
Zian terkekeh melihat sang istri yang masih terbakar cemburu mengulangi perkataan Irene dengan genit, bibirnya terus mencebik justru membuatnya semakin menggemaskan.
"Baby ... you ok?"
"Baby ... you ok?" cibirnya mengulangi perkataan Zian, "Zian apa kau mau menerima tawaranku ini? Tubuhku seksi, kau tidak tertarik? Aku bisa membuatmu melayang! Yakin tidak tertarik?"
Pria berusia 34 tahun itu tergelak, terus menatap Agnia yang bicara seolah dia adalah Irene. "Hey ... Irene tidak mengatakan hal itu! Kau mengada ngada, itu tidak baik baby!"
"Terus saja belaain dia!"
"Aku tidak---"
"Ucapannya memang gak gitu! Tapi kau harus lihat cara dia menatap dan gerakan tubuhnya yang bicara begitu." terang Agnia dengan melepaskan high hills yang dia pakai.
"Benarkah? Aku tidak tahu tubuhnya bicara seperti itu." Zian melonggarkan sedikit dasi yamg melilit lehernya, dengan bibir yang masih terkulum serta terus memperhatikan Agnia yang mendumel.
"Om gak tahu aja! Para wanita kan begitu!" terangnya dengan jelas, terlihat sekali jika dia tengah cemburu sampai dia lupa Zian lebih sangat mengenal macam wanita termasuk wanita yang menggodanya. Namun Zian hanya diam karena kemarahan gadisnya kecilnya itu begitu menggemaskan.
"Iya kan?"
"Kau juga begitu baby?"
"Tidak!"
"Benar tidak begitu?"
"Iya ... kau tidak tahu saja! Mereka yang suka godain juga kayak gitu awalnya! Cecil sama Nita juga kayak gitu pasti sama Daddy mereka!"
"Kalau kau sendiri bagaimana?" ucapnya dengan mencondongkan tubuh ke arahnya, "Kau begitu juga?"
Agnia mendengus, seraya menajamkan kedua mata ke arahnya, sementara Zian terus terkekeh, alih alih membujuknya untuk tidak lagi kesal dan juga marah. Dia justru sengaja menggoda Agnia.
"Baiklah iya ... iya Baby! Irene memang begitu! Dan kamu tidak begitu kan!"
__ADS_1
Namun jawaban Zian yang mengiyakan ucapannya justru menyulut kemarahan Agnia semakin jelas.
"Tuh ... Om sengaja kan, pura pura gak tahu kalau dia emang godain Om! Dasar gak tahu malu, udah jelas jelas penggoda masih aja di bela." sungut Agnia dengan memukul lengan Zian.
"Baby ...! Itu kan ucapanmu, aku hanya mengiyakan ucapanmu saja sayang! Udah ya jangan marah marah lagi! Lagi pula aku sudah katakan tidak usah pergi ke sana kalau akhirnya kamu sendiri yang marah marah. Nanti Irene justru yang tertawa." Zian mendudukkan dirimya ditepi ranjang, sementara Agnia mencebil lalu menghentakkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.
Dua manik hitam pria itu hanya mengikuti langkah sang istri yang masuk kedalam kamar mandi dengan terus menggerutu dan menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
"Dia yang berinisiatif ingin kesana, tapi dia juga yang marah marah, mana ada aku tergoda pada Irene disaat aku punya segalanya darimu, dasar bocah!" gumam Zian dengan menggelengkan kepalanya.
Sementara Agnia di dalam kamar mandi masih belum puas menggerutu, bahkan dia terus mengulangi apa yang dikatakan oleh Irene, dan terus menyalahkan Zian yang menggagalkan rencananya, padahal dia sangat ingin memberi pelajaran pada wanita yang terang terangan menggoda suaminya itu.
"Liat aja nanti! Gue gak bakal biarin dia kalau macem macem, lagian mau aja sih! Udah tau dia penggoda!" gerutunya lagi, padahal jelas jelas dia mendengar semua apa yang dikatakan oleh Irene begitu juga jawaban Zian yang menolaknya. Namun hatinya benar benar merasa cemburu, bak anak kecil yang bersikap posesif dan tidak ingin barang miliknya disentuh orang lain.
