
Cecilia dan Nita saling pandang, lalu menatap Agnia sesaat, "Nia jangan cari masalah! Nanti Daddy lo ngamuk!" bisik Nita lalu terkekeh.
Agnia menatap keduanya dengan dua sudut bibir yang terangkat, lalu menatap Regi yang menunggu jawaban.
"Ok Gi ... gue balik bareng lo ya!"
Kedua mata Cecilia melebar, begitu juga dengan Nita. "Lo emang gila Nia! Lo mancing huru-hara."
Agnia tergelak, lalu mengerdikk. "Gue cabut ya!"
Kedua nya menghela nafas, "Terserah lo deh, gue gak ikut-ikutan!"
"Apalagi gue! Kalau ditanya gue mau bilang gue gak kenal sama lo Nia!" tambah Nita.
Regi bersorak dalam hati, saat-saat inilah yang selalu ditunggunya, bisa berdekatan dengan Agnia.
Setelah pernyataan cintanya yang tidak mendapat jawaban apa-apa, Regi masih berharap jika Agnia memiliki perasaan yang sama, hanya karena dia tidak mau merusak hubungan pertemanannya, dia tidak mau memaksa Agnia.
"Ya udah ayo, tapi yakin gak nih Om lo gak bakal marah sama gue? Secara Om lo kayaknya benci banget kalau ada yang deketin lo."
Mereka pun keluar dari kafe, dan menuju parkiran dimana motor Regi terparkir.
Jelas aja dia bakal marah, dan gue pengen lihat gimana reaksinya pas lihat gue dianter Regi.
"Nih helmnya!"
"Thanks ... lo siap kan kalau misal Om gue marah sama lo?"
"Waduh, gue sih pengennya Om lo belum pulang ya, tapi kalau ketahuan ya mau gimana, gue harus tanggung jawab lah!"
Agnia terkekeh, "Emang lo ngapain gue?"
Keduanya tertawa, "Ya maksud gue kan gue yang mau nganterin lo, kalau gue dimarahin Om lo ya gue terima, syukur-syukur kalau gue bisa dapet restu dari dia buat lebih deket sama lo!"
Agnia terkekeh, apa jadinya jika keisengannya membuat masalah bagi Regi, tapi karena rasa penasaran akan reaksi Zian, dia pun mengabaikan rasa bersalah pada Regi.
"Kalau ada apa-apa, lo siap tanggung jawab ya!" Regi melipat tangan didepan dadanya.
Agnia tergelak, "Tanggung sendiri lah! Gue gak ikut campur!"
Regi tertawa, "Ya udah ayo, kita hadapi Om lo yang sok galak itu."
Agnia mengulum senyuman, "Sorry ya Gi!" gumamnya.
Regi melajukan motornya, dengan Agnia yang duduk di belakang yang mulai khawatir apa yang akan terjadi nanti. Apa Zian akan menghajar Regi, atau menghukum dirinya atau bahkan tidak tahu karena Zian ternyata belum pulang.
Regi semakin menarik gas kendaraan nya hingga melesat lebih cepat, tak lama kemudian mereka sampai di rumah Zian.
"Ini rumah Om lo?"
Agnia turun dari motor seraya mengangguk, "Lo mending langsung balik deh, mungpung Om gue gak ada!"
__ADS_1
Tiba-tiba saja Agnia berubah pikiran dan nyalinya mengerjai Zian menciut, namun tidak dengan Regi, pria remaja itu tidak ingin gentar hanya karena Zian.
Keduanya mengobrol di kursi yang ada di samping taman, walaupun Agnia takut-takut dengan melirik kedalam.
"Kayaknya Om lo belum pulang Nia!"
"Huum ... kayaknya dia sibuk!"
"Lo rencana kuliah dimana nanti Nia?"
"Gue sih pengennya ambil jurusan hukum! atau bisnis sesuai permintaan bokap! Lo sendiri?"
Tak lama kemudian, mobil Zian yang dikemudikan sekretarisnya itu tiba, Zian menatap keduanya dibalik jendela mobil, membuat Kim menggelengkan kepalanya.
"Bos ...!"
Namun Zian malah menarik sudut bibirnya ke atas, dengan sorot mata tajam ke arahnya. Setelah mesin kendaraannya mati, Zian turun disusul oleh sekretarisnya.
