Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 311


__ADS_3

Dokter Siska memeriksa Agnia sesaat setelah Agnia mengalami sesak nafas, padahal sejak tadi dia terlihat baik baik saja bahkan menikmati pesta resepsi dengan bahagia.


"Ayo cepat kita ke rumah sakit!"


Zian tampak khawatir, dia tidak melepaskan tangannya pada Agnia, juga menyuruh asistennya mengosongkan area agar udara disekitarnya tetap terjaga.


"Tenanglah Zian, istrimu tidak apa apa."


Semua orang yang di perintahkan Zian ketar ketir, baru kali ini dia kembali meradang lagi setelah sekian lama. Raut wajah kesalnya tidak bisa disembunyikan lagi saat Dokter Siska yang juga turun jadi tamu undangan justru terlihat santai.


"Tenanglah Tuan Zian, sesak nafas pada ibu hamil di trimester ke tiga memang normal terjadi, itu karena bayi semakin tumbuh sehat dan mendorong rahim." ucapnya dengan memeriksa Agnia, namun tidak ada hal hal yang harus di khawatirkan, dia kembali duduk dan menenangkan Zian. "Istrimu tidak apa apa."


"Kita kerumah sakit saja! Kau hanya memegangnya tanpa alat, bagaimana tahu jika dia baik baik saja, kau tidak lihat nafasnya saja tersengal sengal begitu! Aku tidak mau mengambil resiko. Kita pergi sekarang!" Zian berdiri denga berkacak pinggang, menatap ke arah asistennya. "Siapkan mobil!" teriaknya.


Untuk jadi dokyer obgyn aku harus sekolah kedokteran empat tahun, lanjut koas satu tahun belum intership satu tahun dan mengambil spesialis obgyn tiga tahun, dan hanya dia yang meragukan kemampuanku. Dokter Siska membatin, namun dia juga tidak bisa menolak begitu saja saat suami pasien memilih membawa istrinya ke rumah sakit.


Tamu undangan sudah keluar, begitu juga dengan teman temannya, menyisakan dokter Siska, Laras, dan dokter Irsan sementara Carl keluar untuk mengosongkan jalan.


Tak butuh waktu lama, Zian segera menggendong Agnia dan membawanya ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Carl. Sementara Laras memilih mengendarai mobilnya dengan tenang.


"Zian khawatir sekali, padahal dokter mengatakan itu hal normal?" ujarnya pada Siska yang kini duduk di sampingnya.


"Benar sekali nyonya Laras, tapi tampaknya Zian ingin lebih memastikan lagi."


Laras menghela nafas, "Pria itu benar benar kacau! Justru kekhawatiran yang berlebihan itu bisa membuat putriku stress!"


Dokter Siska mengulum senyuman, dia juga sudah menghubungi suster yang sedang berjaga dirumah sakit untuk menyiapkan tempat pemeriksaan dan juga alat alatnya.


Tak lama mereka tiba di rumah sakit, karena dokter Siska sebelumnya sudah mengkonfirmasi kedatangannya, petugaspun berjaga di ruang IGD dengan blankar yang siap. Zian memindahkan Agnia dan mereka segera membawanya masuk, bukan ke IGD, melainkan ke ruangan dokter Siska langsung.


"Zian tenanglah! Istrimu baik baik saja!" Irsan menepuk pundaknya berulang kali, mencoba membantu Zian yang tengah mengatur nafas itu tenang.


"Apa kau bisa tenang saat istri dan anakmu dalam ke adaan terancam?" Sentaknya lalu beranjak masuk, dia segera menyusul dokter Siska.


***


Agnia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dia benar benar malu saat ini, dress pengantin nya saja masih menempel, dan dia baik baik saja.


"Bagaimana ke adaanmu?" Ujar Zian yang masuk kedalam ruangan setelah hampir setengah jam Dokter tidak memperbolehkannya masuk. "Aku tidak di izinkan masuk karena kau melarangnya baby?"

__ADS_1


"Iya ... Habisnya, kau terlalu khawatir. Aku sudah bilang gak apa apa, dokter juga udah jelasin ini gak apa apa. Malah dibawa ke rumah sakit! Gak sekalian aja suruh melahirkan sekarang." jawabnya ketus, dia benar benar kerepotan saat Zian terlalu khawatir padanya. "Nia malu tahu,"


Dokter Siska menunggu foto USG keluar, dia juga tersenyum saat mendengarnya.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Zian padanya.


