
Seorang staff masuk kedalam ruangan Zian dengan membawa berkas yang di perlukan Zian untuk pergi meeting dengan perusahaan PT Gemilang.
"Apa saya perlu menemani anda tuan?" tanya staff itu pada Zian, dia meletakkan berkas berkas di atas meja.
"Tidak perlu! Apa semua sudah siap?"
Staff tersebut mengangguk, lalu melirik sebentar ke arah Agnia yang tengah diam bermain ponsel.
"Kau boleh pergi!" ucap Zian tidak memberikan kesempatan padanya berlama lama menatap sang istri.
Staff tersebut kembali mengangguk, dia lantas keluar dari ruangan. Setelah melihatnya pergi Zian kembali memeluk Agnia.
"Staff tadi melihatmu sampai matanya hampir keluar semua!" gerutunya dengan melingkarkan tangan di pinggang ramping Agnia.
"Terus kenapa? Dia kan punya mata."
"Ya tapi bukan untuk melihatmu?"
Agnia terkekeh, "Terus lihat siapa?"
"Apa saja asal tidak melihatmu baby!"
"Please deh hubby, jangan norak bisa? Orang dia cuma lihat kok!" Agnia menoleh kearah Zian, dan menjumput hidungnya. "Ayo pergi! Ketemu bu Irene." ajaknya dengan menarik tangan Zian.
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, akhirnya mereka berdua keluar dari ruangan Zian, berjalan masuk kedalam lift.
"Biar aku yang bawa berkas ini!"
"Tidak usah baby, biar aku saja!"
Namun Agnia bersikeras mengambilnya dari tangan Zian, dia terkekeh,
"Aku sekretarismu tuan Zian! Biarkan aku bekerja." ujarnya dengan suara tegas.
Zian hanya melirik lalu berdecak pelan namun kedua ujung bibirnya melengkung. Dia kemudian melirik ke atas langit langit lift lalu mendengus.
"Harusnya aku tidak memasang CCTV di dalam lift ini!"
"Kenapa?"
"Agar aku bisa menciummu baby!"
"Heh ... kau gila! Melakukan hal itu di tempat umum." Agnia membola lalu mencubit lengan Zian.
"Sakit baby!"
"Biarin, suruh siapa menggoda sekretarismu sendiri!" Agnia mengibaskan rambut oanjangnya ke belakang, membuat Zian semakin gemas melihatnya, sampai pria itu terkekeh. "Kau juga menggoda Kim ya?" tuduhnya dengan menunjuk wajah Zian.
Zian semakin tergelak, "Aku? Menggoda Kim? Tidak ada sejarahnya sayang, Kim itu keluargaku, aku menyayanginya sebagai saudara. Kau harus tahu itu!"
"Sekretaris yang lain?"
"Selama bergabung di perusahaan sampai detik ini, aku tidak pernah mengganti sekretaris."
__ADS_1
"Benarkah? Hanya sekretaris Kim?"
Zian mengangguk, "Hanya dia ...!"
"Lalu kenapa dia tiba tibe pergi?"
Zian mengerdik, seiring terbukanya pintu lift. "Aku tidak tahu baby!"
"Apa jangan jangan sekretaris Kim patah hati bukan karena orang lain, tapi karena mu?" gumam Agnia dengan berjalan keluar dari lift mengikuti langkah Zian.
Zian menghentikan langkahnya, lalu menoleh. "Benarkah?"
"Ya mungkin saja! Nia hanya mengira ngira." ujarnya mengerdik.
"Entahlah, tapi itu tidak mungkin terjadi! Dia menganggapku sama halnya aku menganggap dia layaknya seorang saudara."
Mereka berdua berjalan keluar, saling bersisian dengan Agnia yang mendekap berkas di dadanya. Sementara Zian hanya memegang ponsel.
Beberapa staff dikantor melihat keduanya, mereka tidak berani menatap lama lama ke arah Zian, juga Agnia yang tersenyum kearahnya. Namun kembali menatapnya saat mereka berdua melewatinya.
"Mereka takut padamu! Pasti karena kau galak."
"Aku baik dan lembut baby!"
"Baik dan lembut apanya, sekali marah berkas kau lempar tepat di wajahnya! Galak banget itu."
Zian membuka pintu untuk Agnia masuk, gadis itu menurut saja dengan masuk kedalam mobil, menunggu Zian yang berjalan berputar lalu masuk kedalam pintu kemudi.
"Tunggu! Harusnya tidak lakukan itu pada sekretarismu, kan aku harusnya yang buka pintu untukmu."
