Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 21


__ADS_3

"Uhuk."


Mampus gue, apa nanti yang difikirkan teman-teman disekolah.


Zian bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja ke luar rumah, sementara Agnia masih tertegun memikirkan apa yang akan terjadi disekolah.


"Heh ... gadis liar! Kau mau sekolah tidak?" seru Zian dari ambang pintu.


Agnia menyeruput gelas berisi susu, lalu bangkit dengan menyambar tas sekolah yang dia sampirkan di bahunya.


Tidak ada pilihan lain Nia, ikuti saja perintahnya dulu. Hanya 3 hari, bertahanlah. Batin Nia menguatkan dirinya sendiri.


Agnia masuk kedalam kursi disamping pengemudi, sementara Zian yang sudah menyalakan mobil pun menoleh padanya.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di depan?"


Agnia berdecak, lalu tanpa membuka pintu dia melompat ke kursi belakang, "Kau memang gadis liar!"


"Kelamaan kalau harus keluar dulu Om!"


Zian memakai kaca mata hitamnya, setelah itu melajukan mobil keluar dari rumahnya. Sesekali matanya melirik Agnia dari spion dalam, gadis itu tengah mendengarkan musik dari head phone yang terhubung dengan ponselnya.


Kenapa aku terlihat seperti supir yang sedang mengantarkan nona muda. Cih


Ckiiiittt....


Zian mendadak menginjak rem tiba-tiba, membuat tubuh Agnia terhuyung ke depan dan membentur belakang jok mobil kemudi,


"Sial ... Om yang bener dong! Bisa gak sih pelan-pelan nge-remnya!" ujarnya dengan membetulkan head phone yang hampir terjatuh.


"Pindah! Aku bukan supir!"


"Hah ...!"


"Kubilang pindah kedepan, kau pikir aku supir?"


Agnia merengut, "Kau yang menyuruhku kebelakang!" gumamnya.


"Jangan menggerutu! Anak kecil sudah pintar menggerutu seperti orang tua...."


"Ya yayaa terserah saja! Kau bos nya!" ujarnya dengan kembali melompat ke depan.


Agnia memakai sabuk pengaman dengan mendelik ke arah Zian.


Tak lama kemudian, Zian kembali melajukan mobilnya, tidak memperdulikan Agnia yang masih tersungut-sungut disampingnya, namun ujung bibirnya sedikit melengkung, melirik Nia dibalik kaca mata hitamnya.


Lihat bibirnya yang mengerucut seperti itu, membuatku penasaran bagaimana rasanya.


.

__ADS_1


Agnia semakin kesal karena Zian sengaja berhenti tepat didepan gerbang sekolah, membuat pada siswa yang yang baru datang melihat ke arah mobil berwarna merah milik Zian.


"Siapa tuh?"


"Mobilnya keren!"


"Hooh...."


Melihat beberapa siswa yang masih berdiri didepan nya, Agnia memilih diam, meskipun tangannya sudah menempel dihandle pintu, dia menutup kembali pintu nya dan menyandarkan punggungnya di jok mobil.


"Ayo keluar, tunggu apa lagi!"


Agnia mendengus, "Om tidak lihat teman-temanku melihat ke arah sini! Kalau aku keluar mereka pasti mengira berita itu benar, dan aku sekarang, mereka akan melihatku, dan aku akan semakin dikucilkan, jika ketahuan turun dari mobil ini dan diantarkan oleh om-om. Duniaku akan runtuh seketika tahu gak?!"


"Cerewet sekali!" ujar Zian, namun dia melajukan mobilnya kembali, dan berhenti di tempat yang terlihat sepi.


"Sudah, sekarang sepi! Turun sana!" ucapnya tanpa melihat ke arah Agnia.


Agnia mengedarkan pandangannya, bak seorang pencuri yang tidak ingin ketahuan, dia keluar dari mobil dengan cepat, lalu berlari begitu saja.


"Dasar liar! Dia bahkan tidak berterima kasih, lagipula bagaimana orang lain tahu yang mengantarkannya seorang Om-om, memangnya aku akan keluar dan mengantarnya sampai ke kelas!" gumamnya dengan kembali melaju.


Namun tak disangka, seseorang melihat Agnia turun dari mobil merah itu, dia memasang kamera diponselnya dan mengambil gambarnya.


