
Hiihii ... Nah gitu dong kan enak pas liat komennya rata. Othor gak ngambek atau marah ya. Othor baik hati begini kok. Kalian senang othor pun senang kan jadinya.
.
.
Zian membawa Agnia masuk kedalam kamar paling mewah di hotel berbintang itu, deluxe room dengan kisaran harga fantastis menjadi tempat bermalam sepasang suami istri berbeda generasi itu.
Belum sempat menutup pintu, Zian dan Agnia slaing menatap saat pintu di ketuk dari luar.
Tok
Tok
Zian yang masih memegang handle pintu pun bergegas membukanya.
"Dokter Siska?"
"Aku hanya ingin mengecek Nia sebelum tidur."
"Ah ... iya! Masuklah dokter."
Dokter Siska mengangguk dan memasuki kamar premium itu dengan kagum. Agnia pun melemparkan senyuman saat melihat dokter yang lagi lagi akan memeriksanya.
"Bagaimana keadaanmu? Ada keluhan? Aku dengar tadi kamu makan skin fish? Dan Kari singapura? Apa kau tidak punya alergi?"
"Enggak kok Dok! Aku baik baik saja."
"Tidak mual saat makan skin fish?"
"Enggak! Malah dia yang mual." tunjuknya pada Zian mematung di sampingnya.
"Baguslah kalau begitu, jangan lupa minum vitamin ini ya." Siska menyerahkan dua butir obat. "Kalau begitu selamat istirahat."
Dokter Siska keluar diantarkan Zian. Semntara Agnia menatap ruangan Hotel yang memiliki tiga tower besar dan diatasnya sebuah perahu yang menghubungkan ketiganya. Memiliki view indah karena bisa melihat keindahan pusat kota Singapura dari atasnya. Juga memiliki balkon pribadi serta kolam renang pribadi.
Kedua manik hitam Agnia membulat sempurna saat memasuki kamar tidur dengan pelayanan premium itu.
__ADS_1
"Hubby ... ini kereeeen sekali!!" ujarnya bergegas membuka pintu balkon dan menghirup udara malam yang segar, lampu lampu berkelap kelip disertai pemandangan yang langsung ke teluk Marina.
"Hubby, kita ada di mana? Berasa di surga gak sih?" tanyanya konyol dengan kedua mata berbinar menatap keindahan didepannya.
"Konyol ... memangnya kau pernah ke surga? Sampai tahu bagaimana itu surga. Orang mati saja belum tentu sampai ke surga dan menceritakannya."
Agnia berdecak dengan mata yang mendelik ke arahnya, "Susah kalau udah tua! Itu kan pribahasa anak zaman now kalau lihat keindahan luar biasa kayak gini."
Zian terkekeh, itu memang benar. Ada beberapa kosa kata yang kerap Agnia ucapkan yang tidak dia mengerti karena perbedaan usia dan juga zaman mereka yang berbeda.
"Iya aku mengerti baby!" Ujarnya dengan memeluk Agnia dari belakang.
Tak lama kemudian tubuh Agnia berputar ke belakang, mereka saling menatap lama dan dalam, semakin dalam hingga tanpa sadar jika keduanya saling menempelkan benda kenyal tanpa tahu siapa yang memulainya duluan.
Mereka saling merasai, membelit satu sama lain dengan lembut, dan perlahan belitannya semakin dalam hingga decakan demi decakan beringingan dengan nafas yang saling memburu.
Zian menggendong tubuh tidak seberapa itu, dengan kedua kaki Agnia membelit pinggangnya, dan kedua tangannya membelit di leher Zian. Gerakan impulsifnya membawa Agnia masuk tanpa melepaskan tautan di bibirnya, dengan terus berjalan perlahan lahan dan membawanya ke meja mini bar dan mendudukkan Agnia disana.
Keduanya saling menatap, kembali saling menyambar bibir dengan benda tanpa tulang yang saling menerobos masuk. Kali ini ciumaan itu semakin dalam dan panas, saling mencecap dengan Zian kembali membawa tubuh Agnia.
Pria itu membawanya kedalam kamar, dan menjatuhkannya diatas ranjang, perlahan namun pasti, mereka saling melucuti.
"Kita lakukan dengan perlahan baby! Tenang saja."