Senyuman layaknya iblis terpangpang nyata, lalu menghampiri mereka,
"Nia ... kamu baru pulang?"
"Iya ...!"
Regi mengulurkan tangan ke arahnya, guna menyalami Zian, namun Zian tampak mengacuhkannya.
"Kau yang tempo hari menyatakan cinta padanya?"
"Maaf ... tapi kau sepertinya akan kecewa dan patah hati!"
Agnia terhenyak dengan tangan menarik lengan Zian, "Apa Hem?"
Mati gue ... gue yang mau ngerjain dia! Tapi malah gue yang kaget kalau Zian mengatakan pada Regi hal yang sebenarnya.
"Sekarang pulanglah! Bukankah kau harus rajin belajar agar bisa lulus sekolah? Terima kasih sudah mengantarkan Nia pulang."
Regi mengangguk, namun dia tidak mengerti apa yang dikatakan Zian mengenai Agnia. Tak lama Regi pun pamit keluar dan pergi.
Zian mendengus dengan menatap Agnia lalu masuk kedalam rumah.
"Masuklah! Ini sudah malam." ujar Kim.
Setelah itu dia masuk kedalam mobil dan meninggalkan rumah Zian setelah memastikan Zian masuk kedalam rumah.
"Mati gue!" gumam Agnia.
Tak lama Agnia masuk kedalam rumah, dan tersentak ketika melihat Zian yang bersandar pada tembok dengan dasi yang sudah dia longgarkan,
"Apa kau sengaja membawanya kemari Hem?" ujarnya dengan berjalan mendekat, hingga jarak mereka sangat dekat.
Agnia tidak menjawab, dia hanya menatap Zian yang terlihat biasa saja. Dengan sekali gerakan Zian menarik pinggang Agnia.
__ADS_1
"Kalau kau hanya ingin melihatku cemburu, kau salah Nia! aku tahu kau tidak punya perasaan padanya, hingga kau berani membawa dia."
Agnia mengernyit, "Kenapa?"
"Bodoh!" Zian melepaskan tangan dari pinggangnya, lalu dia duduk di sofa.
Membuat Agnia mendekatinya, "Bukankah Om bilang Om cinta sama Nia? Dan cinta itu harusnya cemburu bukan?"
Zian tergelak, "Kemarilah...!"
Agnia berjalan beberapa langkah, dan menghadap ke arah Zian, pria itu dengan sengaja kembali menarik pinggang Agnia hingga dia terduduk dipahanya.
"Orang yang berkhianat itu akan sembunyi-sembunyi! Tidak sepertimu yang secara terang- terangan membawanya kemari. Kau faham?"
Agnia menelan ludahnya sendiri, bukannya berhasil mengerjainya malah sekarang dia berada di atas paha Zian, sesuatu menggeliat dibawah pantatnya membuat Agnia kaget sendiri.
"Yah ... aku salah dong ya! Harusnya aku tidak membawanya kemari."
"Nakal ...!" Zian mengeratkan satu tangan yang memegang pinggangnya itu hingga dia tidak bisa lepas.
Pergerakan Agnia membuat celana panjang yang dikenakannya terasa sesak sendiri, dan Agnia mendapatkan kembali ide cemerlang untuk mengerjainya lagi.
"Kau lupa aku ini pernah di khianati,"
Agnia bergerak perlahan, "Ya... iya 2 tahun! Aku sudah tahu!"
"Lalu kenapa kau masih berani main-main seperti itu?"
"Memangnya kenapa?" Agnia mengalungkan kedua tangan dilehernya.
Telunjuk Zian menyentak dagu Agnia hingga menghadap kearahnya, "Kau ingin aku bersaing dengan bocah ingusan itu? Aku jelas jauh diatas dia dari segi manapun, kalau aku mau aku bisa menghajarnya dengan mudah!"
"Hem ... kau benar tuan kaya raya!"
Zian tergelak, menutupi has ratnya yang kembali menyeruak dengan tingkah Agnia.
"Dan kau harus tanggung jawab sekarang?"
"Tanggung jawab apa? Nia gak ngelakuin apa-apa!"
"Sudah tidak usah banyak bergerak!"
Agnia tertawa, membuat Zian semakin menariknya hingga dada Nia menempel di tubuhnya.
"Kau membangunkannya lagi!"
.
.
...Agnia mulai nakal yaa ... Udah tahu Zian kebelet, masih aja di isengin....
__ADS_1