Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 76


__ADS_3

"Udah deh Om gak usah ngaco!"


"Lho siapa yang ngaco? Aku hanya ingin membantumu, karena ini sudah waktunya pulang Nia."


Agnia meletakkan bolpoin diatas meja dengan sedikit kasar,lalu menatap Zian dengan tajam.


"Kenapa Om selalu berubah ubah, kadang kasar dan galak, tapi sekarang Om itu baik dan membantuku!'


Zian menghela nafas, "Aku minta maaf, kemarin mungkin suasana hatiku tidak karuan, tapi sekarang aku sadar, sikapku berlebihan padamu!"


"Karena Dita? Dan Om lampiaskan semuanya padaku seenaknya?"


"Bukan begitu Nia," ujarnya dengan melihat ke arah lain, takut jika ada seseorang selain mereka berdua, "Lebih baik kita bicara ditempat lain!"


"Nia gak mau, bicara disini saja!" Zian menghela nafas.


"Om masih sakit hati dan kecewa sama Dita kan? Dan jangan jadikan kehadiran aku jadi pelarian rasa kecewa Om pada Dita, aku bisa pergi dan hidup dengan baik! Begitu juga Om."


"Aku hanya peduli padamu Nia, aku memang kecewa, aku memang sakit hati terhadap perlakukan nya padaku, tapi kehadiran kamu tidak aku jadikan pelarian seperti yang kamu katakan. Tapi kalau kamu merasa seperti itu, aku minta maaf!"


Agnia mendengus, dengan tangan melipat didepan dada, "Gak semudah itu minta maaf, sama halnya dengan Om yang selalu nuduh Nia, yang bukan bukan, sampai Om bertanya soal tarif pada Cecilia."


Andai kamu mengerti apa isi hati ku ini Nia, aku hanya ingin kamu selalu berada di dekatku, sampai aku lupa jika aku pernah sakit hati dan kecewa, aku bahkan tidak peduli lagi pada Dita, itu karena ada kamu disisiku, kamu lebih berarti saat ini.


"Om minta maaf untuk masalah itu, itu karena Om hanya ingin kamu berhenti dari pekerjaan sampingan mu, apalagi hanya sekedar membantu Cecilia, karena semua demi kebaikanmu Nia, apalagi kamu selalu bilang kalau kamu tidak seperti yang aku tuduhkan, jadi alang___"


"Stop ... Nia paham maksud Om! Harusnya aku juga gak bantuin Cecilia dalam masalah itu!"


Zian mengacak rambut Agnia, "Gitu dong! Anak pinter."


Agnia menepis tangan Zian, "Eeh ... Nia belum maafin Om ya, jadi jangan seenaknya!"


Zian mengulum bibir, "Kalau gitu, Om harus apa agar Nia maafin Om!"


Agnia tampak berfikir lalu mengulas senyum dibibirnya, "Nih ... kerjain catatan Nia sampai selesai, tulisannya harus rapi dan juga mirip!"


Zian terperangah, merasa dia seorang dewasa telah dipermainkan oleh seorang bocah.


"Kalau gak sayang aku mana mau melakukannya!" gumamnya pelan.


"Apa ... jangan menggerutu!"


Zian mengambil bolpoin dan juga buku Agnia, "Tidak, siapa yang mengerutu!" ucapnya dengan membalikkan tubuhnya menghadap ke depan, dan mulai mencatat materi pelajaran milik gadis yang bagai candu baginya.


Rasain Lo, gue kerjain! Tapi emang ada benernya juga, gue gak mesti lakuin hal itu, agar orang lain gak berfikir gue sama kayak mereka. batinnya dengan menatap punggung Zian dari belakang.

__ADS_1


Tak lama kemudian Zian kembali berbalik dan menyerahkan buku catatan milik Agnia beserta buku milik Bu Sri.


"Eh ... kok cepet! Jangan asal ya Om! Nia nanti gak ngerti." ucapnya saat menerima buku dari tangan Zian.


Zian hanya tersenyum, "Lihat saja, kalau Nia tidak mengerti, aku akan tambahkan!"


Agnia berdecak kagum karena tulisan Zian sangat rapi, ditambah catatan yang Zian buat menjadi sebuah rangkuman hingga lebih sedikit, point-point penting dia lingkari dengan tanda lalu memakai bolpion warna agar mudah dicari.


"Keren juga ternyata!"


"Udah kan? Jadi Nia maafin Om kan?"


