Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 60


__ADS_3

Zian keluar dan memanaskan mobilnya, dia bersiap-siap untuk mencari tahu tentang Agnia, dan berniat untuk membawanya kembali ke rumah.


Tak lama kemudian, Zian melajukan mobilnya ke jalan, menyusuri jalan-jalan yang mungkin dilalui oleh Agnia, namun pertanyaannya pada diri sendiri, membuatnya termenung, memikirkan apa yang terjadi pada dirinya sendiri, dan apa yang dia rasakan. Bahkan dia berharap menemukan Agnia dan membawanya pulang, tapi tidak tahu jika ditanya alasannya apa.


Sesaat mobilnya terhenti dengan tiba- tiba, dia sadar apa yang dilakukannya, mengusir nya lalu kembali mencari dan, Damnn it ... Zian kau memang bodoh!! Untuk apa kau melakukan kegilaan ini?


Tanpa berfikir panjang dia memutar haluan, Zian memilih mengarahkan mobilnya ke sebuah hotel miliknya.


Para karyawan hotel tampak kaget, pasalnya bos mereka itu tidak pernah datang langsung, biasanya yang datang hanya sekretaris Kim ataupun asistennya. Apalagi Iyan yang pada saat itu juga tengah berada disitu.


"Bos ... kau ada disini?"


"Hm ... aku ingin!" ujarnya dengan melengos begitu saja, dia masuk kedalam pintu lift yang tengah terbuka, Iyan menerobos masuk dan ikut serta dengan bosnya itu.


"Apa bos ingin memeriksa pekerjaan?"


tangan Iyan menyentuh tombol dimana kamar yang biasa di gunakan oleh Zian jika datang.


"Tidak aku hanya ingin istirahat, kau pergi saja aku ingin sendiri." Iyan mengangguk.


Ting


Pintu lift terbuka, Zian keluar dengan bibir yang terkatup rapat, sementara Iyan kembali menutup pintu lift.


Dari kejauhan Zian melihat seseorang yang tengah berjalan dan masuk kedalam sebuah pintu, dengan terperangah dia mengejar sosok yang telah menghilang itu.


"Dita...? Apa aku tidak salah lihat? Bukankah dia di New York,"


Zian bergegas mengetuk pintu kamar itu, berharap bukan Dita yang dia lihat.


Tok


Tok


Beberapa saat kemudian pintu terbuka, sosok wajah berparas cantik muncul di hadapannya, "Maaf, apa saya mengenal anda?"


Hati Zian lega seketika, sosok cantik itu bukanlah Dita kekasihnya.


"Maaf sepertinya aku salah kamar!" Zian pun kembali ke kamar nya sendiri.


"Dita tidak mungkin berada disini!!" ucapnya pada diri sendiri.


.


.


Zian duduk termenung di balkon kamar, ada perasaan aneh dalam dirinya setelah mengusir Agnia, perkataan Ayana Hakim, dan juga ucapan menyakinkan dari Dita.


Kepulan asap mulai menggumpal di atas udara, setelah sekian lama dia berhenti, baru kali ini dia kembali menyentuh gulungan tembakau itu.


Resah dan merasa hampa, itulah mungkin kata yang tepat untuk perasaan dalam hatinya saat ini, perasaan kehilangan yang tiba-tiba menyusup dalam relung hati.


Drett


Drett


Ponselnya berbunyi, dia menyambar benda pipih itu diatas meja,

__ADS_1


'Hm ...!'


'Kau dimana?'


'Ada apa?'


'Jawab saja, kau ada dimana?'


'Di hotel Lcc, tidak usah kemari!'


'Kebetulan, turunlah! Temui aku di lobby.'


Zian mengernyit setelah sambungan telepon dari sekretaris pribadinya itu terputus secara sepihak.


"Orang aneh...!"


Tak lama kemudian dia pun turun dan menemui sekretaris Kim yang sedang duduk menunggunya.


"Ada apa Kim?"


"Temani aku ke suatu tempat?"


Zian menarik kursi lantas mendaratkan tubuhnya, "Kemana? Kenapa tidak pergi dengan Iyan ...?"


"Ayolah Bos, Iyan sedang sibuk! Dia tidak bisa dihubungi."


Zian mendengus, namun Kim sudah menarik tangannya, dan Zian menatapnya tajam.


"Sorry, tidak sengaja! Ayo ...!!" ajaknya lagi.


