Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 153


__ADS_3

Mobil jenis BMW keluaran lama milik sang kakek itu sengaja dia pakai untuk pergi saat hendak mengajar di sekolah, tujuan utama nya mengajar jelas hanya karena ada Agnia, gadis yang ingin dia miliki. Namun nyatanya setelah lama mengajar pelajaran tambahan khususnya tentang managemen bisnis untuk kelas 12 yang akan segera lulus, Zian mulai nyaman, karena hanya disekolahlah, semua orang hanya memandangnya sebagai seorang biasa, bukan pembisnis terkenal.


Suara pintu mobil dengan sedikit gesekan besi dan kaca mobil sedikit bergetar itu mengganggu pendengarannya, pintu mobilpun terasa lebih longgar karena rusak.


"Mobil ini seharusnya sudah dimuseumkan saja, sudah tua!" gumamnya dengan terus melaju, bahkan menekan pedal gas dengan kuat.


Suara gesekan itu semakin membuatnya penasaran, karena semakin kencang mobil melaju, suara gesekan itu semakin terdengar jelas. Hingga Zian memutuskan untuk menepi dan memeriksanya.


Zian menoleh ke arah belakang, dia lantas turun dan membuka pintu mobil, namun aneh pintu mobil tidak bisa dibuka, seakan ada yang menahannya dengan kuat.


Zian menariknya dengan sekali tarikan hingga pintu mobil terbuka dan,


Brukkk


Agnia terjengkang hingga keluar, dengan kepala tertutup gantungan jas, dengan kaki yang masih menjuntai di dalam mobil, sedangkan kepalanya jatuh tepat di sepatu pria yang kini melonjak kaget.


"Awwww...!!!" ringis Agnia.


Zian yang terbelalak kaget saat melihat Agnia dengan wajah tanpa dosa, rambut berantakan juga rok yang hampir tersingkap, beruntung jas miliknya jatuh menutupi sebagian pahanya.


"Astaga Agniaaa!!"


Gadis itu hanya mengeratkan gigi putih yang berjejer rapi kearahnya, lalu dengan cepat berusaha bangun. Walaupun kesal, Zian pun turut membantunya berdiri, dan juga merapihkan rambut berantakannya.


"Kamu sedang apa? Bukankah harusnya kamu disekolah?"


Gigi putih berjejer itu kembali ditampilkannya, membuat Zian menghela nafas entah untuk keberapa kalinya.


"Kamu kabur dari sekolah??"


Agnia kali ini mengangguk, dengan bibir melengkung lebih lebar dari sebelumnya, Zian menutup pintu mobil, dengan kedua bola mata membulat sempurna saat merasa pintu mobil rusak.


Agnia memilih berpura-pura tidak tahu, dia memilih berjalan ke arah pintu mobil disamping kemudi, masuk kedalam mobil, dan menunggu Zian di dalam. Zian pun akhirnya masuk kedalam mobil, setelah membereskan jas miliknya yang terjatuh.


"Kamu pergi dari sekolah, bersembunyi dimobilku dan merusaknya! Itu kejahatan Nia!" ujarnya dengan menatap Agnia, sementara gadis itu hanya terkekeh.

__ADS_1


"Habisnya aku gak mau orang tua itu melakukan hal yang gak aku duga nanti, bisa saja nanti dia maksa aku pulang dengannya, atau bawa aku langsung ke Singapura tanpa bicara apa apa kan! Jadi mendingan aku kabur,"


"Terlalu banyak nonton drama, mana ada yang begitu, pemeriksaan dibandara ketat, mereka juga akan memeriksa visa milikmu Nia."


"Terus kalau ternyata mereka lebih cerdik, gimana kalau mereka bikin visa buatku tanpa


aku tahu, atau bisa palsu, atau tahu tahu mereka membayar petugas bandara. Menyelundupkan Nia dipesawat."


Zian justru tergelak mendengarnya, dia mengacak rambut Agnia, "Imajinasimu bagus sekali sayang!"


Gadis itu mendengus, "Kau akan menyesal nanti kalau itu kejadian tuan naif ... karena kau pasti kehilangan Nia." sungutnya.


"Itu tidak akan terjadi sayang! Aku tidak akan membiarkanmu yang nakal ini pergi walau sejengkal saja."


Agnia mengernyit, "Maksudnya?"


"Kamu akan tahu nanti, sekarang terpaksa kamu ikut aku ke kantor! Aku ada rapat penting dan harus segera kesana."


