
Riuh tepuk tangan pun terdengar di kelas Agnia, dia sendiri bersikap biasa saja, namun buru-buru membalas pesan dari Adam.
'Lo jangan Gila!'
Agnia mengklik tanda send dengan kesal, membuat Serly semakin curiga lalu melirik Agnia dan Adam bergantian.
Adam pasti yang putar lagu ini buat Agnia, sumpah mereka nyebelin banget! Mau bermain-main dibelakang gue ternyata.
Brakk
Serly menggebrak meja lalu pergi keluar dari kelas, membuat Agnia kaget.
"Serly Lo mau kemana?"
Serly menoleh kearahnya, "Ruang kesehatan, gue pusing denger lagu ini lama-lama!" ujarnya dengan mendelik ke arah Adam.
Sementara Adam mengulas senyuman dan menatap Agnia yang kini menatapnya juga.
"Kenapa sih lo nyari Masalah aja! Lo selalu bikin gue dan Serly salah faham karena sikap Lo itu." Ujar Agnia kesal.
"Kenapa Serly harus keberatan? Kita gak ada hubungan apa-apa lagi, dan gue mau suka sama siapa pun terserah gue, udah gak ada hubungannya sama dia, sirik aja dia orangnya!"
Agnia berdecak, "Sialan emang lo, gak bisa ngerti perasaan orang lain!"
Agnia kembali duduk di bangkunya, setelah lagu itu selesai diputar, guru merekapun datang.
"Pagi anak-anak! Gimana tugas proposal kalian? Apa sudah selesai dan siap dikirimkan?" tanyanya dengan antusias.
Sebagian murid bersorak, sebagian lagi mengeluh karena beratnya tugas akhir mereka, workshop mengenai bisnis yang menjadi tugas terakhir sebelum ujian sekolah nanti, dan mereka diwajibkan untuk workshop bersama perusahaan yang menerima proposal mereka.
Agnia sendiri sudah siap, dia hanya tinggal mencari perusahaan yang akan menerima proposalnya dan diperbolehkan mengikuti workshop disana.
Adam berjalan maju dan duduk disebelah Agnia, karena Serly tidak kunjung kembali.
"Nia ... ayo ke perusahaan papi gue bareng gue! Proposal lo biar gue yang bawa buat formalitas aja." ajak Adam.
"Kalau kayak gitu mah gue juga bisa, masuk aja diperusahan bokap gue, tapi gue gak mau Dam! Gue pengen usaha sendiri dulu!"
__ADS_1
Adam tersenyum, "Itulah kenapa gue suka sama lo Nia, semua hal kecil dari lo bisa bikin gue gak bisa ngomong lagi. Good lucky Nia, kalau lo butuh gue selalu ada buat lo, apalagi kalau nanti kita udah jadian."
"Apaan sih! Udah sana ah, gue gak mau makin ribet ya urusan sama Serly, lo tahu dia itu ngarep banget balikan sama lo ... jadi lebih baik kalian balikan aja! Biar gue tenang, gak dituduh-tuduh mulu!"
Adam menghela nafas, "Tapi gue sukanya sama lo Nia!"
Adam kembali duduk ke tempatnya, sementara Agnia mendengus kasar. "Terserah!"
"Pokoknya gue harus berhasil, gue bakal buktiin sama Mami dan Daddy gue bisa sukses, gue bisa mandiri." gumamnya lagi.
.
.
Sebagian dari murid-murid SMA Harapan Bangsa sudah menyebar ke perusahaan -perusahaan, sebagian lagi memilih perusahaan keluarga mereka untuk melakukan workshop.
Namun tidak dengan Agnia, Cecilia, Nita dan juga Serly, selain berasal dari keluarga yang tergolong biasa saja, Cecilia dan Nita juga hanya mengikuti kemana Agnia pergi, begitupun dengan Serly. Meskipun dia berasal dari keluarga yang sama dengan Agnia, dia ingin bersamanya hanya untuk mengawasi Agnia dan juga Adam.
Mereka berempat naik ke mobil milik Cecilia dan menuju perusahaan, restoran, bahkan stasiun televisi untuk mereka titipkan proposal kerja nyata milik mereka.
