Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 30


__ADS_3

"Nia ... apa yang terjadi?"


"Om Zian?"


Zian yang tanpa sengaja mendengar kata-kata yang di lontarkan para siswa mengurungkan niatnya untuk pergi setelah Agnia masuk kedalam gerbang, dia memutuskan untuk menunggu, ditambah terlihat dari tempatnya segerombolan siswa yang berkumpul dengan mata yang mengarah pada Agnia yang berjalan memperkuat keinginannya untuk menunggu, dan benar saja Agnia berlari keluar setelah terlihat berdebat dengan beberapa siswa.


Agnia yang semakin menangis berlari ke dalam pelukan Zian, dia menangis sejadinya.


"Hey ... apa yang terjadi? Apa mereka mengataimu lagi?"


Agnia tidak menjawab, dia malah memukul Zian berulang kali. "Ini semua gara-gara lo juga! Semua salah lo ... Gue benci!!"


Zian tidak sedikitpun melawan, dia membiarkan Agnia melampiaskan amarahnya, lalu membawanya masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari sana.


Agnia terus menangis, hingga terisak. Membuat Zian kebingungan bagaimana cara membuatnya berhenti menangis. Akhirnya Zian menghentikan mobilnya disebuah kafe, namun Agnia malah semakin kencang menangis.


"Gak diajak ke sini juga! Gue pake seragam sekolah, terus gimana tanggapan orang-orang didalam? Lihat gue yang datang sama lo." ujarnya dengan terisak.


"Saat nangis juga masih mikirin tanggapan orang lain!" gumam Zian.


Akhirnya dia memutuskan untuk kembali melajukan mobilmiliknya dan mengarah ke sebuah hotel.


"Heh ... ini malah lebih parah, ngapain ngajak gue ke hotel?"


"Memangnya di hotel kenapa? Hotel juga ada resto nya, ditambah ada banyak jenis ruangan, Vip ... Vvip, bukan melulu soal kamar! Ballroom, juga ada, dan yang eks--"


"Udah- udah terserah, gue gak nanya macam-macam nama ruangan di sini!" ujarnya sambik terisak kembali.


Akhirnya Zian harus menunggu agar Agnia benar-benar tenang dengan sendirinya, dia tidak bisa menenangkan gadis kecil itu seperti dia menenangkan Dita, karena Zian tidak mungkin memeluk dan menciuminya hingga dia tenang, seperti yang sering dia lakukan.


Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Agnia berhenti menangis, walaupun masih terdengar tersedu-sedu.


"Sudah tenang?" tanya Zian.


Agnia mengangguk, dia masih mengelap wajahnya yang basah karena sisa-sisa air mata yang bercampur keringat.


"Gue mau pulang!"


"Tidak sebelum kamu menceritakan apa yang terjadi tadi!" jawab Zian dengan serius.


"Gue gak mau jawab, dan harusnya Om sudah tahu sebabnya!"


"Aku gak tahu Nia ... aku bukan peramal!"

__ADS_1


Agnia mendelik, "Dasar bodoh!" gumamnya pelan.


"Mereka sengaja menyebarkan foto gue saat masuk kedalam mobil dan keluar mobil yang sama,"


Zian mengernyit,


"Mobil ini! Dan mereka semkin yakin kalau gue cewe gak bener! Sugar Baby ... gitu lah pokoknya." ujarnya dengan kembali tersedu.


"Lantas?"


"Lantas apanya?"


"Lantas kenapa kamu bisa seperti ini jika berita itu tidak benar?"


Agnia membelalakan matanya, "Lo fikir ... hellow, jelas lah gue gak terima karena itu gue sesedih ini, mereka seenaknya saja nilai gue seburuk itu!"


"Kalau tidak benar? Jangan nangis ... cari pelaku yang menyebarkannya, dan buktikan!"


Agnia kembali menoleh, melihat ke arah Zian yang kini menganggukkan kepalanya.


"Aku akan membantu mu!"


"Tidak usah ... gue bisa sendiri!" ucap Agnia menyandarkan punggungnya disandaran kursi jok.


"Menyewa pala lo! Bikin gue makin pusing!" ujarnya dengan menggerutu.


"Lebih baik kita makan dulu, kamu pasti laper! Setelah menangis hampir 1 jam."


Gue emang laper, tapi gue juga malu, orang-orang pasti mengira gue peliharan om-om genit ini. batin Agnia.


"Gue gak mau!"


"Ayo Nia ... kamu bisa sakit nanti! Kalau sakit, siapa yang akan melawan mereka yang mencibirmu? Hem...."


"Dirayu gitu! Emangnya gue anak kecil?" gumamnya pelan.


"Ayo ... atau mau aku gendong?"


Agnia mendengus, "Gendong ... gendong, pala lo gendong!" ujarnya dengan membuka pintu mobil dan keluar.


Setelah melihat Agnia keluar, Zian pun menyusulnya keluar, dan melepaskan kemeja nya lalu dia berikan pada Agnia, "Pakai ini!"


Agnia hanya menatap kemeja yang berada ditangan Zian, "Tidak perlu!"

__ADS_1


"Agar kamu tidak malu, kan masih pakai seragam sekolah!"


Benar juga sih, minimal mereka tidak melihat logo sekolah diseragam gue.


Agnia akhirnya menerima kemeja itu dan mengenakan kemeja tanpa mengeluarkan kata-kata sedikitpun.


Mereka pun masuk ke dalam hotel, seorang staff hotel menyambut Zian dan diikuti oleh beberapa pegawainya.


"Bos...."


Bos? Zian bos di hotel ini?


Zian mengangguk, lalu mengajak Agnia masuk kedalam satu ruangan Vip. Agnia hanya mengikutinya dari belakang,


"Kamu mau makan apa?"


Agnia mengerdikkan bahu, dan Zian hanya menghela nafas, dan memanggil staffnya untuk masuk.


"Berikan semua makanan yamg ada dibuku menu!"


Staff tersebut mengangguk lalu kembali keluar. Sementara Agnia susah tertidur disofa. Zian menggelengkan kepalanya, "Tidur di mana saja! Dasar gadis li--,"


Dia menjeda ucapannya, Dilihat dari kejadian sebelumnya, sepertinya dia benar-benar bukan seperti yang aku kira. Dan anehnya aku tetap tidak ingin dia berada jauh.


Dreet


Dreet


Ponsel Zian berdering, seketika wajahnya berseri saat melihat nama kontak yang meneleponnya, dia pun segera mengangkatnya.


"Honey ... how are you? Kenapa baru mengabariku?"


"Sorry baby, aku baru sempat memberimu kabar, soalnya kemarin itu aku sangat-sangat sibuk! Forgive me Baby."


"Hem ... apa tidak bisa meluangkan waktu untukku sedikit saja?"


"Sorry honey ... aku sibuk sekali, sekarang pun aku hanya diberikan waktu untuk break saja, dan aku pergunakan untuk menghubungimu." ujarnya lebih meyakinkan.


Zian mengehela nafas panjang, rasanya saat ini tidak seantusias biasanya,


"Baby ... aku harus pergi! Aku akan menghubungimu kembali. Bye baby."


Sambungan telepon kini berakhir, Zian kembali menghela nafas.

__ADS_1


"Membosankan!!"


__ADS_2