Agnia mengangguk, dia kembali membuka kancing kemeja Zian hingga bertelanjang dada. Begitu juga dengan Zian yang perlahan lahan membuka pakaian Agnia.
Deru nafas keduanya semakin bergelora saat kedua kulit bergesekan dengan perlahan lahan. Gerakan Zian sangat lembut, membuai Agnia hingga dirinya hanya mampu menggigit bibir serta kedua mata yang terpejam.
Eeuuhhgg
Agnia mendesahhh saat senjata Zian masuk dengan perlahan, membuat semua indera yang dimilikinya berjalan melebihi batas normal, pengecap yang terus bertautan, penglihatan yang terus melihat keindahan keduanya dan pendengaran yang dipenuhi suara suara khas bercintta yang semakin membuat mereka melambung tinggi.
Zian menggeram saat dirinya mengajak gadis yang begitu dia cintai itu menuju puncak segala keindahan. Yang dilakukan dengan jutaan kasih sayang dan cinta, yang dirasai nya dengan sejuta penjagaan, kemurnian dan sangat berbeda jauh dibandingkan saat dia melakukannya dengan wanita lain di masa lalu. Dan sangat jelas karena hasrrat yang berbeda menjadi alasannya, Agnia bukan wanita yang dia jadikan pemuas nya, atau di jadikan tempat nafssu nya saja. Tapi lebih dari itu.
"Baby eeeuugghh!!"
.
__ADS_1
Agnia terkekeh saat tubuh Zian melunglai disampingnya, dengan keringat yang memenuhi seluruh tubuh atletisnya.
"Aku tidak pernah menyangka melakukannya ditempat ini jauh berbeda dibandingakan dengan tempat lain baby!" gumamnya dengan kedua mata yang meredup menatap Agnia.
"Emangnya iya?"
"Hem ... apa kau tidak merasakannya?"
Agnia menggeser tubuh polosnya yang hanya di tutupi selimut, "Apa ini bisa di bilang Honeymoon?"
Zian menggelengkan kepalanya, "Bukan ... tapi kalau kau ingin kita menyebutnya begitu, Oke! Kita ambil paket premium untuk honeymoon."
Gadis itu kembali menelentangkan tubuhnya, "Iih ... gak inisiatif, honeymoon kalau aku bilang honeymoon. Gimana sih."
Zian terkekeh, dengan memeluk tubuh Agnia.
"Katakan saja apa yang kau inginkan baby! Aku akan berusaha mewujudkannya." bisiknya tepat ditelinga Agnia.
"Nia mau beli hotel ini!" ujarnya menantang, "Besok!!" ujarnya lagi. Dia hanya asal bicara saja.
"Besok? Kenapa tidak malam ini saja!" Tukas Zian dengan menggelitiki punggang Agnia hingga gadis itu terpingkal.
"Aku ngidam!" Agnia tertawa dengan terus menepis tangan Zian yang menggelitik.
"Kenapa menunggu besok! Hem, dasar ... aneh aneh saja orang mengidam. Tadi kulit ikan,"
"Yee ... mana aku tahu kalau aku pengen banget makan itu! Kalau hotel ini sih aku hanya mengada ngada." ujar Agnia kembali tertawa.
"Kalau kau benar benar ingin hotel ini apa yang akan kamu lakukan disini? Saat ini?"
"Iiih ... apaan! Enggak lah, aku gak mau punya hotel,"
"Suamimu pemilik hotel, jadi bisa saja kau juga memilikinya jika mau."
Agnia menempelkan telunjuk di dagunya, dia menatap langit langit seraya berfikir apa yang akan dia lakukan jika benar benar memiliki hotel seperti hotel yang mereka tempati saat ini.
"Hem ... Nia tahu! Karena sebentar lagi perpisahan sekolah, Nia pengen ngadain from Night di hotel ini. Gimana? Keren kan? Tapi bisa bisa Nia di anggap pamer. Atau sombong karena tempat ini pasti tidak akan murah. Mereka fikir aku pasti yang enggak enggak. Iya kan hubby?"
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Zian, hanya terdengar dengkuran halus dengan kedua mata yang terpejam sempurna, Agnia menoleh kearahnya.
"Yeee ... gue ngomong panjang lebar, dia tidur. Terus buat apa dia nanya begitu tadi. Ngeselin."