Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 306


__ADS_3

Zian memindahkan tubuh sang istri ke atas ranjang, menarik selimut dan menyelimutinya, dia juga ikut terbaring di sampingnya, melingkarkan tangan memeluk pinggangnya dan sesekali mengecupi kepalanya lembut.


Tangan Zian turun ke perut, "Sehat sehat diperut Mami sayang! Jangan membuat Mami mu repot oke?" gumam nya pada perut yang kini sudah terlihat membuncit walau belum terlalu besar.


"Iya papi ... Aku gak bikin repot Mami kok!" lirih Agnia yang ternyata sudah terbangun, kegiatan Zian yang terus menciumiinya membuatnya terbangun.


"Baby! Sudah bangun hem? Ayo katanya mau pergi menonton bioskop."


Agnia terdiam, tadi memang ingin, tapi sekarang tidak. Dia lebih ingin bermanja manja saja dengan suaminya di kamar.


"Hum ... Nanti aja deh! Nia males keluar." kekehnya.


"Lho ... Bukannya tadi bilang ingin sampai kesal dan bibirnya begini." ujar Zian dengan bibir yang dia kerucutkan, memperagakan bibir sang istri yang tadi dia lihat.


"Emang tadi aku begitu?"


"Huum ... Dan sekarang kau berubah pikiran, padahal aku sudah membatalkan jadwal meetingku hari ini."


"Itu kan tadi! Sekarang gak mau."


"Kenapa tidak bilang saja ingin berduaan terus denganku di kamar dan melakukan hal hal menyenangkan."


"Iih ... Apaan ih!"


"Ooh ... Tidak ya! Ya sudah, karena kamu tidak lagi ingin pergi nonton, aku meeting saja."

__ADS_1


"Jangan! Jangan pergi kemana mana. Dirumah aja hari ini, besok baru pergi ke kantor."


Zian mengulum senyuman, bagaimana mungkin gadis keras kepala kini berubah menjadi sangat manja dan bergantung padanya. Dan jelas jelas selalu ingin berduaan dengannya, dengan sikap malu tapi mau.


"Hem, benarkan aku bilang! Kau hanya ingin berduaan terus." ucapnya dengan kembali memeluknya. Agnia hanya terkekeh, lalu mengangguk pelan.


Drett


Drett


Ponsel Agnia berdering di atas meja, Zian meliriknya sebentar lalu menatap Agnia.


"Mau aku ambilkan?"


Agnia mengangguk, perhatian Zian sudah menjadi candu baginya, terlebih dia memperhatikannya dari hal hal sepele seperti itu. Zian pun bangkit dan mengambil ponsel milik Agnia tanpa ingin melihat isinya.


"Aku tidak tahu, buka saja! Siapa tahu penting."


Sederet barisan pesan dari nomor yang tidak dia save juga panggilan tidak terjawab dari Cecilia dan juga Nita dua jam yang lalu.


Nia, kita mau ke rumah sakit sekarang, Serly kecelakaan. Lo mau kesana? Kalau mau kita ketemu disana ya.


Agnia terhenyak mendengarnya, mengingat sosok Serly yang sampai hari ini belum pernah dia temui lagi, bahkan mereka tidak lagi bertemu sejak tiga bulan yang lalu.


"Siapa baby?"

__ADS_1


"Kita harus ke rumah sakit! Serly ... Serly kecelakaan."


Namun belum sempat keluar rumah, ponselnya kembali berdering, Cecilia meneleponnya saat Agnia tengah di kamar mandi. Zian mengetuk pintu dengan ponsel di tangannya.


"Baby ... Apa aku boleh mengangkat ponselnya?"


"Angkat saja Hubby! Aku belum selesai!"


Kenapa mesti bertanya dulu, angkat saja padahal. Batin Agnia.


Zian pun mengangkat sambungan telefon dari Cecilia.


'Halo Nia ... Nia lo masih dimana? Lo ke rumah sakit kan?'


'Ya?'


'Eh ... Om Zian? Nia mana?'


'Masih siap siap!'


'Serly udah gak ada Om! Maksudku ... Tolong bilangin Nia tidak usah ke rumah sakit! Kita semua bakal langsung ke rumah Serly.'


Zian terdiam, mencoba mencerna perkataan Cecilia yang setengah buru buru itu, dia pun menoleh pada pintu kamar mandi untuk memastikan jika istrinya masih di dalam.


'Ya ... Baiklah, kami akan ke sana.'

__ADS_1


Zian pun buru buru menutup sambungan telefon itu, namun dia bingung sendiri cara menyampaikan berita itu pada Agnia. Kabar duka itu pasti akan mengejutkan Agnia, dan Zian tidak mau terjadi apa apa disaat kondisi kehamilannya yang masih rentan seperti sekarang. Agnia keluar dari kamar mandi, dia berjalan ke arah Zian yang duduk termangu.


"Hubby! Apa kata Cecil?"


__ADS_2