
Zian memasang wajah yang kesal, saat kembali masuk ketojo berlian, seharusnya dia mencari cincin cantik dengan ukuran jari manis Agnia, dengan kejadian itu justru dia mencari cincin dengan ukuran jari sekretaris Kim hanya untuk berjaga jaga saat Serly kembali mengikuti.
Agnia sendiri memilih cincin seorang diri, sedikit memisahkan diri dari Zian dan Kim, dengan sesekali melirik Zian dengan raut wajah kesal nya, dan sesekali melihat ke arah kaca luar, dimana Serly berjalan dengan ibunya.
Serly melihat mereka, dia cukup diam dan memperhatikan Zian dan juga Kim. Tak lama dia melihat Agnia bergabung dengan menunjukan cincin pilihannya.
"Ini bagus." ujarnya pada Zian.
Namun Zian hanya diam, raut wajahnya tidak berubah, Kim yang berada disampingnya itu berseloroh.
"Calon suami merajuk, kali ini aku tidak akan ikut campur, kau tanggung jawab sendiri Nia!"
Agnia menatap Kim lalu beralih menatap Zian, "Eeh ... gimana?" ujarnya lalu menatap ke arah keluar, dimana Serly terlihat pura pura sibuk menelepon.
"Kim urus pembayarannya!" ujar Zian beranjak dari duduknya.
Kim mengangguk, dia mengajak Agnia yang sudah memilih satu cincin untuknya sendiri.
"Ayo Nia ..." ajak Kim, "Harusnya, kau tidak melakukan ini Nia!" ujarnya lagi saat berjalan sedikit menjauh dari Zian.
__ADS_1
"Harusnya tidak apa apa sekretaris Kim, ini hanya sebentar, aku hanya tidak ingin dapat masalah disekolah gara gara Serly, dia pasti menyebarkannya." terangnya was was dengan terus melihat ke arah Zian.
Sekretaris Kim menghela nafas, "Kau tanggung jawab sendiri nanti! Bos ku selalu diam jika tidak suka, apalagi hal itu dilakukan olehmu, tapi dia bisa melakukan hal yang tidak terduga yang tidak akan kamu bayangkan sebelumnya."
Agnia tertegun, sebentar lagi pernikahan, dan ujian sekolahnya, apa yang akan Zian lakukan!"
Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka bertiga keluar. Agnia merasa tidak enak pada Zian yang berjalan lebih dulu, dia akhirnya menyusulnya.
"Om ... maafin aku! Aku hanya gak mau dapat masalah disekolah!"
"It's ok! Tapi kau juga akan dapat masalah dariku! Kita pulang." ketusnya dengan wajah datar.
"Padahal sedikit lagi gue tahu!" gumamnya dengan menghentakkan kaki.
.
.
Sekretaris Kim melajukan mobilnya, dengan sesekali melirik ke arah belakang dari spionnya, Zian masih terdiam dengan wajah masam, dan Agnia tidak tahu caranya bagaimana membuat keadaan Zian kembali seperti semula.
__ADS_1
"Om masih marah?"
"Tidak sama sekali!"
Agnia melingkarkan tangannya dilengan Zian, "Please jangan marah!"
"Aku hanya kesal Nia! Bagaimana bisa kau menyuruh ku mencari cincin dengan ukuran Kim, memangnya siapa yang akan aku nikahi!"
"Ya ... iya aku minta maaf! Kan aku juga udah milih!"
"Harusnya aku yang memilihkannya untukmu, memangnya kau akan menikah sendiri!" dengus Zian dengan kesal.
"Om marah hanya karena aku milih cincin sendiri?"
"Sudah aku katakan aku hanya kesal Nia! Bukan marah!"
Agnia mengangguk dengan mengulum bibir, menurutnya kekesalan Zian yang hanya masalah sepele itu sangat menggemaskan, wajah tampan itu terlihat lebih tampan saat serius. "Jadi apa yang bisa Nia lakukan agar Om gak lagi marah ... eeh maksudnya kesal."
Zian terdiam, dia hanya menoleh sesaat lalu mendengus pelan.
__ADS_1
"Kim ... kau turun disini saja! Biar aku sendiri yang mengantarkan gadis nakal ini sendiri!"