Agnia memasukan peralatan sekolahnya ke dalam tas, "Enak saja, ini baru permulaan ya! Per mu laan." ujarnya penuh penekanan, lalu beranjak dari duduk dan keluar dari kelas. Sementara Zian berdecak, "Mana ada yang begitu! Perjanjian awal tidak ada kata-kata seperti itu." dia ikut bangkit dan menyusul Agnia keluar.


"Adalah, baru saja perjanjian nya!" ujar Agnia mengulum senyum lalu masuk ke dalam ruang guru.


Zian menggelengkan kepalanya, "Kalau tidak ribut, dan membuat kesal, kamu semakin manis dan juga cantik Nia, senyummu itu!" gumamnya dengan tersenyum.


Setelah keluar dari ruang guru, Agnia menghampiri Zian yang tengah mengotak-ngatik ponsel,


"Sudah ...?"


"Huum ... kalau begitu kita pulang? Atau makan dulu."


Agnia menepuk jidatnya sendiri, "Astaga, Nia lupa, tadi kan Cecilia dan Nita nungguin Nia di parkiran!"


"Benarkah?"


"Huum ...!"


Telunjuk Agnia terangkat ke arah Zian, "Pasti Om yang nyuruh mereka pergi! Iya kan?"


"Iyalah, kasian kan mereka nungguin kamu kelamaan, udah yuk! Aku sudah lapar." Zian melangkah dengan menarik tangan Agnia.


"Iih ... Nia bisa jalan sendiri!" ujarnya dengan melepaskan tangan Zian.


Mereka pun berjalan bersisian diselasar gedung, dengan jarak yang lumayan, "Seperti anak dan ayah!" Gumam Zian, yang menoleh ke arah Agnia.


"Emang, baru sadar kalau Om udah tua! Mungkin umurnya tidak beda jauh dengan orang tua Nia."


Zian mendengus dengan mendekat ke arah Nia, hingga berjalan berdampingan, "Kalau begini?" ujarnya dengan menggenggam tangan Agnia.


"Kayak anak dan ayah mau nyebrang jalan!" ketus Agnia.


Zian terkekeh, lalu merangkul bahunya, "Kalau begini?"

__ADS_1


"Kayak anak dan ayah lagi jalan-jalan ke pasar malem!" ujarnya menepis tangan Zian dari bahunya.


"Kok ayah dan anak terus! Gak ada yang lain?"


"Apaan ih ... gak jelas banget deh Om! Emangnya Om mau di kira siapanya Nia? Pacar ...?" ujarnya tanpa tedeng aling aling.


Zian menggaruk tengkuknya, "Memangnya Nia mau jadi pacar Om?"


"Ngarep banget!!" serunya dengan menginjak kaki Zian yang dibalut sepatu kets berwarna putih, hingga menjadi kotor.


Agnia berlari dengan terkekeh, sementara Zian mendengus kesal karena sepatu yang tidak pernah kotor itu kini bernoda.


"Dasar anak-anak!"


.


.


Zian terdiam didalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, sementara Agnia tengah bergumam-gumam dengan headset yang terpasang di kedua telinga nya.


Sesekali Zian melirik ke arahnya dengan bibir yang tersungging lalu berhenti di satu kafe.


"Kita makan dulu?"


Agnia tidak mendengar suara Zian, dia tetap bersenandung ria, membuat Zian mendekatinya lalu membuka headset yang menempel di telinga kirinya, "Nia kita makan dulu!"


Deg


Agnia terdiam, saat hembusan nafas Zian berhembus mengenai telinganya, jarak wajah mereka sangat dekat, membuat jantung keduanya berdetak dengan kencang, apalagi yang dirasakan Zian, sebagai seorang pria dewasa dan berpengalaman, saat inilah biasanya dia akan beraksi.


Agnia terpaku, dengan tatapan meneduhkan dari Zian, tangannya terulur menyempitkan sedikit anak rambutnya kebelakang telinga, membuatnya didera perasaan yang di sendiri tidak paham, tapi jantungnya berdegup kencang.


Sesaat mereka saling menatap, lalu mengerjap bersamaan, Zian memundurkan tubuhnya ke posisi semula, begitu juga Nia yang berdehem-dehem pelan.


"Aku lapar!" ujar Agnia.


"Iya kita makan dulu."


Mereka memang pernah berciuman, walau hanya sekedar menempel saja, namun kali ini keduanya didera kegugupan.


Aku harus bisa mengontrol diriku sendiri, jangan sampai Nia kabur lagi karena perbuatanku.


"Nia mau makan apa?"


"Hah ... euuh, yaa makan apa saja pokoknya yang penting makan!"

__ADS_1


Sumpah, degdegan banget!


__ADS_2