
Hari yang telah ditunggu pun tiba, perlombaan basket yang di adakan oleh SMA Harapan Bangsa telah berakhir, dengan juara tetap tim basket tuan rumah sendiri. Regi pun sudah menghubungi tempo hari, begitu juga Cecilia yang menunggu. Dan hari ini Agnia bersiap siap kesana.
Zian baru saja kembali dari jogging paginya, dan berpapasan dengannya di anak tangga.
"Kamu jadi pergi?"
Agnia mengangguk, "Jangan melarangku Zian!"
"Tidak, asal kamu tidak mencari masalah! Dan bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan nama saja!" ucapnya dengan meringis.
Agnia mendengus, "Maaf Om!"
"Makanlah duluan!" ujarnya kembali berjalan dn menghilang di balik pintu kamar. Sedangkan Agnia menatapnya dengan heran.
"Dia sudah tidak marah lagi!"
Agnia telah selesai sarapan, begitu pula Zian yang tidak kunjung turun, berapa kali gadis itu melirik kamarnya, namun Zian tidak keluar juga.
Pelayan rumah baru saja datang, dia tergopoh-gopoh masuk, "Maaf Non, bibi terlambat! Dari malam anak bibi sakit!"
"Gak apa-apa bi, terus sekarang gimana keadaannya?"
"Sudah mendingan Non! Makanya Bibi bisa kemari."
"Syukurlah! Anak bibi laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan Non! Baru berumur 5 tahun."
Agnia menganggukkan kepalanya, "Kapan-kapan bawa kemari ya Bi, biar Nia ada temen disini!"
"Iya Non, kalau begitu bibi kebelakang dulu!"
"Eeh ... bibi! Nia boleh minta tolong, Om Zian belum turun juga! Tolong sampaikan padanya, Nia pergi dulu!"
Bibi itu melirik jam dinding, "Belum turun!"
Agnia mengangguk, "Iya bi, padahal tadi biasanya selesai lari pagi, Om Zian langsung sarapan!"
"Apa jangan-jangan tuan sakit!"
Agnia mengernyit, "Sakit? Perasaan dia baik-baik saja!"
"Tuan punya asam lambung Non, apa semalam tidak makan?"
Agnia teringat, sejak pergi sampai pulang dari acara di hotel, Zian memang tidak makan sama sekali, dia sibuk membawakan makanan untuknya, dan hanya memperhatikannya.
"Kalau begitu bibi lihat dulu Tuan ke kamarnya!"
Agnia dengan cepat bangkit dari kursi, "Biar Nia saja Bi!"
"Iya Non, bibi siapkan sarapan tuan, nanti bibi antar ke kamarnya."
"Iya bi, terima kasih."
Agnia kembali naik ke lantai 2, dan berjalan ke arah kamar Zian, sebelum mengetuknya, dia menarik nafas perlahan.
Tok
__ADS_1
Tok
"Om ... ini Nia!"
Tidak ada jawaban dari dalam, dia kembali mengetuknya. Namun pintu malah terbuka, Nia memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
"Om...!"
Dia menyisir ruangan, namun Zian tidak ada di dalam kamar, bahkan ranjangnya pun sudah rapi. Kamar bernuansa putih dan abu, tidak banyak ornamen di dalamnya, hanya beberapa foto Zian dan.
"Huh ... Dita lagi, fotonya ada dimana-mana!" gumamnya.
"Om ...!"
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Zian keluar dengan keringat dingin mengucur di dahinya, dan dia kaget melihat Agnia yang tengah menatapnya juga.
"Nia? belum pergi?"
Agnia gelagapan sendiri, "Be-- belum Om, apa Om sakit?"
Zian berjalan ke arah ranjang, dan duduk ditepian ranjang, "Tidak ... aku hanya mengantuk! Apa bibi sudah datang?"
Agnia mengangguk, "Sudah, Om benaran gak sakit?"
"Iya ... aku tidak apa-apa! Kenapa? Kamu mulai khawatir?" ujarnya dengan tersenyum.
"Tidak ... kalau begitu Nia pergi ya Om!"
Zian mengangguk, "Kamu bisa bawa mobil? Bawa mobilku saja untuk pergi!"
"Nanti Iyan yang kemari."
"Baiklah kalau begitu!"
Agnia kembali keluar kamar, dan berpamitan, lalu keluar menggunakan mobil Zian untuk oergi ke sekolah. Semantara Zian membaringkan tubuhnya di ranjang setelah Agnia keluar.
