Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 262


__ADS_3

Motor yang dia pesan melalui aplikasi ojek online itu melaju dengan kencang menuju kantor Maheswara. Corp. Jalanan yang ramai dengan banyaknya kendaraan berlalu lalang karena bertepatan dengan jam sibuk. Beruntung dirinya menggunakan ojek yang memudahkannya menyelip diantara padatnya kendaraan.


Tidak berselang lama, dia sudah sampai di perusahaan bidang perhotelan milik suaminya itu. Setelah membayar Agnia bergegas masuk.


"Mbak ... Pak Ziandra ada diruangannya?" tanya Agnia pada seorang karyawan yang duduk di meja resepsionis.


Wanita itu menatap Agnia, lalu tersenyum tipis. "Maaf tolong isi buku tamu ini? Dan beliau sedang rapat, kalau mau silahkan tunggu saja di lobby, nanti saya info kembali jika beliau sudah selesai rapat."


Agnia mengisi namanya di buku tamu yang dia sodorkan, "Tidak usah ... aku tunggu diruangannya saja!" ujar Agnia dengan menyimpan kembali bolpoin yang dia gunakan, lalu berjalan mengarah pada pintu lift khusus.


Wanita itu membaca namanya, lalu bergegas mengejarnya, menarik lengannya yang hendak masuk kedalam lift hingga kembali menghadapnya.


"Maaf ... anda tidak diperkenankan untuk masuk, apalagi melalui lift ini. Karena ini lift khusus staff penting." ujarnya menjelaskan dengan tangannya masih memegang lengan Agnia.


"Sama saja, aku juga staff penting." jawab Agnia menatap tajam ke arahnya dengan kekesalan yang bertambah dua kali lipat.


"Oh ya! Aku tidak melihat namamu di jajaran staff penting, jadi tolong kerja samanya."


"Apa Mbak baru bekerja di perusahaan ini?"


"Itu tidak penting, saya tidak perlu menjawabnya." tukasnya lagi dengan sorot mata yang sama tajamnya.


Gue lagi kesel dan dibikin tambah kesel sama nih orang, dia gak tahu gue siapa. Batin Agnia yang tiba tiba jiwa kepemilikannya keluar, terlebih dirinya saat ini tengah kesal pada Zian.


Seorang karyawan wanita lainnya menghampiri mereka, dia terlihat berbisik dan mengangguk pada Agnia.


"Udah sana duduk! Biar aku yang handle."


Wanita itu menatap ke arah Agnia, lalu pergi begitu saja. Agnia mengikuti gerak tubuhnya yang kembali terduduk di meja kerja miliknya.


"Maaf mbak Nia ... teman saya itu karyawan baru, jadi dia belum tahu banyak." ucapnya dengan menekan tombol naik di pintu lift.


Agnia mengangguk, lantas dia masuk kedalam lift yang terbuka itu tanpa mengatakan apa apa. Sedangkan wanita dihadapannya tersenyum lalu menganggukan kepalanya lagi.

__ADS_1


Pintu lift tertutup, dan Agnia pun bisa bernafas lega. Entah apa yang terjadi jika wanita yang satunya lagi tidak datang.


"Kalau dia gak dateng, gue udah marah kayaknya, gak tahu siapa gue? Gue istri yang punya gedung ini." Gerutu Agnia dengan merapikan rambutnya kembali. "Lah gue sombong kan jadinya!"


Pintu lift terbuka, Agnia segera keluar dan mengayunkan kedua kakinya menuju ruangan Zian.


"Daddy?" gumamnya saat melihat ayahnya berdiri di depan ruangan Zian.


"Daddy?" serunya mempercepat langkah kakinya.


Dave menolehkan kepalanya ke belakang, lalu tersenyum sumringah. "My sweetheart?"


Agnia memeluknya, begitu pun dengan Dave yang mengeratkan pelukannya.


"Daddy kemana aja? Gak kasih kabar apa apa ke Nia! Gak nepatin janji tahu gak!"


"Daddy ada di kantor sayang! Kerja ... Zian tahu kok!"


"Iya tahunya kan semalem, kemaren Nia ke apartemen, Daddy gak ada."


Pelukan mengurai, Agnia melihat wajah sang Ayah dengan seksama.


"Jangan bilang Daddy sibuk dengan hal yang gak bener?"


"Sweetheart ... mana ada yang begitu! Daddy benar benar bekerja, Nia tahu kan Daddy sedsng merintis usaha baru Daddy."


Agnia tersenyum, "Oke ... Nia percaya! Tapi tetep aja ... Daddy jahat. Gak ngabarin Nia."


"Maaf sayang."


"Terus Daddy ngapain di sini? Kenapa gak masuk? Daddy mau ketemu Om Zian kan?"


"Sudah jadi suami masih dipanggil Om!" Dave mencuil hidung putrinya dengan gemas.

__ADS_1


"Sesuka hati Nia itu Dad!" kekehnya dengan melingkari pinggang ayahnya.


"Zian masih rapat, dia yang suruh Daddy kemari."


"Oh ya! Buat apa?"


"Belum tahu sayang! Nanti Daddy tanya ya. Nia sendiri kenapa sendirian berkeliaran disini."


Agnia duduk di kursi yang terdapat di satu sisi samping ruangan Zian, diikuti oleh Dave.


"Dia lagi Demam! Jadi Nia nyusulin kesini. Disuruh istirahat dirumah aja gak mau ... malah pergi! Kan ngeselin banget." Ucapnya dengan terus menggerutu.


Dave menatap putrinya itu lalu terkekeh, "Daddy masih tidak percaya, putri Daddy ini sudah dewasa dan jadi seorang istri."


"Iihhh ... Daddy!"


Tidak lama beberapa orang pria berjalan dari arah samping dan melewati mereka berdua, salah satunya diantara mereka Zian yang tengah berjalan dengan wajah datar, dan langsung melihat keduanya.


"Baby? Dave?"


Beberapa pria yang mengikutinya pun ikut berhenti.


"Baik Pak Zian, kalau begitu kami permisi, dan akan segera memberikan memberikan informasi lebih lanjut lagi pada anda." ujarnya dengan mengulurkan tangan.


"Ok terima kasih!" Zian menjabat tangan rekannya itu. Sampai ke empat pria itu kembali berjalan. Zian masih melihat punggungnya.


"Baby? Aku menyuruhmu istirahat dirumah saja! Kenapa kemari? Hem ..." tanyanya dengan mencubit pelan pipi Agnia.


"Aku juga nyuruh Om istirahat di rumah aja ... kenapa ngeyel masuk kerja?" Agnia tidak mau kalah dan justru membalikkan kata kata Zian.


"Kau lihat putrimu Dave?"


.

__ADS_1


.


Hai readers ... jangan lupa like dan komennya yaa... makasih buat dukungan kalian terdabeest.. lope lope badag.


__ADS_2