
"What?"
Kedua mata Zian melebar, saat orang yang dia suruh mengirimkan foto Dave yang tengah berada di sebuah kantor. Informasi yang dia dapat jika Dave sudah berhari hari tinggal di perusahaan yang dia rintis dari nol.
Apa yang kau lakukan Dave?
"Aku pergi dulu baby, ada sesuatu yang harus aku urus!" ujarnya dengan kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Aku ikut! Mau nyari Daddy kan?"
"Aku harus pastikan dulu baby! Kau tunggu saja di rumah bersama ibumu!" ujarnya melirik ke arah Laras. Dia tahu jika Agnia pasti tidak akan tinggal diam dan akan menyusulnya bagaimanapun caranya. Dia lantas berbalik ke arah pintu, tak lupa dia menyambar kunci mobil yang tadi dia letakkan di atas nakas,
Agnia beranjak, namun tangannya di tahan oleh Laras yang menggelengkan kepalanya.
"Tunggulah disini sayang." Ujarnya seolah faham arti tatapan dari pria yang menjadi menantunya.
Zian masuk kedalam mobil, dia langsung menancapkan pedal gas hingga kendaraannya melaju dengan cepat, membelah jalanan menuju gedung perkantoran milik Dave.
Tak butuh waktu lama, Zian sudah sampai di gedung perkantoran yang sebagian besarnya masih dalam pembangunan itu.
Disana sudah berdiri seseorang yang telah memberikan informasi penting itu padanya, seseorang yang menemukan Dave dengan cepat namun tidak pernah menemukan Kim.
"Carl? Kau yakin itu Dave?"
"Zian ... Kau seperti baru saja mengenalku? Meragukan kemampuan luar biasaku." ujarnya yang ikut berjalan mengikuti Zian.
"Tapi kau tidak pernah bisa menemukan Kim! Payah ...."
"Hei ... itu pengecualian! Kim lebih pintar dari yang kau fikir Zian, kau tahu itu!"
"Ya ... dia bahkan menghilang tanpa jejak! Aku bahkan tidak tahu apa alasan dia pergi!"
Tanpa diduga Carl justru tertawa membahana, hingga Zian harus memukul bahunya agar dia menghentikan tawanya.
"Brengsekk kau ingin ketahuan?"
"Sorry Zian, tapi aku perlu mengatakannya karena kau tidak faham! Apa kau tidak pernah sadar, jika wanita itu mahluk bumi yang sangat rapuh? Mereka akan pergi jika hatinya begitu terluka."
"Kau bicara seolah kau merasa paling benar Carl!"
"Aku benar Zian, aku ini pecinta wanita ... makanya aku menyayangi semua wanita! Terlebih wanita cantik."
__ADS_1
Zian mendengus, "Kau menyakiti istri dan anakmu! Dengan siapa wanita yang tempo hari kau bawa ke acara? Kau brengsekk Carl."
Carl tertawa kembali, "Kau sudah berubah sekarang! Dan itu karena gadis yang kau akui sebagai istrimu bukan? Sampai Irene marah marah seperti orang gila setelah kau pergi."
Mereka berjalan masuk kedalam lift. Namun, karena lift tidak berfungsi mereka kembali berjalan ke arah tangga darurat. Dan tetap mengobrol seiring kaki mereka yang terus melangkah.
"Kita sedang membicarakan Kim dan juga Dave! Tidak ada hubungannya dengan Istriku Carl!"
"Apa yang Kim katakan sebelum dia menghilang?" Tanyanya dengan nafas yang mulai terengah engah.
"Tidak ada! Dia hanya merapikan dasi dan bicara tidak penting!"
"Tentang?"
"Seperti dia tidak akan bisa lagi merapikan dasiku Carl, atau dia tidak akan bisa bebas keluar masuk kedalam rumah ku seperti biasa. Dia juga akan berhenti memikirkanku dan segala kebutuhanku." terang Zian. Baginya semua itu tidaklah memiliki arti yang mendalam. Karena menurutnya, itu semua hanya berkaitan dengan tugas Kim saja.
"Berarti kau yang payah! Tidakkah kau merasa jika Kim mempunyai perasaan yang lebih untukmu Dave?" ujar Carl dengan nafas yang semakin berat. Dadanya turun naik dengan nafas yang semakin pendek.
