Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 215


__ADS_3

"Kau ini!"


Zian mengangkat bokongnya yang menempel di sofa, lalu berjalan menghampiri Dave juga Agnia, dengan kedua tangan yang merentang memeluk mereka berdua, namun Dave menghentakkan bahunya,


"Hei ... aku masih normal!"


Sementara Agnia tertawa, menarik kesimpulan jika hubungan keduanya akan membaik setelah ini, maka jika itu terjadi hidupnya akan semakin bahagia.


"Zian ... lepaskan tanganmu!"


"Hanya sebentar saja Daddy mertua," ucap Zian dengan tertawa.


"Kau lihat suamimu ini, sepertinya dia membutuhkan obat." Seru Dave dengan kembali menghentak bahunya.


Manik Zian membola, dia menatap Zian dari jarak yang sangat dekat, "Kau benar mertuaku tersayang, aku butuh obatku malam ini juga!"


Cup


Zian mengecup rambut Dave sekilas lalu menarik tangan Agnia dan tentu saja tergelak, "Come on baby ... aku butuh obatku sekarang!"


"Hei ... Nia masih belum belajar Om!"


"Nanti saja!"


"Zian!!! Kau memang menantu kurang ajar!" seru Dave dengan tertawa, melihat putrinya diseret oleh Zian naik ke atas dan masuk ke dalam kamar.


Dave menggelengkan kepalanya berulang kali, namun bibirnya mencoba melengkung lebar dan menghirup nafas panjang.


"Kim benar ... aku sudah harus membiarkan mereka bahagia! Semoga kau selalu bahagia Sayang." gumamnya lalu naik ke atas, dia menuju ke kamarnya yang dia tinggali selama ini di rumah Zian, kamar yang sama yang dulu ditinggali oleh Jasmine.


Dave menghela nafas panjang, dia juga menurunkan kopernya dari atas lemari. Mulai mengemasi pakaiannya dan juga barang barang miliknya, perbincangannya dengan Kim dan dan bertukar fikiran membuat fikirannya semakin terbuka, perlahan hatinya pun mulai menerima, memaafkan diri sendiri di masa lalu untuk bisa kembali berjalan di masa depan. Banyak yang harus di benahi, pekerjaannya juga perusahaan yang tengah dia rintis.

__ADS_1


Dave mengambil foto Jasmine yang menempel di dinding, membawa nya duduk disofa dengan punggung yang disandarkan.


Perlahan lahan jemarinya mengelus foto gadis manis berambut panjang itu, "Jasmine, maafkan segala perbuatanku dulu. Maafkan aku karena aku begitu pengecut dan lemah saat itu. Dan tidak ada yang bisa aku lakukan lagi sekarang selain merubah diriku menjadi lebih baik, menjaga putriku yang sangat aku cintai. Maafkan aku Jasmine, aku tidak sempat melihat putri kita, jika dia ada ... aku yakin dia pasti manis sepertimu. Aku harus kembali pada kehidupanku Jasmine, aku akan menjalani hidupku lebih baik lagi. Terima kasih karena pernah hadir di hidupku dan memberiku pelajaran yang sangat berharga."


Seusai mengatakan semuanya, Dave kembali menyimpan foto Jasmine ditempatnya, walau berkali kali dia menghela nafasnya, namun tekadnya sudah bulat. Dia tidak akan tinggal di rumah Zian dan mengganggunya lagi.


Dave menggeret koper keluar dari kamarnya, dia tidak ingin menunggu besok pagi, malam itu juga dia keluar dari rumah Zian dan kembali ke apartemen milik nya sendiri.


Dave membuka pintu rumah Zian, menoleh sebentar ke arah pintu kamar berwarna putih yang berada di atas, kemudian menghela nafas dengan seluas tipis dibibirnya.


"Aku harap kalian selalu bahagia."


Setelah bergumam sendiri, Dave kembali menutup pintu, dengan pergi dari sana.


Dave mencekat taksi yang lewat, namun butuh beberapa waktu hingga dia hanya berdiri mematung didepan gerbang rumah.


"Dave!!"


"Kau yakin ingin pergi malam ini?"


"Bukankah kau akan senang jika aku tidak asa disini?" ujar Dave dengan tertawa.


