Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 115


__ADS_3

Seusai pertemuan tidak sengaja ya itu, Agnia tidak lagi bisa sembunyi dari Zian, berkali-kali Zian menawarkan untuk mengantarnya pulang, namun Agnia bersikeras tidak ingin diantar.


"Please Om ... kalau Om bersikeras nganter! Aku bakal pergi dan kali ini selamanya om gak akan bisa temuin aku." ketus Agnia membuat Zian terperangah.


"Ok ... ok, aku tidak lagi memaksamu Nia! Tapi setidaknya, aku bisa menghubungimu nanti! Please jangan pergi lagi, beri aku kesempatan Nia!" ujar Zian dengan pandangan nanar, akhirnya Agnia mengangguk pelan.


"Om Zian ... Kak Nia gak punya ponsel kok!" celetuk Aya dengan polosnya.


"Aya ... astaga!" gumam Agnia.


"Benarkah Nia? Kenapa tidak bilang padaku? Sekarang ayo ikut aku." ucap Zian dengan mengangkat bokongnya dari kursi.


"Ayo ... dari tadi kamu terus menolak, kali ini kau jangan menolaknya, karena aku akan tetap memaksa untuk yang satu itu!"


Agnia menghela nafas, namun juga tidak bisa menolaknya lagi. Kali ini dia mengalah, dia sudah bilang memberikan kesempatan pada Zian untuk mengejarnya dan membuktikan dirinya sendiri.


Akhirnya mereka bertiga keluar, dan berjalan menuju ke gerai ponsel, berbagai merek ada disana, Agnia hanya diam saja saat Zian menyuruhnya memilih, hanya Aya yang terlihat bersemangat dan menyuruh gadis itu memilih.


"Ayo Nia! Pilih yang kamu suka!"


"Terserah Om saja!"


Zain terdiam sebentar lalu mengangguk, menyuruh pelayan toko itu mengambil ponsel keluaran terbaru untuknya, dan mengaturnya langsung.


Zian mengambil ponsel yang telah siap itu, memastikan nomornya ada didalam sana lalu memberikannya pada Agnia. Dia menerimanya, dengan mengucap terimakasih dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"Terima kasih."


"Kamu sudah janji memberikan aku kesempatan! Jadi tepati itu, mengerti?" Ujarnya dengan mengacak rambut Agnia.


Gadis berusia tujuh belas tahun itu mengangguk lalu tersenyum tipis. Tengah berusaha menahan gejolak dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya, ditambah sentuhan dikepalanya.


Setelah melihat nya lagi, gue baru sadar kalau gue juga merindukannya.


Setelah keluar dari gerai ponsel, mereka bertiga kembali turun lalu keluar dari mall itu, Zian berjongkok didepan Aya, memegang tangan mungilnya.


"Terima kasih Aya! Berkat dirimu, aku bisa menemukan kak Nia."


Aya mengangguk, "Kalau gitu, Om Zian jangan nakal, kalau nakal ... nanti kak Nia marah!" bisiknya ditelinga Zian.


Tanpa sadar Zian mengangguk dengan senyum yang manis, "Om Zian janji gak bakal nakal dan bikin kak Nia mu marah lagi, tapi Aya juga harus bantuin Om, jagain kak Nia ya."


Setelah bicara dengan Aya, Zian kembali bangkit, dan menatap ke arah gadis yang masih memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Nia ...."


Agnia menoleh, dan kedua manik mereka kembali bertemu, "Jaga dirimu baik-baik!"

__ADS_1


Agnia mengangguk, "Kalau gitu, Nia pulang dulu. Ayo Aya ... kita pulang,"


Keduanya menganggukkan kepalanya, lalu berbalik dan mengayunkan kaki kearah bis yang tengah menunggu penumpang.


Zian tidak bisa menahannya lagi, kerinduannya amat menyiksa, dia berlari kearah Agnia dan menarik lengannya, hingga tubuhnya berbalik dan menabrak tubuh Zian, dia memeluk erat Agnia. "Biarkan aku memelukmu Nia! Aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi! Aku merindukanmu ... sangat!"


Agnia yang tersentak pun hanya bisa terdiam, walau dirinya sendiri sesungguhnya merindukannya dan ingin ikut melingkarkan tangannya mendekap tubuh dengan wangi menenangkan itu.


.


Setelah memastikan gadis itu naik, Zian berlari menuju mobil dan masuk kedalamnya, bukan Zian namanya jika hanya berdiam diri melihatnya pergi begitu saja, dia mengikuti bis itu dari jauh dan ingin tahu dimana gadisnya itu tinggal.


"Kamu melarangku untuk mengantar, tapi tidak melarangku untuk mengikutimu bukan? jadi kali ini aku tidak salah Nia, aku tidak akan pernah melepaskan mu setelah menemukanmu lagi." gumamnya dengan terus melaju mengikuti kemana arah bis itu melaju.


Bis berhenti, Zian pun ikut menghentikan mobilnya dan menunggu, melihat dengan jelas keduanya turun dan kembali naik ke dalam bis yang berbeda.