"Maksudmu? Dia sudah seperti saudara bagiku!"
"Zian ... ku rasa Kim memiliki perasaan yang lebih dari sekedar perasaan saudara! Menurutku berdasarkan apa yang kau ceritakan. Dan mungkin dia pergi karena hatinya terluka," Ujar Carl dengan tangan berada di pinggangnya, langkahnya terhenti di ulir tangga dengan tulisan tangga ke tiga.
"Aku hanya olah raga di ranjang Zian! Dan itu sama saja dengan kita berlari selama 30 menit." timpalnya dengan terkekeh.
"Terserah kau saja!"
Mereka kembali berjalan naik agar sampai di lantai lima, lantai dimana Carl mencurigai Dave tengah berada disana selama berhari hari, Carl seorang pembisnis namun dia punya keahlian dibidang lain yang tidak banyak diketahui orang lain.
"Apa kita akan mendobraknya?" tanya Carl pada Zian saat mereka sampai di lantai tiga, didepannya kini ada dua pintu berwarna coklat yang saling berhadapan.
"Dobrak saja Carl!"
Namun saat Carl tengah bersiap siap untuk mendobraknya, pintu berwarna coklat itu telah lebih dulu terbuka, Dave berdiri dengan rambut acak acakan dan juga berwajah bantal.
"Kau?"
"Dave! Kau?"
Ketiganya saling terdiam, hingga Dave akhirnya berdecak, "Ada apa?"
"Ada apa? Kau membuat putrimu khawatir dan kau hanya bilang ada apa? Dasar brengsekk!" Zian merangsek masuk kedalam ruangan.
__ADS_1
Kedua matanya menyisir ke seluruh ruangan kerja yang tampak sederhana dengan dinding berwarna putih dan ornamen berwarna abu.
Carl menyodorkan tangannya pada Dave, dengan tersenyum datar.
"Dave! apa kabar?"
"Carl! Kau ternyata lebih sopan dari pada menantuku itu!" ujarnya dengan menjabat tangan Carl.
Carl membola, mendengar ucapan Dave yang mengatakan jika Zian adalah menantunya.
"Kau bilang dia menantumu?"
Dave kembali masuk, diikuti oleh Carl. "Kau tidak tahu Carl? Oh ... aku lupa kau tidak tinggal dikota ini! Benar, dia ... pria itu menantu ku sekarang!"
Carl benar benar tidak percaya, Zian menjadi menantu Dave yang dia tahu anaknya masih kecil dan itu anak laki laki.
"Aku tidak tahu kau punya anak gadis!"
"Carl, kita disini bukan untuk wawancara!" sentak Zian yang mengingatkan tujuan utamanya datang ke kantor Dave.
Dave mendengus, "Itulah sifat menantuku Carl! Dia bahkan tidak menanyakan kabar ayah mertuanya."
"Berhentilah omong kosong Dave! Kau tahu aku kemari kan? Kau tidak ada di apartemen selama berhari hari dan kau ternyata sembunyi di sini?"
"Hei Zian ... aku tidak bersembunyi! Aku ini sedang kerja."
"Kerja macam apa Dave? Kau bahkan tidur di sini?" ujarnya menendang sleepingbag yang sudah tergelar di lantai.
"Kau tidak akan tahu Zian! Aku ini sedang berjuang dengan perusahaanku ini! Dari pada aku harus pulang pergi, lebih baik aku tinggal di sini! Aku juga tidak bisa pergi kemana mana, aku tidak memberi tahu putriku karena dia pasti sedang ujian."
Alasan Dave mungkin masuk akal jika mengungat Agnia tengah ujian kemarin, tapi Zian masih penasaran apa Dave tahu soal Kim.
"Kau tidak pergi dengan Kim?"
Dave terdiam, dia lantas duduk di sofa, sedangkan Carl yang bahkan tidak mengerti hanya berdiri dengan mendengarkan keduanya.
"Aku tidak pergi dengannya Zian! Kalau pun aku sudah menawarkan diri padanya agar aku bisa menemaninya. Tapi sampai saat ini dia tidak memberi kabar."
Carl ikut duduk dihadapan Zian, sementara Zian masih berdiri dengan berkacak pinggang.
"Berarti kau tahu dia pergi?"
__ADS_1