"Gimana apanya orang gak apa apa! Dari tadi Nia sama dokter Siska hanya mengobrol. Kau saja terlalu khawatir."


"Bagaimana aku tidak khawatir baby, kau bahkan susah bernafas, setidaknya dengan dibawa ke rumah sakit. Aku lega."


"Ya ... Ya, terserah kau saja kalau begitu!"


Laras pun masuk, dia sama sama menahan tawa melihat Zian yang begitu khawatir berlebihan, dia duduk di kursi di depan Agnia.


"Sayang, kau lebih baik sekarang?"


Agnia mengangguk, "Nia mau pulang."


Tak lama Carl masuk, dia membawa sekantung camilan dan juga roti untuk Agnia. "Ibu hamil harus banyak makan, biar kuat menghadapi suaminya yang extra panik."


Laras menoleh, begitu juga dengan Carl. Keduanya tampak mengernyit dan mulai mengingat ngingat.


"Kau? Hai ... Apa kita pernah bertemu, aku merasa tidak asing denganmu." ucap Carl, tak lama dia pun mengulas senyuman, "Aha ... Aku tahu, apa kau ingat aku nyonya?"


"Kau montir bengkel itu kan?"


Carl menjentikkan jari ke arahnya, "Benar sekali! Long time no see yaa." kekehnya.


Agnia dan Zian menatap keduanya bergantian, rencana Zian mengenalkan mereka juga sudah terlupakan, tapi ternyata mereka sudah saling mengenal.


"Momy kenal Om Carl?"


"Dia---!" Laras mencoba mengingatnya lagi dengan jelas, menatap ke arah Carl.


"Montir bengkel yang menipumu?" jawab Carl lebih dulu dengan terkekeh, tak lama dia mengayunkan tangan ke arahnya. "Sudah aku bilang aku pasti menemukanmu."


Laras mengernyit, dia baru saja sadar pria yang dia anggap montir itu ternyata bukan montir.


"Jadi Momy yang udah nuduh om Carl menipu pas om Carl bantuin mobil Momy yang mogok?"

__ADS_1


"Sayang, siapa yang tidak beranggapan seperti itu jika dia datang di saat aku memang sedsng menunggu montir."


Agnia mengulas senyuman, dan Zian memalingkan wajah Agnia menjadi ke arahnya. "Istirahat!" gumamnya tanpa suara. Lalu dia bangkit dari duduknya dan mendorong kedua orang yang tengah mengobrol itu keluar dari ruangan.


"Kalau kalian kemari hanya membicarakan hal itu, kalian bisa keluar! Biarkan Istriku istirahat."


Carl dan Laras yang di dorong keluar pun menghela nafas, Zian benar benar tega jika berkaitan dengan anak dan istrinya.


"Hubby! Kenapa suruh mereka keluar!"


"Kau harus istirahat baby! Dokter Siska?"


"Ya?"


"Karena kita sudah kemari, kau lakukan pemeriksaan menyeluruh saja." tukasnya tanpa ingin berfikir dua kali.


"Sayang untuk apa? Aku baik baik aja."


"Kalau untuk itu, hanya dokter Sam yang bisa, dia sudah sangat ahli." terang dokter Siska, jujur saja yang dia khawatirkan bukan kandungan Agnia belaka, tapi kekhawatiran Zian.


"Oke! Panggil saja dia! Aku ingin memastikan semuanya bagus."


Sementara di luar Carl beberapa kali berdehem karena Laras hanya duduk mengotak ngatik ponsel ditangannya, dia terlihat tidak tertarik berbicara apapun dengannya.


"Apa kau tidak merasa cuaca hari ini benar benar panas?"


Laras menoleh, "Tidak! Biasa saja."


"Ah sayang sekali, padahal aku berharap kau kepanasan jadi aku memiliki alasan mengajakmu minum kopi bersama." Carl kecewa, memukul udara didepannya.


"Kau apa?"


"Tidak. Aku rasa hanya aku yang kepanasan sendiri di sini."


"Oh!!"


.


...Nih othor kasih 3 chapter buat kalian terlope lope yang masih gak bosen sampe 3 ratusan ini. Makasih all....

__ADS_1


...Wah gaswat kalau nia ketemu dokter Sam, Ayo lah Nia kabur aja yukk, si om bener bener berlebihan orang gak apa apa juga. Nah itu lagi Carl modus, ketemu buaya betina ya ambyar lo Carl. Nyesel nanti lo Carl. Wkwk...


__ADS_2