Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 229


__ADS_3

Agnia mengatupkan bibirnya, dengan pupilnya yang melebar menatap Zian,


Gue masih gak kefikiran buat punya anak, gue aja masih anak anak ini. Tapi gimana kalau pas udah lulus ujian ... dia___ Batin Agnia. Walaupun hanya bicara dalam hati, namun dia juga merasa geli sendiri saag membayangkan perutnya membuncit, dan didalamnya ada seorang anak.


Tanpa sadar, Agnia mengusap perut ratanya, dan membuat Zian yang tengah menatapnya itu mengulum senyuman.


"Kenapa mengelus perut? Apa kamu sudah tidak sabar!" ujarnya dengan kedua alis yang naik turun bersamaan.


Gadis berambut mengerjapkan mata, lalu bangkit menuju meja rias yang selama ini jadi meja belajarnya. "Apaan ih ..., Orang Nia gak kebayang!" gumamnya seraya mendengus.


Zian menggelengkan kepalanya, lalu kembali menatap layar putih yang menyala di tangannya. "Belajar dulu saja cara membuatnya! Kita masih punya banyak waktu!"


"Udah deh! Nia kapan belajarnya, kalau di ganggu terus."


Zian terkekeh, dia lantas turun dari ranjang lalu mendekatinya lagi, "Kalau gitu, kamu belajar dulu ya, aku juga harus ke ruang kerja dulu!"


Gak berselang lama, suara pintu terbuka, Zian keluar dari kamar, dan Agnia hanya mengangguk dan melihatnya pergi.


"Dasar superman nyasar!" gumamnya dengan mengulum senyuman, dia merasa kesal namun juga senang bersamaan, membuat dua garis bibirnya terangkat namun juga dengan menggidigkan kedua bahunya.


Tak berselang lama, pintu kamar diketuk oleh seseorang, namun karena Agnia terlalu fokus belajar, hingga dia mengabaikan suara ketukan.


Tok


Tok


"Non ... non Nia?"

__ADS_1


Bi Nur masuk kedalam kamar, setelah beberapa kali memanggil namanya namun tidak sekalipun Agnia menyautinya, asisten rumah tangga itu masuk dengan beberapa pakaian yang sudah dia setrika, juga seragam sekolah dan pakaian kerja Zian.


"Non ... serius sekali belajarnya, sampai bibi masuk saja tidak tahu!" ujar Bi Nur menyentuh bahu Agnia.


Agnia menoleh, dia sontak kaget karena melihat Bi Nur yang sudah berada di dalam kamarnya.


"Eeh ... bi Nur! Iya nih bi, Nia lagi belajar rumus, jadi gak tahu kalau bibi masuk."


"Ini ... bibi mau rapihin pakaian," Bi Nur memperlihatkan hanger seragam dan juga kemeja Zian.


"Makasih ya Bi!"


"Sama sama Non!" Bi Nur memasukkan pakaiannya kedalam lemari, dengan Agnia yang terus memperhatikannya.


"Oh ya Bi ... jaket itu nanti simpan di atas situ aja ya! Mau disekalian di bawa besok pagi." Tunjuk Agnia pada jaket denim yang tengah bi Nur masukkan kedalam lemari.


"Ini?"


Agnia menatap sebentar jaket yang dipinjamkan oleh Regi padanya malam itu, dia menghela nafas lalu kembali menatap soal soal latihan dihadapannya. Tak lama Zian kembali masuk, dengan membawa segelas susu hangat rasa coklat.


Disaat dahi Agnia tengah berkerut dan berjingkat, menandakan soal soal latihan yang dikerjakannya cukup sulit.


"Kenapa baby?" pijatan lembut di kedua bahunya membuat Agnia kaget namun jujur itu membuatnya sangat nyaman.


"Sulit?"


Agnia mengangguk, Zian yang masih memijat lembut kedua bahu Agnia mencondongkan badannya ke arah depan.

__ADS_1


"Yang mana?"


"Ini!" tunjuk Agnia pada sebuah soal essai yang membuatnya bingung.


"Oh," Zian mengambil bolpoin lalu menuliskan rumus sederhana pada secarik kertas.


"Kamu bisa gunakan rumus ini baby! Setelah ketahuan hasilnya, kamu bisa kali kan dengan yang ini!"


Agnia menoleh ke arah Zian yang tengah menerangkan, wajahnya serius saat berbicara, sama persis seperti yang Agnia lihat jika pria yang kini jadi suaminya itu berada di kantor. Suaranya tegas dengan wajah datar, namun justru menambah ketampanannya dua kali lipat dan Agnia terus memperhatikan wajah tampannya.


Namun tiba tiba saja Zian menoleh kerarahnya, hingga keduanya saling menatap, Agnia mengerjapkan matanya. Lalu menunduk menatap kertas yang dipakai Zian menulis.


"Apa jawabannya ada pada wajahku?" tanyanya lembut dengan garis tipis di bibirnya.


"Ya kan? Jawaban doa doa mu semua ada padaku!"


Agnia menoleh lagi, "Ya ... ya terserah kau saja! Udah sana, apa Om tidak malu sama bi Nur?" Kedua matanya melirik wanita oaruh baya yang masih membereskan pakaaiannya.


"Tidak ... untuk apa aku malu pada Bi Nur! Dia sudah mengerti ... iya kan Bi?" kata Zian tanpa menoleh sedikitpun ke arah bi Nur. Justru Agnia lah yang merasa malu, wajahnya tiba tiba merona, Bener bener norak nih om om, selalu bisa bikin gue salah tingkah kayak gini.


.


.


.


...Hai readers maaf hari ini cukup satu bab dulu ya ... Othor sedikit mengriweh di RL soalnya. Jangan lupa like dan komen, rate 5 gift atau vote nya yaa....

__ADS_1


...Lope lope badag buat kalian yang gak bosen bosennya kasih othor dukungan, (Semoga gak bosenin wkwkwkwk)...


...Makasih....


__ADS_2