Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 160


__ADS_3

Dave tiba tiba berlutut dihadapan anak gadis kesayangannya. Bertumpu pada kedua lutut dengan kepala tertunduk, membuat tubuh Agnia berjingkat seketika dan mundur satu langkah.


"Kesalahanku memang berat dan tidak termaafkan dimasa lalu, mengabaikan seorang anak, darah dagingku sendiri, kakakmu Nia, hingga dia tidak punya kesempatan hidup. Dan sampai kapanpun dosa itu akan terus bersamaku, tapi Daddy tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, dengan terus mengabaikanmu, walaupun terlambat dan baru sekarang daddy menyadarinya. Maafkan Daddy Nia! Maafkan Daddy, Daddy benar benar menyesal." DAve tak kuasa menahan air mata, dengan suara bergetar dan akhinya berlinanglah sudah.


Luruhlah sudah benteng pertahanan yang selama ini Agnia jaga, dia selalu bisa menahan dirinya agar tidak sentimental saat berhadapan dengan ayahnya karena rasa kecewa yang teramat dalam, juga beberapa hari ini yang melihat Daddynya yang semakin menyedihkan, namun nyatanya tidak untuk kali ini.


Air mata yang ditahannya sekuat tenaga kini menganak sungai, membanjiri kedua pipi, dan membuat pandangannya semakin mengabur, Namun aneh bibirnya tetap kelu, tidak ada kata yang mampu keluar dari mulutnya, dia hanya menggigit bibir bagian dalamnya hingga rasanya bau amis darah terasa dilidahnya, dengan bibir yang sama bergetar nya.


Laras mengusap punggungnya dengan lembut, seolah memberi kekuatan dan dorongan agar kembali memberikan kesempatan pada Dave sebagaimana Agnia memberikan hal itu padanya.


"Nia ... maafkan Daddy!"


"Apa Daddy baru menyesal setelah semua yang Daddy miliki hilang? Hem ...?"


Akhirnya kata kata itu keluar juga walau dengan lirih dan suara bergetar.


"Nia!! Sudah sayang," Laras kembali menenangkan anak gadisnya itu, usapan dipunggungnya pun tidak berhenti sedikitpun.


"Daddy tahu Daddy salah padamu Nia, Daddy menyesal setelah semua yang terjadi."


"Apa kalau semua yang Daddy miliki tidak hilang, Daddy tidak akan menyesal sampai berlutut seperti ini?" Agnia kembali menggigit bibirnya sedikit menahan emosi karena merasa dirinya tidaklah puas dengan apa yang dilakukan Dave.


Laras memegangi bahunya, "Sayang ... sudah, yang terpenting adalah Daddy menyesal dan mau berubah sekarang!"


"Enggak Mom ... bagaimana kalau Daddy bohong, dan ninggalin Nia lagi? Gimana kalau semua yang diucapkannya hanya karena Daddy gak punya apa apa lagi." Isak tangis terdengar tanpa bisa ditahan lagi.


Dave semakin tertunduk lesu, air bening terus luruh bersama kesedihannya melihat putrinya sendiri telah kehilangan kepercayaan terhadapnya.


"Mommy gak tahu gimana rasanya jadi Nia!"

__ADS_1


Laraspun akhirnya ikut menangis, melihat Agnia yang histeris mengatakan semua kekecewaan yang dirasakannya terhadap Dave. Sosok pria yang seharusnya menjadi pelindungnya, sosok pahlawan yang selalu pasang badan saat dia merasa kesulitan, dan menjadi arah untuknya agar kembali saat tersesat. Menggenggam tangannya disaat orang lain melepasnya, memberinya stimulasi pertahanan, kemandirian, ketangguhan bahkan curahan kasih sayang yang selama ini dia harapkan.


Hati Dave merasa teriris, mendengar semua ucapan putri kesayangannya dan kekecewaannya yang mendalam. Tidak pernah dia merasa sepedih seperti saat ini, dimana semua rasa bersalah dan rasa penyesalannya pada sang putri tidak mampu mengobati luka dihati putrinya.


"Maafkan Daddy Nia! Berjuta kali maaf untukmu putri Daddy." lirihnya dengan tetap berlutut.


Dada Agnia yang terasa sesak itu kembali lega saat mengeluarkan apa yang selama ini dia rasakan, terhadap ayahnya, Dave. Rasa rindu yang teramat dalam, namun juga rasa kecewa yang meliputinya.