Tak lama Agnia keluar dari kamar mandi, dengan hanya memakai handuk yang dia lilitkan dari bagian dada, hingga mengekspos bahu putih juga paha mulus miliknya, dengan handuk kecil yang menggulung rambutnya yang basah.
Zian terlihat tengah mengotak atik ponsel dengan duduk di sofapun terkejut dengan kedua mata yang hampir membulat sempurna.
"Baby!! Tidak usah keluar bisa kan? Kau ingin semua orang di real estate ini melihatmu?"
Agnia mrngerdikkan bahu, suaranya ketus dengan bibir yang di cebik. "Enggak lah siapa yang mau?"
"Oh aku tau sengaja memancingku. Iya kan baby?"
"Benarkah? Kalau begitu kau tergoda? Hem...?" tanyanya dengan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Zian yang mengikutinya di belakang, dia kembali berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian, membuat punggungnya terlihat jelas oleh Zian, pria itu terpaku, dia merasa sesuatu mulai menggeliat di bawah sana, dan has ratnya kembali menyeruak.
"Tentu saja!" lirih Zian.
Gadis itu melepaskan handuk yang membungkus rambutnya, lalu dia menyisirnya perlahan. Zian berinisiatif untuk mengambil hair drayer dan membantu Agnia mengeringkan rambutnya. Gadis itu tidak menolak, dia bahkan duduk di atas meja rias dan menatap Zian dari pantulan cermin.
"Kenapa mandi tidak mengajakku?"
Agnia berdecak, dia memakai pelembab untuk wajahnya sementara Zian terus mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
"Kau masih marah padaku baby?"
Agnia menoleh, dia lantas berdiri menghadap ke arahnya, berjalan perlahan dengan terus menatap Zian.
"Om masih ingin tergoda oleh Irene?" tanyanya dengan datar.
"Tentu saja tidak baby! Aku sudah memilikimu, untuk apa lagi aku mencari yang lain,"
"Benarkah?"
"Kau saja yang berfikir aku tergoda oleh Irene, kau yang mengambil kesimpulan sendiri dan marah sendiri dari tadi." Ujar Zian dengan menelan ludah saat Agnia terus berjalan mendekat.
Tiba tiba gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher Zian, perlahan lahan dia membuka satu persatu kancing pada kemeja Zian. "Awas saja kalau kau masih berfikir bisa seperti dulu."
Zian menatap lekat wajah Agnia yang tampak cantik alami yang hanya memakai pelembab saja, bibir merah delimanya pun berwarna alami tanpa polesan.
"Mana mungkin baby! Aku sudah berubah!" jawab Zian dengan mengerjapkan kedua matanya saat Agnia menyentuh dada bidang miliknya, kemeja telah terlucuti begitu saja, dia hanya bisa diam memperhatikan setiap gerakan lambat kedua tangan Agnia yang saat ini tengah berada di pinggangnya.
Tatapan mereka beradu satu sama lain, dengan dengan tangan Agnia yang mulai membuka ikat pinggang milik Zian. Menurunkan resleting celananya bahkan membuka kancing celananya.
"Hanya dirimu baby! Sudah ku katakan berapa kali, bahkan ribuan kali aku hanya mencintaimu, membutuhkanmu ... hanya dirimu!"
Agnia mengulum senyum, dia menyusuri dada Zian yang kian mendesir hebat,
"Baby!"
"Hm ...!"
Agnia menurunkan celana Zian hingga pangkal paha, lalu dia kembali melingkarkan kedua tangan pada lehernya, lagi lagi Zian harus menelan saliva. Entah apa yang merasuki istrinya itu hingga dia semakin berani menggodanya.
Zian tak ingin membuang waktu, dengan lembut menyambar bibir Agnia, namun dengan cepat pula Agnia memundurkan wajahnya hingga Zian tertegun, Agnia menggelengkan kepalanya, lantas mendorong tubuh Zian hingga terjerembab diatas ranjang.
"Let me start!"
__ADS_1