Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 132


__ADS_3

Zian muda berjalan keluar dari rumah Dave, entah apa yang harus dia katakan pada Jasmine, jalan keluar yang biasanya muncul saat Dave meminta bantuannya kini justru buntu. Teramat buntu. Dia memikirkan banyak hal mengenai Jasmine dan anak yang dikandungnya.


"Zian bagaimana?"


Wajah lelah dengan kedua mata yang tampak cekung itu menatapnya sendu, gadis manis nan lugu itu telah berubah.


"Zian kenapa hanya diam! Dave mau tanggung jawab seperti yang kamu katakan kan?" ujarnya dengan menggoyangkan bahu Zian.


Zian remaja hanya terdiam dengan kepala yang sedikit tertunduk menyesal karena tidak bisa melakukan apa-apa, Dave sudah menikah, tapi dia tidak tega jika harus mengatakannya pada Jasmine.


"Zian? Apa yang dikatakan Dave? Atau aku akan kesana sendiri saja." tukasnya lagi.


Jasmine berbalik pergi, namun Zian mencekalnya, "Tidak usah kesana! Kau hanya akan buang-buang waktumu saja!"


"Kenapa aku tidak boleh kesana? Apa kau sengaja berbuat seperti ini padaku Zian?" tuduhnya.


"Tidak Jasmine, untuk apa aku melakukannya, percuma saja kamu kesana, dia tidak akan bertanggung jawab terhadap mu dan kehamilanmu, dia ... dia telah menikah!" sentak Zian emosi.


Jasmine menggelengkan kepalanya berulang kali, dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Zian, "Tidak mungkin ... kau pasti bohong! Iya kan, kau bohong Zian, Dave tidak mungkin melakukan hal ini padaku!!"


Jasmine berbalik arah dan mengayunkan langkah nya, "Aku akan melihatnya sendiri! Kau pasti salah."


"Tidak Jasmine, semua yang aku katakan itu benar! Aku tidak bohong!" tegas Zian yang terus memegangi Jasmine yang terus berontak.


"Tidak ... Zian ... tidak, bagaimana denganku Zian? Dave pasti tidak akan meninggalkan ku, bagaimana dengan anaknya ini!" lirihnya dengan menyentuh perutnya yang masih rata.


Zian bergeming, dia juga bingung dengan Dave yang hanya memikirkan dirinya sendiri, bahkan dia tidak perduli akan anaknya sendiri.


Tiba-tiba saja tubuh Jasmine lunglai, dan saat itu juga merosot ke lantai, "Dave ... kenapa kau tega sekali padaku dan anak kita! Kau sudah berjanji akan bertanggung jawab, Dave kau jahat!" lirihnya dengan terus menangis.

__ADS_1


"Bangunlah, kau ingin semua orang tahu kehamilanmu?" ucap Zian dengan kedua tangan yang memegangi bahu gadis itu.


"Kita pergi dari sini!" ajaknya lalu berjalan kembali menuju motor miliknya.


Zian melajukan motornya dengan kencang, dia akan mengantarkan Jasmine pulang kerumahnya, meski berkali-kali Jasmine menolak dia antarkan.


Gadis lugu itu terus menangis berhari-hari, sejak hari itu pula Dave tidak pernah lagi muncul di sekolahan Zian, dia menghilang bak ditelan bumi. Zian tidak lagi ingin mencarinya, sebagai sahabat sejak kecil, dia merasa kecewa akan sikapnya yang egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Kabar menyebutkan jika dia melanjutkan kuliahnya di luar negeri bersama istrinya, Laras.


Beberapa minggu berlalu, Jasmine pun terus mengurung diri, kedua orang tuanya bahkan belum tahu sama sekali dengan apa yang menimpa putrinya itu, dia mencari informasi kesana kemari hanya untuk menggugurkan kandungannya. Hanya Zian yang tahu kehamilannya, dia pun terus memikirkan Jasmine dan merasa bersalah karena selama ini justru membantu Dave.


Hingga satu hari dia menemukan Jasmine tengah berjalan tanpa arah dipinggir jalan, wajahnya kacau balau, dan membuat hatinya teriris, gadis manis dan lugu itu tampak menyedihkan.


Zian membawanya, dia hendak mengantarnya pulang, namun Jasmine menolaknya, dia berontak hingga terjatuh dari sepeda motor. Membuat Zian yang kala itu masih berusia 17 tahun panik saat melihat darah keluar dari sela pahanya.


"Kita kerumah sakit!" serunya dengan langsung mencegat taksi.


Tak berselang lama Kim datang ke rumah sakit dengan berlari, dan melihat Zian yang tengah mondar mandir didepan ruangan IGD menunggu dokter.


"Ada apa? Kau membuatku khawatir! Ku fikir kau yang kecelakaan." ucap Kim dengan nafas terengah-engah.


Zian menggelengkan kepalanya, "Bukan aku! Tapi Jasmine?"


"Jasmine? Jasmine teman sekolahmu?"


Zian remaja mengangguk, "Dia jatuh dari motor, dan___"


Kim mengernyit, bertepatan dengan pintu IGD terbuka, seorang wanita berjubah putih melepas sarung tangan karet yang dikenakannya.


"Untunglah kalian cepat membawanya kemari, kalau tidak mungkin kami akan terlambat menyelamatkan bayi didalam kandungannya!" ujarnya dengan melenggang pergi, dibelakangnya suster keluar dengan membawa sebuah map berwarna kuning, "Kalian urus administrasi nya dulu, pasien mungkin harus dirawat inap beberapa hari untuk pemulihannya."

__ADS_1


Zian mengangguk pelan, sedangkan Kim berdiri ditempatnya dengan kedua pupil hitam yang melebar. "Apa aku tidak salah dengar? Dokter baru saja mengatakan bayi yang ada dalam kandungannya? Apa itu ... maksudnya dia hamil? Begitu?" ujarnya menggoyangkan lengan Zian.


"Iya!!" jawab Zian lirih.


"Jasmine hamil? Lalu ... lalu siapa yang menghamilinya? Kau?" tunjuknya pada wajah Zian.


Zian terdiam, dia mendaratkan tubuhnya di kursi panjang yang terdapat di sana.


"Aku akan menikahinya Kim! Aku yang akan bertanggung jawab!!"


Kim kembali terperanjat dengan apa yang dikatakan Zian.


"Apaa?!!"


"Tolong ... bantu aku Kim!"


Kim terpaku ditempatnya, tubuhnya membeku seketika, mendengar kata kata yang terlontar dari seorang remaja berusia 17 tahun tentang menikah dan tanggung jawab, juga bayi dalam kandungan.


"Bagaimana bisa?"


Zian meraup wajahnya dengan kasar, kejadian itu terjadi di depan matanya, Jasmine yang malang harus mengalami hal seberat ini di usianya yang masih muda.


Kim ikut mendudukkan bobot tubuhnya disamping Zian, dengan fikiran yang sama sama bingung dengannya.


"Bagaimana kalau kakek tahu hal ini Zian?" gumamnya dengan pandangan tetap lurus ke depan.


"Aku tidak tahu, tolong rahasiakan dulu darinya, aku tidak mau penyakit jantungnya kambuh lagi."


"Tapi ...?"

__ADS_1


__ADS_2