"Kau benar, tapi kenapa mendadak seperti ini? Kim juga melakukan hal yang sama, apa kalian merencanakan hal ini sebelumnya?" tuduh Zian dengan kedua alis mengkerut di tengah tengah.


Dave kembali tergelak, "Kau menuduh tanpa bukti! Sudahlah ... harusnya kau senang kan! Aku pergi, jaga putriku dengan baik Zian, apalagi menyakitinya. Kalau tidak ... aku tidak segan lagi mengambilnya dari mu," Dave menepuk bahu Zian beberapa kali, dengan kedua manik yang saling mmberadu.


"Kau tenang saja Daddy, aku akan menjaganya dengan baik. Bukan karena mengikuti apa yang kau katakan! Tapi aku memang akan melakukannya." jawab Zian dengan menyerahkan kunci mobil pada Dave, "Pakai mobil ku!"


Tangan Zian masih menggantung dengan kunci yang dia sodorkan, karena Dave tidak bergerak mengambilnya. "Ayolah Dave, bukan saatnya kau meninggikan gengsimu itu! Pakai ini karena ini mobil menantumu." Zian menyodorkannya dengan sedikit kasar hingga mengenai dadanya, dan mau tidak mau Dave mengambilnya.


Pria berusia 37 tahun itu berdecak, "Aku akan kembalikan setelah mobilku selesai di bengkel." ujarnya dengan masuk kedalam car fort dimana mobil itu berada. Zian menggelengkan kepalanya, lalu kembali masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Pada saat hendak naik ke atas, Zian bertemu dengan asisten rumah tangga yang sekarang tinggal di rumahnya, wanita itu menganggukkan kepalanya saat melihat Zian.


"Bi Nur ... kau tahu kemana Kim pergi?"


Bi Nur menggelengkan kepala nya, "Tidak tahu tuan! Dia hanya menitipkan sesuatu pass bibi yang harus bibi berikan pada tuan dan nona Nia."


"Kau yakin? Kau juga yang menyembunyikan Nia dulu, mungkin sekarang Kim juga bersembunyi di rumah mu?"


"Astaga tuan! Aku tidak melakukannya!"


Zian mendengus, "Ya sudah kalau begitu!"


Zian melanjutkan langkahnya, walaupun dia masih heran dengan sikap Kim, yang tiba tiba pergi. Padahal baru tadi siang dia masih datang ke kantor Zian.


Zian masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Kim, walaupun dia yakin jika Kim pasti akan kembali. Namun dia juga tidak bisa berhenti khawatir, karena Kim sudah dia anggap keluarganya sendiri.


"Kim ... kemana pun kau pergi! Rumah ini lah yang seharusnya menjadi tempat mu kembali." gumamnya saat melintasi anak tangga dan menatap foto dirinya dengan Kim serta sang kakek saat mereka berusia belasan tahun.


Zian kemudian kembali masuk ke dalam kamar nya, dan mendapati Agnia tengah tertidur di meja rias dengan laptop yang masih menyala.


"Dasar! Bisa bisanya dia tidur saat belajar, tahu begini seharusnya aku lakukan tadi! Ternyata dia hanya mencari alasan." Guman Zian dengan berdecak, dia kemudian memindahkan tubuh Agnia ke ranjang, menutupinya dengan selimut. Lalu dia kembali duduk untuk memeriksa laptopnya.


Wallpaper laptop yang menampilkan wajah Agnia pun dia ganti dengan foto mereka saat pergi ke pasar malam.


"Ini lebih bagus!"


Zian mematikan laptop milik Agnia dan bangkit dari duduknya, namun dia ingat satu hal. Laptop itu pasti digunakan olehnya disekolah, dengan menghela nafas, Ziam kembali duduk dan mengganti foto untuk wallpaper laptopnya dengan foto yang semula.


"Kenapa aku jadi ikut takut sepertinya! Padahal kan tidak jadi masalah jika ketahuan pun."


Zian pun kembali ke tepi ranjang, membaringkan tubuhnya disamping sang istri.

__ADS_1


"Aku bahkan tidak jadi minum obatku malam ini!"


__ADS_2