"Ini akan berguna nanti!"


.


"Agnia!"


Agnia menoleh ke arah suara, dan melihat Adam yang mengendarai motornya.


Adam, dia lihat gue turun dari mobil om Zian gak ya?


"Ha--hai Dam?"


"Lo dianter siapa Nia?"


"Magsud lo? Lo tadi lihat gue emangnya?"


Adam merasa heran dengan pertanyaan dari Agnia, namun kepalanya dia gerakkan ke kiri dan ke kanan.


"Tumben lo nanya?" tanya Nia dengan ketus.


"Gitu amat sih! Lo masih marah karena gue nolak lo tempo hari?" ujarnya dengan melaju kan motor dengan pelan mengikuti langkah Agnia.


"Dih ... siapa juga yang marah gara-gara itu! Udah gak penting buat gue." seru Agnia yang langsung berlari menuju kelasnya, sementara Adam harus mencari tempat parkir terlebih dahulu.


.

__ADS_1


Agnia masuk kedalam kelas, dia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan teman-temannya yang terlihat tidak suka padanya. Serly mengalungkan tangannya dibahu Agnia, "Hai Nia! Kemarin sore gue ke rumah lo, tapi lonya gak ada! Lo kemana kemarin?"


Agnia melepaskan rengkuhan Serly, dia terlihat kaget, "Lo kerumah gue ngapain, biasanya juga kabarin gue dulu kalau lo mau dateng!"


"Gue suntuk dirumah, makanya gue pengen maen ke rumah lo, eeh lo nya gak ada!"


"Bi Yum juga gak tahu lo kemana! Lo kemana sih?" tanyanya lagi penasaran.


"Gue ke tempat saudara gue!" jawabnya dan kembali berjalan ke bangkunya.


Serly yang penasaranpun duduk disebelahnya, "Lo hari ini jadi ke SMA nusantara?"


Agnia mengangguk, "Bareng Adam?" tanya Serly lagi.


"Iya ... kenapa, lo mau gantiin gue?"


Serly mengerjap, "Enggak sih!"


"Terus ngapain lo nanya-nanya mulu, jangan-jangan lo suka lagi sama Adam?" pancingnya.


"Enggak, siapa yang suka sama Adam, gue hanya nanya Nia! Lagian lo kenapa sih ... gitu amat ke gue!"


Agnia tersenyum, "Perasaan lo aja kali Serly, lo kayak nyembunyiin sesuatu dari gue, makanya lo mikir gue kayak gitu ke lo."


"Apaan sih Agnia, lo gak percaya lagi ke gue?"


"Percaya kok! Bahkan gue percaya banget sama lo! Melebihi siapapun! Lo kan sahabat gue."


Agnia ... Agnia, lo polos amat sih.


Gue gak tahu motif lo Serl, yang jelas ... gue udah gak bisa percaya lo lagi.


Sementara Vina menatap mereka berdua dengan pandangan nanar, dia ingin sekali menyapa Agnia, satu-satu nya teman yang menganggap nya ada, dan selalu bersikap baik padanya.


Adam masuk dan melewati bangku yang diduduki Agnia dan Serly, dia melirik ke arah mereka sebentar lalu kembali ke bangkunya sendiri, sementara Serly menkleh ke arahnya dengan tatapan mencurigakan.


Pak Sopian masuk ke dalam kelas, membuat kebisingan kelas mendadak berhenti, satu persatu dia lihat, "Bapa kemari menggantikan tugas guru kalian yang berhalangan hadir, Nia kau catat ini di papan tulis, sementara yang lain jangan berisik!"


"Iya pak!" mereka menjawab serentak.


Agnia maju dan membawa buku sesuai perintah pak Sopian.


"Nia ... jangan lupa, nanti sepulang sekolah, kau harus pergi ke SMA nusantara bareng Adam.


Agnia menoleh ke Adam, begitu pun Serly yang menoleh ke arahnya.


"Dan satu lagi! Selesai menulis, kau menghadap ku di ruang BK."


"Ada apa lagi pak?"

__ADS_1


Pak Sopian pun kembali keluar. Sementara semua teman-temannya menatap kearahnya.


"Nia lo bikin ulah apa lagi?


__ADS_2