Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 111


__ADS_3

Bi Nur terhenyak, saat sekretaris Kim hendak melihat ponsel miliknya, bagaimana tidak, selama ini dia menyembunyikan satu buah rahasia dimana kedua orang penting dirumah ini mencarinya. Walaupun diponsel itu nyatanya tidak ada apa-apa.


Tangan sekretaris Kim mengenadah, "Bi?"


"Eeuh ... baik! Silahkan sekretaris Kim."


"Sekretaris Kim pun membuka ponsel milik Bi Nur, tidak sopan memang, namun tidak ada yang tidak bisa dia lakukan sebagai sekretaris dari seorang Zian, hanya mencari Agnia yang tidak bisa dia temukan saat ini.


"Apa ini Aya?" ujarnya dengan mendaratkan bokongnya di sofa.


"Iya sekretaris Kim!"


"Sudah besar ya!" Bi Nur hanya mengangguk.


"Kenapa bi Nur tidak pernah mengajaknya kemari!" tanyanya lagi.


"Aku titip di tetangga sekretaris Kim."


"Ooh ... kenapa tidak kau bawa kemari saja! Dia pasti senang." ucapnya dengan terus menggulir foto digaleri ponsel.


Bi Nur tersenyum, "Takut membuat tuan Zian terganggu."


"Kau benar juga! Baiklah ... terima kasih ya! Aku hanya penasaran melihat wallpaper wajah Aya yang Gembil!"


Kim menyerahkan kembali ponsel milik Bi Nur lantas dia kembali masuk kedalam ruang kerja Zian.


Bi Nur menghela nafas, dia takut ada sesuatu yang berkaitan dengan Agnia diponselnya, walupun nyatanya Agnia tidak pernah meminjam ponselnya untuk berswafoto sekalipun.


.


.


Sementara itu, setelah sesuai dengan perkataannya sendiri, Aya merengek ingin jalan-jalan. Dia yang sering kali tinggal ibunya bekerja dan dititipkan tetangganya mulai mencari perhatian pada Agnia yang selama ini dekat dengannya.


"Tadi kan Aya udah bilang, kalau sudah mandi, Aya mau jalan-jalan!" rengeknya saat dia memakai baju.


"Emangnya Aya mau jalan-jalan kemana sih? Kak Nia banyak urusan nih!"


"Urusan apa? Paling Kak Nia mau pacaran."


"Iiihh ... bocah! Pacar-pacaran terus! Gak boleh sembarangan ngomong." ujarnya dengan menggelitik pinggangnya.


"Iihhh ... kak Nia!! Geli....!" rungutnya.


"Ya udah, sini Kak Nia bantu pakai baju!"


"Gak mau! Aya udah bisa sendiri!" jawabnya dengan ketus.

__ADS_1


Agnia mengacak rambutnya, "Aya pinter! Ya udah nanti kita jalan-jalan, tapi setelah kak Nia selesaikan pekerjaan dulu yaa."


"Yeeeeeaaahhh ...!"


Mereka berdua akhirnya pergi ke Mall, jaraknya yang lumayan jauh pun mereka tempuh dengan 2 kali menaiki bis dengan jurusan yang berbeda.


"Kak Nia tahu tempatnya dimana?" ujar Aya dengan polosnya.


"Tau dong Aya ... kalau gak tahu mana mungkin kak Nia berani naik bis ngajak Aya."


"Eeeh ... iya juga! Tapi nanti kak Nia pulang kerumah Aya kan?"


"Iya Aya ... memangnya kak Nia mau pulang kemana?"


"Kemana memangnya? Aya kan gak tahu!"


"Ya udah Aya diem aja!" sungut Agnia yang mulai kesal karena pertanyaan gadis kecil itu tidak ada habisnya.


"Kak Nia, nanti Aya mau naik tangga yang bisa maju ya!"


Agnia menoleh pada penumpang yang lain yang mulai tertarik pada pembicaraan polos Aya, dia pun mengulum senyuman, "Tangga yang bisa maju?"


"Iya yang ke atas itu lo ... tapi ada juga yang turun ke bawah. Kata temen Aya, kalau naik itu jangan pake sandal, nanti kejepit." ujarnya dengan menatap sandal yang dipakainya.


Ya ampun, kasian banget Aya.


"Temen Aya tuh salah, bisa kok pake sandal juga ... yang penting hati hati dan tangga yang bisa maju itu namanya eskalator."


"Eskalator Aya....!"


"Ooh Eskalator, kalau tangga yang bisa turun apa namanya?"