"Nia ... sampai kapan kamu terus menerus menyiksa diri seperti itu! Padahal kau hanya tinggal mengatakan apapun yang kau inginkan padaku, dengan senang hati aku akan memberikan semua untuk mu." ujarnya lagi, dia merasa kasian padanya, perjalanan yang jauh, yang harus ditempuhnya.


Stelah bis itu kembali bergerak, Zian pun menginjak pedal gasnya lalu kembali mengikutinya, dan sesaat terdiam saat bis itu kembali berhenti.


Agnia dan juga Aya turun dari bis, berjalan masuk kedalam sebuah gank yang hanya bisa dilalui dengan sepeda motor ataupun hanya pejalan kaki.


Zian merasa mengenal tempat itu, dia menunggu beberapa saat lalu keluar dari mobil.


"Ini?" ujarnya saat melihat Agnia masuk kedalam satu rumah yang dia kenali.


Zian tidak bisa menahan emosinya lagi lalu kembali berjalan masuk kedalam mobil dan melaju dengan cepat. Satu tujuannya saat ini, kembali pulang ke rumah.


Pria yang tengah kesal itu membanting pintu mobil dan masuk kedalam rumah.


"Bi ... Bi nur!!" teriaknya keras.


Bi Nur yang tengah berada dibelakang itu tergopoh-gopoh berlari ke dalam.


"Ada apa Tuan?"


"Apa kau sudah tidak waras?" sentaknya.


Pelayan rumah itu tertunduk takut, dia tidak berani menatap Zian yang tengah marah,


"Selama ini kau tahu dimana dia berada, tapi kau tidak mengatakannya padaku? Apa kau sudah bosan hidup Nur!"


Baru kali ini Zian memanggil langsung namanya saking kesalnya, membuat Bi Nur semakin tertunduk dengan kedua tangan gemetar.


"Ma--maaf Tuan, non Nia melarangku mengatakan apa-apa!"


"Jadi benar, selama ini kau yang membawanya dan menyembunyikannya?"

__ADS_1


Bi Nur menggelengkan kepalanya, "Bu--bukan se-seperti itu, bibi tidak sengaja bertemu dengannya saat itu, saat non Nia sendirian setelah kecopetan dan kelaparan! Dan bibi menawarkan untuk tinggal, tanpa tahu kalau non Nia dan tuan sedang ada masalah!" terang wanita paruh baya itu.


Zian terdiam, dengan rahang yang bergemelatuk, menahan amarah yang membuncah, selama ini dia sudah gila mencari gadisnya, sementara wanita yang selama ini mengabdi pada keluarganya itu tahu, lebih parahnya tidak mengatakan apapun padanya, namun saat mendengar Agnia sendirian dan kelaparan, hatinya justru merasa sakit, tidak bisa menjaga Agnia dengan baik dan membuatnya kecewaa.


Zian berjalan dengan cepat tanpa mengatakan apapun, dia menaiki tangga dan melemparkan hiasan yang berada di anak tangga paling atas, hingga terjatuh dan berantakan lalu masuk kedalam kamarnya, lalu menutup pintu kamar dengan keras.


"Maafkan bibi Tuan!"


"Aaaahkkk!!!" Zian mengacak rambutnya dengan kasar, lalu membanting tubuhnya ke atas ranjang.


"Aku memang bodoh!" ucapnya merutuki dirinya sendiri.


Sekretaris Kim yang baru saja tiba pun heran, melihat Bi Nur yang sudah menangis, memunguti pecahan pot bunga yang berserakan.


"Ada apa bi?"


"Sekretaris Kim? Bibi mengaku salah, tapi non Nia yang menyuruh bibi jangan mengatakan apapun pada Tuan."


Kim mengernyit, dia masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh bibi pelayan rumah.


"Apa maksudmu Nia sudah ketemu?"


Bi Nur mengangguk, "Selama ini non Nia tinggal dirumah bibi.


"Astaga ... pantas saja tuan marah! Selama ini dia mencarinya seperti orang gila bi!" ujarnya lalu mengayunkan kakinya naik ke atas.


Tok


Tok


"Tuan! Aku masuk!"


Tanpa menunggu jawaban, sekretaris Kim masuk kedalam kamar dan melihat Zian tengah terbaring dengan kedua mata yang tertutup.


"Kau tahu Kim ... Aku menemukannya hari ini! Tapi dia tetap menolak untuk kembali kemari. Dan aku seperti dihukum, apa ini karma Kim? Karena aku sering menyakiti wanita? Apa tidak cukup karma dari Dita yang berkhianat dari ku? Aku sudah berubah Kim! Tapi kenapa Nia masih menolak ku!" terang Zian dengan kedua mata yang masih terpejam.


"Setidaknya Nia sudah ditemukan!" sahut Kim yang berdiri menghadap Zian.


"Tapi aku tidak bisa memaksanya Kim! Sepertinya aku lemah saat berhadapan dengannya, dia berbeda dan aku tidak ingin kehilangannya lagi."


Kim mengulum senyuman, "Kalau begitu berusahalah! Kau pasti bisa."


.


.


.

__ADS_1


Nikmati alur lambat dan berbelit- Belit ini ya bestie wokwokwok, dan jangan lupa dukungannya, like dan juga komen


__ADS_2