Karena Zian juga merasa bosan akhirnya dia ikut dengan Kim, dia masuk ke dalam mobil begitu pulan Kim yang duduk dibelakang kemudi.


"Ikut saja, kau juga akan tahu nanti."


Zian menghela nafas, dia lantas menyandarkan kepalanya di sandaran jok, dan memejamkan mata. "Jangan aneh-aneh Kim!!"


Sekretaris Kim menarik tipis bibirnya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat.


.


.


Mereka tiba di suatu tempat, hotel bintang lima dengan lounge bar didalam nya, Zian mengernyit, lalu menoleh ke arah Kim.


"Kau mau cari perbandingan hotel?"


"Aku ingin sedikit hiburan dan melepas Penas, jika pergi ke pub aku takut diganggu, kalau pergi ke bar juga aku tidak suka suara musik yang keras, gendang telingaku akan pecah! Jadi ini pilihan yang bagus bukan?" kilah Kim panjang lebar.


Zian mendengus, "Aku sudah lama tidak minum, kau tahu itu!"


"Kita hanya akan bersantai! Tidak harus minum, ayolah, kau tahu disana tidak hanya tersedia minuman keras bukan? Kau bisa minum soft drink atau susu." ujarnya dengan terkekeh.


"Kim!!"


"Becanda! Maaf ... ayo turun!"


Akhirnya Zian turun dari mobil, dan berjalan berdampingan dengan Kim, mereka masuk kedalam lounge dan mulai mencari tempat."

__ADS_1


Kim memilih duduk di ujung paling pojok, dan Zian hanya mengikuti perempuan yang tidak banyak bicara itu.


"Apa kau se-kesepian ini sampai ingin aku temani Kim? Aku lihat kau tidak punya teman selain aku dan juga Iyan?"


Kim mendengus, "Kau menghinaku!"


Kim memanggil pelayan untuk memesan, dan mulai memilih menu yang dia inginkan, sementara Zian lagi- lagi hanya mengikuti apa yang Kim pesankan untuknya.


"Aku ingin ikut kencan buta!" gumam Kim.


Zian terperangah, "Denganku?"


"Aku belum selesai bicara!" Dia menyodorkan ponsel ke arah Zian, "Pilihkan untukku yang menurutmu cocok, bukan kencan buta denganmu!!"


"Oh ... ku fikir kau menyimpan rasa untukku!" Kim hanya berdecih.


Tak lama pelayan mengantarkan pesanan mereka, dan menatanya diatas meja,


"Terima kasih!" ujar Kim, sementara Zian hanya mengangguk.


Zian menatap satu persatu pria dari aplikasi kencan di ponsel milik Kim, "Kenapa kau ingin kencan buta seperti ini Kim?"


Kim menghela nafas, "Umurku Zian ... ingat umurku berapa?"


"Masih belum tua! Tapi juga tidak muda Kim!" Ujarnya terkekeh.


Namun saat itu juga Zian melihat seseorang dengan pakaian serba mini tengah berjalan masuk seorang diri.


"Dita?"


Kedua mata Zian terbelalak melihat kearahnya, lebih terbelalak lagi melihat pria yang setengah berjalan cepat menyusulnya, dan melingkarkan tangan di pinggang kekasihnya itu.


"Iyan?"


Hatinya kini melonjak tajam, marah, kesal dan kecewa bertumpuk jadi satu, Kim menarik tipis senyum di bibirnya lalu menoleh ke arah dimana tatapan Zian tertuju.


"Aku pasti salah lihat!"


"Kau tidak salah lihat, itu mereka!" tukasnya tanpa tandah aling-aling.


Tangan Zian mengepal, dengan urat- urat yang menonjol, wajahnya merah padam menahan amarah yang semakin membuncah.


Dia bangkit dan berjalan menyusul mereka yang masuk kedalam.


Brakk


"Apa yang kalian lakukan?" ujarnya dengan menerjang pintu ruangan VIP itu.


Terlihat Dita dan Zian melepas tautan bibir mereka dan melihat kearah Zian.


"Begini kelakuanmu rupanya?"


Bugh


Zian mendaratkan pukulan di rahang Iyan, dan terus menghantamkan kepalan tangannya pada wajah milik asistennya itu.


Dita berteriak, berusaha menghentikan Zian yang kadung dikuasai emosi tingkat tinggi.

__ADS_1


"Baby ... stop!!


__ADS_2