"Om ...ih aku lagi ngomong!"
"Pakai sabuk pengaman sendiri atau aku yang pakaikan!"
"Iya iya ini aku pake!" sungut Agnia dengan memasangkan seat belt.
Zian mulai melajukan mobilnya keluar dari pelataran lobby, dan melaju dengan kecepatan sedang.
"Dengar baby! Tidak harus melakukan hal itu karena aku suamimu, oke? Dan tidak perlu bersikap sebagai sekretaris. Kau Istriku ... cukup menemaniku saja. Mengerti My baby sekretaris?"
Agnia mengangguk pelan, namun dengan bibir yang mencebik. Zian mencondongkan wajahnya dan mengecup sekilas pipi Agnia.
"Jangan marah ya!"
"Gak ... hanya kesal aja! Aku kan lagi belajar jadi sekretarismu!"
"Apa aku harus memberimu gaji sekretaris?"
"Tentu saja ... aku kan kerja!"
Zian terkekeh, "Aku beri semua yang aku punya padamu mau?"
Agnia menoleh, dengan keras dia mencubit lengan Zian, hingga pria itu meringis namun tidak berhenti tertawa.
__ADS_1
"Iih ... nyebelin banget! Bercanda mulu deh!"
Tak lama kemudian, mobil berhenti disebuah resto. Agnia merapikan rambutnya dengan melihat kaca spion. Sementara Zian yang tengah mengotak ngatik ponselnya melirik.
"Sudah cantik."
"Emang Nia cantik! Superman aja sampe tergila gila kan!" ujarnya terkekeh.
"Sayang!"
"Tapi Nia suka panggilan itu! Gimana dong? My superman."
"Baby ... kita akan masuk, jangan bercanda. Kau tidak ingin aku bercanda tapi kau sendiri bercanda."
"Ya baiklah ... My superman!" ujarnya lagi dengan membuka pintu lalu keluar.
Zian menggelengkan kepalanya, lalu ikut keluar dari mobil. Mereka masuk kedalam restoran ala jepang itu dengan bersisian, Agnia selalu menepiskan tangan Zian yang selalu ingin menuntunnya, dia benar benar ingin bersikap layaknya bos dan sekretaris. Tak jarang Zian mendengus kesal karenanya, namun juga diam diam bangga karena sikap Agnia yang belajar mengimbanginya, walaupun sebenarnya dia tidak ingin Agnia melakukan apa apa.
Meja yang direservasi untuk meeting sudah siap, terletak di ruang vip yang khusus dipergunakan oleh orang orang penting maupun pejabat. Dengan di antar kan seorang waiters mereka memasuki ruangan itu.
"Apa bu Irene sudah datang?" Tanya Agnia dengan suara pelan.
"Kalau sudah datang, kau akan melihatnya nanti baby."
"Ih harusnya kan kau tahu! Atau mengeceknya."
"Tidak perlu!"
Ruangan vip itu ternyata masih kosong, Ceo PT Gemilang ternyata belum juga datang, Zian menarik kursi untuk Agnia duduk, sementara gadis itu menatap wajahnya.
"Apa aku harus duduk disini?"
"Tentu saja! Kau kan ingin jadi sekretaris bukan?"
Agnia lantas duduk, disusul oleh Zian yang duduk disampingnya. Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, seorang wanita tinggi dan juga cantik dengan rambut panjang mauk dengan tersenyum.
Zian berdiri, Agnia pun ikut berdiri menyambutnya. Wanita bernama Irene itu tersenyum sumringah.
"Zian? Apakabarmu?" ujarnya mengulurkan tangan.
Zian tersenyum sekilas, menyambut tangan Irene sebentar lalu melepaskannya.
"Baik Irene! Kau apakabar?"
"Tentu saja aku baik, apalagi setelah melihatmu Zian! Long time no see, sejak lulus kuliah sampai terakhir perusahaanmu mengadakan kerja sama, aku baru tahu itu kau."
"Benarkah?"
Irene menyematkan sedikit anak rambutnya ke sela telinga. "Hm ...! Dari dulu kau memang luar biasa."
Ih sialan sok cantik banget. gumam Agnia yang hanya menatapnya dengan tersenyum, walaupun didalam hatinya mendumel.
Irene beralih menatap Agnia yang masih berdiri tersenyum. Dia mengulurkan tangan ke arahnya, "Ini sekretarismu Zian?"
__ADS_1
"Dia ....!" ucapan Zian menggantung karena Agnia memotongnya.
"Halo ... bu Irene, saya Agnia. Sekretaris Pak Zian.