
Agnia menyalakan shower, namun gadis itu hanya terdiam di dalam kamar mandi dengan memandangi wajahnya di pantulan kaca.
"Gimana kalau dia minta sekarang? Apa yang harus gue lakuin? Aaahh ... " Agnia mengacak rambutnya, terus berbicara dengan pantulan dirinya sendiri di cermin, "Gak ... gak mau jangan sekarang, gue belum siap!" gumamnya lagi dengan menggelengkan kepalanya, "Tapi kan sekarang gue istrinya, jadi siap gak siap gue harus siap."
Agnia terus bermonolog dengan diri sendiri, bertanya lalu menjawabnya sendiri, sementara shower masih menyala. Kucuran air yang bahkan dia abaikan begitu saja. Tak lama dia mematikannya lagi, lalu menyembulkan kepalanya ke luar, mencari sosok pria yang kini tiba tiba jadi suaminya.
Zian tidak ada di dalam ruangan, saat Agnia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Hingga dia keluar dengan pakaian ganti tersampir di bahunya. Ya jangankan untuk mandi, selama 30 menit tadi dia hanya diam, dan berargumen dengan dirinya sendiri.
Setelah memastikan Zian tidak ada di kamar, dia langsung mengunci pintu, duduk di tepi ranjang lalu kembali mengacak rambutnya.
"Gue kenapa sih? Kayak orang bego!" rutuknya pada diri sendiri.
"Oke Nia ... lo harus tenang, dunia gak akan kiamat hanya karena lo ngelakuin hal itu sekarang, bahkan Ceceilia juga Nita udah gak aneh dengan hal begituan, hari gini lo khawatir tentang hal itu!" ujarnya lagi menenangkan dirinya sendiri.
Bicara Cecilia dan Nita, dalam sekejap dia pun teringat dengan mereka, Agnia mencari tasnya, dimana ponselnya berada, dia mengernyit saat melihat koper kecil bergambar sailor moon miliknya teronggok di sudut ruangan, tasnya juga ada disana.
"Koper gue?"
Agnia membuka koper miliknya, didalamnya berisi pakaian dalam, seragam sekolah dan juga barang barang pribadi miliknya. "Sial ... mommy dan Daddy pasti yang nyiapin ini semua! Mereka semua emang bersekongkol!"
Tak lama dia kembali menutup kopernya, lalu mengambil ponsel miliknya. Dia mengetikkan sesuatu ke nomor Cecilia.
Handle pintu bergerak naik turun, disertai ketukan pelan.
"Nia ... apa kau belum selesai?"
Gadis itu sontak kaget, dia bahkan hampir melemparkan ponselnya begitu saja.
"Nia ... buka pintunya!"
"Ya tunggu sebentar." sahutnya dengan salah tingkah.
"Kenapa lama sekali? Aku sudah mengetuk pintu sedari tadi Nia." ucap Zian saat Agnia membuka pintu, pria itu langsung masuk, namun Agnia terpaku ditempatnya berdiri.
__ADS_1
Menatap Zian yang hanya mengenakan celana pendek dan bertelanjang dada, hingga terlihat jelas otot otot di lengan dan juga bahunya, otot perut yang terlihat seperti jejeran roti sobek pun membuat Agnia menelan saliva.
Sial ... sore sore gue lihat yang beginian!
Zian mengambil kaos pendek berwarna putih lalu mengenakannya dihadapannya, membalut tubuhnya dengan pas dan sangat cocok.
"Astaga Nia! Kau belum mandi?"
Agnia mengerjapkan kedua matanya, lalu menggeleng pelan disertai deretan gigi putihnya.
Zian berdecak, "Astaga ... lalu selama ini kau melakukan apa?"
Agnia kembali menggelengkan kepalanya, Zian menyermprotkan farpum miliknya keseluruh tubuhnya, wangi maskulin menenangkan membuat Agnia kelimpungan, wangi kenyamanan dan kemesraan saat berdua terlintas di dalam benaknya,
Zian melangkah mendekatinya, membuat detakan jantung Agnia semakin besar, "Oh aku tahu ... kau ingin aku memandikanmu? Iya begitu?"
"Dasar ... mesum!" Agnia Kembali masuk kedalam kamar mandi, kali ini dia benar benar mandi, menguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin, berharap fikiran fikiran kotor diotaknya ikut bersama air yang mengalir.
Zian melihat ponsel Agnia tergeletak begitu saja diatas ranjang, kemudian dia duduk ditepi ranjang dengan menatap pintu kamar mandi, dan diam diam penasaran dengan ponsel gadisnya itu.
Ponsel tidak terkunci, hingga dia dengan mudah bisa membuka dan memeriksanya, tersenyum saat melihat wallpaper wajah Agnia yang cantik, lalu membuka galeri foto, semakin tersenyum saat semakin banyak melihat foto cantik dirinya.
Ting
Suara pesan singkat masuk, dia bisa melihat pesan yang di kirim oleh Cecilia membukanya lalu membacanya.
'Ce ... gue mau tanya? Sesakit apa saat Lo ngelakuin make love sama Daddy Lo?'
'Hah ... serius lo tanya gituan sama gue Nia??'
'Nia ...??'
'Eeh Nih bocah! Jangan jangan lo????'
__ADS_1
'Niaaaaaa???'
Zian membaca chat gadis yang kini jadi istrinya dengan Cecilia, dia ingin tertawa terbahak, namun hanya bisa ditahannya karena takut ketahuan oleh Agnia.
"Nia ... Nia ....!" gumamnya dengan menggelengkan kepalanya.
Agnia keluar dari kamar mandi, dan mendapati Zian tengah memegang ponsel miliknya, dia langsung merebutnya lalu menyembunyikannya di belakang punggungnya.
"Ngapain sih! Ini kan ponsel Nia."
Zian bangkit dari duduknya, dengan kedua tangan berada di belakang dan di condongkannya ke depan. Kedua matanya menatap sang istri dengan lekat, tak lupa dengan senyuman melengkung dibibirnya.
"Aku tidak sengaja membuka pesan temanmu! Apa kau benar benar ingin tahu rasanya? Kenapa tidak bertanya padaku?"
Kedua mata Agnia membulat sempurna, dengan wajah yang memerah lalu sekuat tenaga memukul bahu Zian, "Iiihhhh ... gak sopan!!"
Zian tak kuasa menahan tawanya kali ini, dia benar benar tergelak hingga ujung matanya terasa sedikit basah.
"Nia ... maafkan aku! Tapi kamu benar benar lucu, jadi tingkah anehmu hari ini karena khawatir akan hal itu?"
Agnia mengerjapkan kedua matanya, dia menepis tangan Zian yang hendak memegang bahunya. "Iih nyebelin banget!"
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan melakukannya pelan pelan, bahkan sangat pelan, tapi kali ini aku tidak akan membiarkan kau pergi sebelum menuntaskannya."
"Iih ... apaan sih!" Agnia kembali memukulnya, "Norak tahu! Om norak banget."
Zian tergelak kembali, selama ini gadis yang itu hanya bisa mengundang has ratnya, menggodanya sedemikian rupa lalu meninggalkannya, tapi kali ini justru dia melihat gadis yang khawatir dan malu malu.
"Ya anggap aku memang norak! Tapi hanya padamu Nia,"
Agnia kali ini terdiam, itu memang benar, bahkan dia bisa melihat sikapnya berbeda pada orang lain.
"Kau ingin mencoba nya sekarang?"
__ADS_1