"Nia ... Lo kenapa sih gak nerima tawaran Om lo aja buat masuk ke perusahaan miliknya, iya gak Nit? Kayak sini lama, bakal butuh 2 sampe 3 hari buat tahu keterima enggaknya."
"Belum apa-apa udah nyerah aja sih kalian! Gini nih kalau tahu enak nya doang, diajak berjuang susah amat!" timpal Serly yang membuat Cecilia yang duduk didepan menoleh.
"Heh ... gak usah banyak bacot! Soal perjuangan lo tahu apa? Asal Lo tahu aja, gue sama Nita berjuang kayak apa buat sekolah disekolah kalian, tanpa bantuan keluarga kayak lo! Jadi gak usah belagu lo!"
"Alah ngandelin selanggkangan aja bangga lo!!" sarkas Serly lagi membuat Cecilia semakin berang, begitu juga Nita yang langsung menginjak pedal rem.
"Serly ... apaan sih! Gak asik lo, ngomong kayak gitu!" ujar Agnia.
"Kenapa lo selalu belain mereka dibanding gue, gue sahabat baik lo Nia, mereka siapa?"
Cecilia merangsek ke kursi belakang, dengan kedua tangan yang siap menjambak Serly, "Gak usah banyak bacot lo! Lo gak malu apa?"
"Udah deh kalian malah ribut!" Agnia melerai mereka berdua.
"Si setan ini nih biang keroknya, nyari masalah mulu lo! Mending lo keluar deh sekarang! Daripada nambah- nambah emosi gue liat Lo!" seru Nita.
__ADS_1
Serly berseringai, "Lo lihat Nia? Mereka berani ngusir gue?"
"Nita bener, lo mending langsung ke perusahan bokap lo aja, Sorry Serly ... gue gak mau nyari ribut sama siapapun juga!"
"Nia lo tega sama gue! Lo harusnya bantuin gue."
Agnia meraup wajahnya, bagaimanapun apa yang diucapkan Serly tidak seharusnya terucap, dia sudah merendahkan orang lain dan mana mungkin Agnia membelanya.
Serly keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan keras, kemudian Nita kembali melajukan mobilnya.
"Lo lihat dia kan Nia? Itu yang disebut sahabat baik lo? Mulutnya gak pernah disekolahin, dia bisa seenaknya ngomong tanpa tahu apa-apa!" ujar Cecilia penuh penekanan.
"Gue minta maaf! Serly emang sarkas, tapi gue gak nyangka dia bisa ngomong kayak gitu sama kalian! Sama kayak lo Ce, lo juga sarkas! Harusnya lo gak usah ladenin dia!"
"Heh gue mah beda, karena gue udah gak canggung sama lo Nia, dan sarkas gue itu udah kayak candaan, gak kayak dia ... deket aja enggak! Bener gak Nit?"
"Huum ... dia emang kurang ajar, kali-kali mesti kita kerjain biar gak kapok! Coba aja suruh dia jual selanggkangan, kalau udah tahu, dia gak bakal berani ngomong kayak gitu!" ujarnya tergelak, memecahkan suasana didalam mobil.
Agnia menoyor kepalanya, "Sialan lo ... awas aja kalau lo berani ngerjain dia!"
"Jadi lo mihak siapa sih Nia? Lo tadi belaain kita, sekarang lo belaain dia!"
"Gue gak mihak siapa-siapa, gue males aja ribut ... lagian kalian bertiga itu sama-sama temen gue!" jawab Agnia.
"Ya udah lanjut ayo ... tinggal satu tempat lagi nih yang mesti kita datengin!" sambungnya lagi.
Sementara Serly yang turun dari mobil Cecilia dengan kesal itu menendang udara, dia berjalan beberapa langkah menuju tempat yang sedikit teduh.
"Sialan emang!" Ujar Serly saat melihat mobil yang dikemudikan Nita melaju tanpa dirinya.
Tak lama kemudian, seseorang yang menaiki motor berhenti didepannya.
"Serly? Ngapain lo disini?"
Serly menatap pengemudi yang masih mengenakan helm itu dengan heran, tak lama sosok itu membuka helmnya.
"Regi...?"
__ADS_1
Regi mengangguk, "Hum ... ini gue! Lo ngapain disini?"