Kedua tungkai lututnya kini melemah, seiring dengan derai air mata yang terus membanjiri keduanya, Agnia ikut berlutut dihadapannya, menatap sosok ayah yang begitu dia rindukan.


"Nia ... sweetheart!"


Deru nafas yang semakin memburu disertai dada sesak yang kian naik turun, membuat keduanya terdiam sesaat, kemudian Agnia sendiri yang berhambur memeluknya erat.


"Daddy jahat! Jahat!!"


Dave tersentak, dia pun tidak menyangka dengan tindakan putrinya yang tanpa disangka. Turut melingkarkan tangan pada tubuh yang tidak lebih besar dari setengah tubuhnya itu dengan erat, hingga air bening itu semakin banyak turun.


"Daddy janji gak akan ninggalin Nia lagi? Daddy janji akan berubah?"


Dave mengangguk penuh semangat, "Ya ... tentu saja Daddy berjanji, Daddy janji pada Nia, akan jadi Daddy paling hebat didunia, akan jadi Daddy sesuai harapan Nia, Daddy akan berubah." Dave kembali menciumi kening dan pipi Agnia, seperti yang selalu dia lakukan saat dulu. "Nia maafin Daddy kan?" ucapnya lagi, untuk memastikan bahwa putrinya kini memberikan maaf dan kesempatan dirinya untuk kembali.


Agnia mengangguk, dan kembali menenggelamkan kepalanya di dada Dave, tidak ada dada ternyaman didunia ini selain dada seorang ayah.


Laras menyapu air di ujung matanya, dengan tersenyum menatap keduanya yang saling berpelukan erat. Hilang sudah semua keresahan dan segala ketidak pastian dalam hatinya, setelah melihat ayah dan anak kembali bersama.


Begitupun dengan sosok pengasuh yang selama ini tahu bagaimana menderitanya Agnia yang tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya, namun tumbuh dengan mandiri dan juga ketangguhan, dia berdiri di ambang pintu yang menghubungkan ruangan depan dengan ruangan belakang, menyeka air mata bahagia dan sama sama lega melihat keduanya.


"Semoga kebahagiaan selalu meliputi seluruh keluarga ini!" gumamnya lalu kembali masuk kedalam dapur.

__ADS_1


Tak lama, pelukan itu terurai kembali, Agnia menarik tangan Dave agar kembali bangkit dari berlututnya, Dave pun dengan ragu beranjak bangkit, dengan perlahan menyeka mata Agnia yang masih basah.


"Terima kasih karena Nia masih mau memberikan kesempatan pada Daddy."


Gadis itu mengangguk, "Maafin sikap keras kepala Nia Dad!"


"It's oke Nia ... Daddy yang bersalah selama ini!" ujarnya dengan kembali memeluk sang buah hati.


"Terima kasih Laras." ucapnya dengan menggenggam tangannya.


"Sama sama Dave, ayo kita duduk. Aku yakin kalian sama sama lelah dan sentimental. Sudah saatnya kita akhiri hari penuh kesedihan ini bukan?"


Laras mengajak keduanya menuju ruang makan, Dave menarik kursi untuknya dan juga untuk Agnia.


"Aku mau kita makan di kebun belakang!" ujar Agnia dengan wajah berbinar.


Laras yang sudah duduk itu menatap Dave yang hendak menarik kursi miliknya. Ketiganya saling berpandangan dengan penuh haru.


"Baiklah ... ayo kita pergi ke taman belakang!" seru Laras dengan kembali bangkit.


"Let's go!" Dave mengulurkan tangan pada Agnia dan menariknya, menggenggamnya dengan perasaaan bahagia yang tiada Tara.


Ketiganya berjalan ke belakang, dimana ada taman kecil dengan ayunan yang bahkan sudah jarang Agnia kunjungi selama ini.


Dibantu oleh Bi Yum, mereka menggelar kain tikar, beberapa makanan dan cemilan pun dibawanya.


Kebahagian yang kembali Agnia rasakan setelah sekian lama merasa dunia ini tidak pernah sekalipun peduli padanya.


Dave kembali memeluknya erat, dan entah keseberapa kalinya mengucapkan kata yang sama.

__ADS_1


"Terima kasih sweetheart."


__ADS_2