! Lo pengen kayak si Vina? Iri di piara, preatasi yang harus lo iriin dari dia."
"Justru itu Gi ... semenjak Nia bergaul dengan Cecilia dan Nita, dia tinggalin gue begitu aja! Dia gak mau temenan sama gue lagi."
"Heh Ser! Lo harusnya nyadar, kalau lo pengen sahabatan lagi! Lo harusnya rubah sikap lo!"
"Lo tuh pengen baik tapi cara lo begitu! Yang ada Nia males temenan sama lo! Tukang ricuh, biang gosip, malah jatohin nama baik temen lo sendiri! Dan seenaknya lo bilang semua gara gara Cecil dan juga Nita! Lo gak sadar? semua gara gara lo sendiri, bukan mereka!"
"Lo gak tahu mereka Regi! Mereka bikin Nia jalan sama om om dulu! Dan sekarang sama Zian! Dan lo tahu kemaren gue juga di suruh jalan sama om om! Mereka kerja sampingan menjadi sugar baby Regi! Mereka toxic, dan sekarang Nia jiga kebawa bawa.
__ADS_1
"Apapun alasan mereka ngelakuin hal itu ... lo gak berhak Serly! Yang jelas mereka berdua lebih baik dari lo! Jadi gak usah mengkambing hitamkan orang lain atas apa yang lo lakuin, sebenarnya tujuan lo apa sih?"
Serly terdiam, seolah mencerna ucapan Regi, tak lama kemudian bahunya bergetar, dengan kepalanya yang tertunduk.
"Gue ... ngerasa sendirian Gi selama ini! Gue kesepian, satu persatu orang yang gue sayang pergi! Vina, Nia, bahkan nyokap gue, bokap juga, Adam. Semuanya Gi!" ujarnya dengan lirih, pipinya basah karena air bening jatuh begitu saja.
"Lo sendiri yang bikin mereka jauhin lo Serly! Sikap lo itu menyebalkan, lo juga bermuka dua! Daripada lo nyari kesalahan orang, lo perbaiki diri lo sendiri."
Regi bangkit dari kursi, saat seorang pria yang disuruh memperbaiki motor miliknya jiga berjalan ke arahnya.
"Sudah mas?"
"Sudah aa,"
Regi mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya, namun Serly mencegahnya.
"Gak usah Serly! Gue gak mau hutang budi sama orang lain apalagi sama lo."
Setelahnya, Regi memberikan sejumlah uang pada pria dari bengkel itu, menaikinya lalu mencoba mesinnya.
"Thanks pak! Gue duluan!" katanya pada Serly yang masih menangis tergugu.
Regi memasangkan sarung tangan, sesekali melirik Serly yang tengah menangis dari spion motornya.
Pria dengan usia tanggung itu menghela nafas, lalu memundurkan motornya sedikit hingga berada di depan Serly.
"Ayo ... gue anter lo pulang!"
Keduanya melaju diatas motor, tapi tangis Serly masih belum berhenti juga.
"Mending lo diem deh! Lo nangis beneran apa enggak gue gak bisa bedainnya." Perkataan Regi jelaa menohok, dan gadis itu justru terkelengkup tak sadarkan diri dipunggung Regi.
"Sial ...!"
__ADS_1