Agnia mencubit pipinya gemas, "Ya sama tangga naik dan tangga turun namanya eskalator."


"Ooohh!!!" ucap Aya beroh ria dengan bibir yang maju beberapa Senti.


Setelah hampir 30 menit mereka pun sampai ditujuan, Aya berjingkrak kesenangan karena keinginannya terpenuhi oleh Agnia. Dia berlari masuk hingga Agnia harus mengejarnya.


"Aya gak boleh lari-lari, nanti ilang!"


Anak kecil itu mengernyit, "Kalau masuk mall kita bisa ilang?"


"Bukan ilang begitu aja, tapi terpisah, Aya mau terpisah nanti sama kak Nia?"


Aya masih mengernyit tidak mengerti, "Pokoknya harus selalu pegang tangan seperti ini, gak usah buru-buru mall nya juga gak bakal tutup! Ngerti kan?"


Aya mengangguk begitu saja, dengan kedua manik yang sudah menyisir kemana-mana.

__ADS_1


Mereka pun masuk, dengan mata berbinar gadis kecil itu tampak bahagia dengan terus melompat-lompat, dan kedua tangannya pun menarik Agnia agar berjalan lebih cepat lagi.


"Nah itu kak Nia ... itu skaltor!" teriaknya membuat beberapa pengunjung melihat kearah mereka.


Agnia tertawa, "Eskalator Aya!"


Mereka pun naik eskalator dengan Aya yang terlihat girang sekali. "Terima kasih kak Nia!" Ujarnya dengan kepala yang mengenadah ke arah Agnia.


"Sama-sama! Kita lihat kesana yuk!" tunjuknya ke toko sepatu.


"Sepatu? Kak Nia mau beli sepatu ya?"


"Bukan kak Nia! Tapi buat Aya!" ujarnya dengan masuk kedalam toko.


Mereka mulai mencari-cari sepatu yang cocok untuk Aya yang tentu saja tidak mau diam itu, dia berkeliling ke segala arah dengan wajah senang, membuat Agnia tidak tega melarangnya, karena tahu gadis kecil itu tidak pernah dibawa ke mall apalagi berbelanja.


"Kak Nia beneran mau beliin Aya sepatu?" Agnia mengangguk. "Terima kasih kak Nia!" ujarnya lagi dengan mengecup pipi Agnia.


Cara bikin anak-anak bahagia itu sebenarnya sederhana, tapi kenapa kedua orang tua gue gak pernah bisa ngelakuin hal sederhana buat bikin gue bahagia, gue gak minta apa-apa, gue hanya ingin waktu mereka ada buat gue. batin Agnia dengan Helaan nafas berat.


Setelah melakukan transaksi pembayaran, Aya menyambar paperbag berisi sepatu dari tangan Agnia.


"Aya mau pake langsung boleh kan kak Nia?"


"Boleh dong!"


Agnia pun menggantikan sendal Aya dengan sepatu yang baru dibelinya, membuat Aya kembali berjingkrak jingkrak kegirangan, dengan terus memeluk Agnia dan ucapan terima kasih yang tak berhenti terucap dari mulut kecilnya.


"Aya mau beli es krim gak?"


"Mau ... mau!"


"Tapi Aya tunggu dikursi ini, jangan kemana-mana!"


Aya mengangguk saat Agnia memperingatkannya, Agnia pun berjalan hanya beberapa langkah hingga ke stand eskrim dan memilih, berkali-kali dia menolehkan kepalanya kearah belakang dan melihat Aya yang tengah melihat sepertinya dengan kaki yang menggantung dikursi.


Agnia tersenyum melihatnya lalu membayar pesananya.


"Aya eskrim kita!" ujarnya saat berbalik, dan terdiam untuk sesaat saat bocah kecil itu sudah tidak ada ditempat dalam hitungan detik saja.


"Aya ...!!" Agnia berlari mengejar Aya yang tengah berlari-lari.


"Aya astaga ... jangan bikin kak Nia panik! Kak Nia kan udah bilang, jangan kemana-mana!" gumamnya dengan terus menyisir seluruh lantai 2 itu.


Agnia kehilangan jejak Aya, dia terus mencari kemana Aya berlari, namun karena terlalu ramai, dia kesulitan mencarinya.


"Aya ... kamu kemana sih!"

__ADS_1


Es krim yang dia pegang pun terlanjur lumer dan dia menyimpannya begitu saja saat melihat meja, dan kembali mencari gadis kecil nakal itu.


"Mati gue!"


__ADS_2