"Gimana dengan bajuku, aku masih pake seragam. Mereka ... mereka pasti mikir yang enggak enggak!"


Zian menghidupkan kembali mobilnya, "Kalau tidak mau mereka berfikir yang tidak tidak ... jangan kabur, sekolah yang bener, ganti pakaianmu baru datang ke kantorku!" ucapnya dengan terkekeh.


Mobil kembali melaju, dengan kecepatan tinggi. Dan tak lama kemudian mereka pun sampai di kantor Zian. Dan tidak biasanya, Zian yang biasanya berhenti di lobby kantor dan menyerahkan kunci pada petugas parkir, kali ini dia memilih untuk memarkirkan mobilnya langsung di basement, dan menghubungi Kim untuk menyiapkan pakaian untuk Agnia. Setelah itu barulah dia keluar.


"Aku akan menunggu sekretaris Kim disini aja!"


"Tidak perlu, ikut aku sekarang juga!" ujarnya dengan menarik tangan gadisnya nakalnya itu.


"Tapi nanti mereka tahu, aku masih pake seragam sekolah, huh bisa bisa mereka berfikir aku ini sugar baby mu."


"Itu memang benar, apa yang salah!" Zian kembali terkekeh.


Agnia mencubit pinggang nya, "Iih nyebelin banget, jadi hanya sebatas itu hubungan kita!"


Zian membawanya masuk melalui lift khusus, dan menjumput hidungnya yang menggemaskan. "Aku bercanda sayang, aku ingin hubungan kita lebih dari itu, bukan seperti yang kamu bilang ... tidak ada sugar sugar, sugar baby ataupun sugar Daddy. Kita saling mencintai bukan?"

__ADS_1


Agnia hanya menatapnya, Zian melepaskan jas yang dikenakannya lalu memakaikannya di bahu Agnia. "Jawab ... apa kita saling mencintai Agnia?"


"Pertanyaan yang berat! Aku cinta gak yah!"


Pria itu merengkuh bahunya, "Dasar gadis nakal."


Keduanya masuk kedalam lift dan tertawa, setelah sampai di atas, Kim sudah berdiri didepan pintu lift, hingga saat terbuka dia langsung menyerahkan paper bag pada Agnia, dan mengajaknya ke ruangan Zian, sementara Zian harus pergi langsung ke ruang rapat.


Agnia menuruti langkah Kim, dengan sesekali menengok ke arah belakang, menatap punggung Zian yang semakin menjauh.


"Jangan terus di lihat, dia hanya pergi rapat, tidak akan lama. Nanti pun dia akan menemui mu!" ucap Kim dengan menarik tangan Agnia.


"Eeeh ... enggak kok! Aku ... leher ku pegel!" kilahnya dengan wajah tersipu.


Kim hanya mengulum senyuman, dia lantas membuka ruangan Zian dan masuk, lalu mengarahkan Agnia berganti baju di toilet yang ada didalam.


"Aku harus ke ruangan rapat menemani pacarmu, kamu tidak apa apa sendirian disini?"


"Sekretaris Kim!" jawabnya dengan malu malu.


Kim tergelak, "Tidak apa apa kan Nia?"


Agnia mengangguk, "Iya ... kemarin saja aku nunggu disini sendirian."


Kim mengangguk, walaupun dia tahu kemarin Zian hanya mempermainkannya, padahal dia menunggu diruangannya dan membuat Agnia menunggunya sampai tertidur.


"Baiklah ... aku pergi!"


Kim menghilang dibalik pintu, sementara Agnia meletakkan paperbag diatas meja, juga melepaskan tas yang tersampir pada bahunya, jas milik Zian juga dia lepas.


Agnia duduk di kursi kebesaran milik Zian, kursi dimana Zian bekerja keras hingga berada diposisinya saat ini.


Menatap satu satunya foto yang diletakkan disana. Foto sang kakek yang sudah meninggal, disampingnya ada foto Zian yang sepertinya baru wisuda, dia memperhatikannya lekat, tidak banyak berubah, walau saat ini hanya rahangnya saja yang lebih tegas.


"Harusnya ada fotoku disini!!" gumamnya.

__ADS_1


Dengan senyuman mengembang, gadis berusia 17 tahun itu mengambil dompet miliknya, mengeluarkan foto selfy dirinya dan memasangkannya di dalam pigura itu, menutupi sebagian foto Zian.


"Nah ini kan cocok! gue bakalan ganti dengan yang lebih bagus nanti, sekarsng begini saja cukup!"


__ADS_2