Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 272


__ADS_3

"Enggak ... jangan. Jangan dokter Sam."


Zian menatap gadis yang kini tengah merasa gelisah. Dia takut jika bertemu dengan dokter Sam yang notabene ayah dari Serly, dia tidak ingin Zian tahu apa yang dia lakukan juga takut jika Sam mengenalinya.


"Kenapa? Dia dokter spesialis kandungan terbaik di kota ini! Ya walaupun sempat ada rumor tidak mengenakan yang sempat santer. Tapi itu tidak lama mempengaruhi kinerjanya sebagai dokter kandungan terbaik." jelas Irsan membeberkan, membuat Agnia semakin takut saja. Dia harus segera mencari cara agar tidak bertemu dengan papa nya Serly.


"Hubby! Pokoknya Nia gak mau diperiksa sama dokter laki laki! Nia mau nya sama dokter perempuan aja." rengeknya pada Zian, mencoba peruntungan dengan bersikap manja saat menolak diperiksa dokter Sam, semata mata dirinya takut ketahuan. "Pokoknya gak mau!" ujarnya lagi.


Zian terkekeh, dia lantas menarik pergelangan sang istri yang semakin menggemaskan dengan sikap manjanya yang sangat jarang keluar itu.


"Tentu baby! Aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuhmu, sekalipun itu dokter terbaik di rumah sakit ini!"


Irsan mendengus mendengar kata kata yang terlontar dari mulut Zian. Dia pun merogoh ponsel dan mengotak atiknya sebentar.


"Ada dokter Siska ... kalian periksa dengannya saja."


Zian mengulum senyuman, begitu juga Agnia. Namun mereka berdua tidak juga beranjak dari duduknya.


"Ayo Zian ... pasien ku sudah banyak yang menunggu!"


"Kenapa tidak kau panggil dokter Siska kemari saja Irsan?"


Irsan mendengus kasar, "Apa kau lihat di ruangan ini tidak ada alat alat pemeriksaan kandungan! Kau ingin periksa apa istrimu ini hamil atau tidak kan?"


"Iya ... untuk itu aku kemari Irsan! Kenapa kau ini."


Suster yang sejak tadi hanya berdiri memerhatikan mereka pun terkekeh, "Mari saya antar ke ruangan dokter Siska! Karena jika dipanggil kemari, sama saja bohong. Alat pemeriksaannya berbeda tuan."


"Kau dengar itu?" ujar Irsan yang terlihat sangat kesal.


Zian pun mrngangkat bokongnya dari kursi, begitu juga dengan Agnia. "Kenapa kau tidak mengatakannya!"

__ADS_1


Keduanya keluar mengikuti suster yang sudah lebih dulu keluar. Mereka masuk ke dalam ruangan obgyn dimana dokter Siska yang akan memeriksa Agnia. Perasaan Agnia kini jauh lebih lega, karena dia tidak harus bertemu dengan papa nya Serly.


"Zian tidak berubah, malah semakin bodoh saja saat menikah!" dengus Irsan saat mereka meninggalkan ruangannya.


Suster mempersilahkan Zian dan juga Agnia untuk masuk kedalam ruangan dokter Siska. Namun dokter yang mereka maksud tidak ada diruangan itu, hanya satu orang suster saja yang tengah berkutat dengan catatannya.


"Dokter Siska baru saja keluar, mungkin sebentar lagi kembali!" ucapnya mempersilakan Zian dan juga Agnia untuk duduk. Sementara suster yang mengantarkannya telah kembali ke ruangan dokter Irsan.


Zian mengangguk, tangannya terulur pada perut rata Agnia dang mengelusnya lembut.


"Aku sangat yakin kalau kau sedang hamil baby!"


Agnia menepis tangannya, "Jangan asal duga! Belum tentu juga kan!"


"Tidak ... aku sangat yakin, feelingku tidak akan salah."


"Feeling feeling ... yang benar saja!" cicit Agnia dengan kedua mata mendelik kearahnya, sedangkan Zian hanya terkekeh.


Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, wanita berbalut jubah putih itu masuk kedalam dan langsung melihat keduanya.


Agnia perlahan beringsut naik keatas ranjang, dia juga menoleh pada Zian.


"Tidak usah takut! Ayo ..." ujar Dokter Siska membantunya naik. "Rileks saja ... ini hanya sebentar kok, tidak sakit juga."


Agnia mengangguk kecil, mengikuti arahan suster yang menyuruhnya terlentang dengan membuka sedikit pakaiannya dibagian perut. Suster juga mengoleskan gel yang terasa dingin di kulitnya.


"Bagaimana Dok? Benarkan istriku hamil?" tanya Zian dibalik gorden yang baru saja ditutup oleh suster.


"Belum dimulai tuan, sabar ya! Aku periksa dulu." Siska terkekeh, membuat Agnia membuang wajahnya karena ulah Zian yang menurutnya memalukan.


Dokter menempelkan tendusel pada perut rata Agnia, dia juga melihat layar monitor dimana gelombang frekwensi terlihat jelas sesuai pergerakan tendusel.

__ADS_1


"Bagaimana dok?" ucap Zian menyibak gorden, dia tidak sabar menunggu dibalik gorden.


"Hubby!"


"Duduk pak! Kita tunggu sebentar ya!" ujar Siska tanpa menoleh, kedua matanya tertuju pada layar monitor yang hanya dia saja yang mengerti.


Sudut bibirnya melengkung, lalu menoleh pada Agnia yang mengernyit melihat monitor disampingnya.


"Selamat ya ... kalian akan jadi orang tua!"


Agnia terngaga sampai tidak tahu harus berkata apa, sangat berbeda dengan Zian yang kini wajahnya seceria musim semi, dimana seluruh kebahagiaan tercipta tiada tandingan.


"Benarkan baby! Feeling ku tidak pernah salah." ujarnya memegang tangan Agnia lalu mengecupnya lembut, Agnia hanya terdiam namun juga hatinya menghangat saat Zian yang begitu bahagia.


"Usia kandungannya baru menginjak empat minggu, tapi semua baik! Selamat ya ... dari sekarang menjaga pola makan, banyak istirahat dan jangan terlalu capek." terang dokter Siska sebelum akhirnya dia kembali duduk di kursi.


Suster mengelap sisa sisa gel dari perut Agnia, lalu mengikuti dokter dan memberikan secarik kertas. Karena keduanya tidak melalui pendaftaran.


"Baby!!" Zian merengkuh memeluk Agnia yang masih membisu bingung itu, kedua tangannya menyisip disela leher.


"Terima kasih baby!" ujarnya lalu mengecup bibirnya sekilas.


Agnia masih belum percaya jika dirinya hamil secepat ini. Sampai dia merasa kedua matanya mengabur juga terasa perih.


"Hey ... baby! Kenapa? Apa ada yang sakit hem? Kau sakit? Katakan apa yang sakit, dimana yang mana?" ujar Zian dengan khawatir dengan segala meraba tangan, perut serta wajahnya bergantian dengan panik.


"Baby ... katakan apa yang kau rasakan Hem?"


.


.

__ADS_1


Om Zian panik banget, dah tau Nia masih bingung wkwkwk. Othor up lagi, maaf kemaren nyangkut di review jadi kayak yg up.


Jangan bosan nungguin othor ya. Makasih buat dukungannya yang warbsyah. Maaf juga othor belum sempet bales komentar.


__ADS_2