Dia meraih ponselnya di atas nakas, dan menghubungi kekasihnya Dita.
Dering masih terdengar, namun sang empunya belum juga mengangkatnya, Zian semakin meringis, lambungnya kumat lagi.
'Halo Baby! Kenapa, rindu aku ya!'
'Aku sakit Honey, pulanglah! Aku merindukanmu sangat!'
'Maaf Baby, aku tidak bisa pulang, kontrak ku bagaimana?"
'Aku yang akan membayarkan finalty nya, pulanglah!'
Hening
'Ganti rugi nya besar baby, sayang uangnya!'
'Apa kamu lebih sayang uang dari pada aku Honey?'
'Bukan begitu baby!'
__ADS_1
Kau memberikan segalanya untuknya, terus apa dia juga begitu?
Musik All of Me itu bercerita tentang seorang pria yang memberikan semua pada wanita nya, begitu juga sang wanita, mereka saling take and give, bukan hanya memberi terus atau menerima terus!"
Ucapan Agnia semalam melintas, dan tentu saja menohoknya lagi. Persis dengan apa yang dia lakukan, cinta yang teramat besar yang dia berikan, namun juga tidak mendapat apa- apa darinya, bahkan sekedar perhatian saja tidak.
'Baby ... please mengerti! Kita akan menikah bukan setelah kontrak ini selesai! Jadi aku mohon, baby mengerti!'
'Aku selalu mengerti!'
Zian menutup sambungan teleponnya, dia kembali meringis karena kesakitan, bahkan mulai merasa sesak nafas.
Sementara Agnia telah sampai disekolah, hampir semua pandangan mata tertuju padanya dan juga mobil BMW seri 3 milik Zian.
Agnia keluar dengan senyum yang mengembang. Menghirup udara sekolah yang penuh euforia tersendiri baginya.
'Dih, gak tahu mau amat! Dia dateng ke sini saat di skors,'
'Baru 3 hari diskors, dia dah bawa mobil hasil nge-lon tee yaa! Bayangin kalau dah seminggu.'
'Dih ... generasi rusak akhlak!'
'Mit amit!'
'Udah rusak mentalnya, jadi lon tee, fitnah sahabatnya sendiri, komplit banget gak sih woy bejadd nya kayak apa!'
Hari ini Agnia mengabaikan celotehan teman-temannya, dia tidak ingin ter-distrac fikiran meraka yang tidak benar itu.
Sesorang berjalan ke arahnya, dengan gaya yang mirip dengannya, rambutnya, bahkan gaya berjalannya,
"Berani banget sih lo kemari, udah makin tebal tuh muka!"
Agnia berseringai, "Apakabar lo Vin, gimana rasanya jadi gue? Enak yaa ... punya banyak temen baik, otak cerdas, supel lagi! untung banyak lo Vin!"
"Siapa yang jadi lo! Gue Vina!"
"Ya lo Vina, yang iri sama gue! Pengen jadi kayak gue, sampai lo ngelakuin hal yang hina,"
Vina mendorong bahunya, "Jangan ngomong hal yang gak bener, gak bakal ada yang percaya sama lo!"
Agnia kembali berseringai, "Kasian amat sih lo Vin, segitu pengennya lo di pandang semua orang! Gue sih gak perlu orang percaya sama gue! Apalagi orang-orang munafik kayak lo lo pada."
Semua orang melihat ke arah meraka, dan hampir membuat kegaduhan, Adam yang baru saja keluar dari ruangan osis melihatnya dan langsung menghampiri nya,
"Nia ... lebih baik lo menjauh, jangan cari gara-gara lagi! Inget lo lagi di skors!"
Agnia menoleh ke arah Adam, "Lo fikir gue peduli omongan lo!"
"Agnia!!" Serly berlari menghampirinya, "Nia Adam bener, ayo lebih baik lo pergi! Atau hukuman lo nanti bertambah."
Agnia menatap nanar orang yang dia anggap paling mengerti dirinya itu, matanya mulai menghangat. Jangan nangis Nia.
Serly tak kalah sedih juga, dia menatap sahabatnya itu dengan tatapan sulit diartikan.
Nia ... maafin gue
"See ... semua orang gak mau lihat lo disini! Jadi lebih baik lo pergi dan gak usah pamer hasil nge-lon- tee lo itu!" seru Vina dengan tangan yang melipat di dadanya, lalu diikuti gelak teman-temannya, salah satunya teman Vina yang membantunya malam itu.
__ADS_1
Regi datang tepat waktu, dia membunyikan klakson motornya dengan keras, membelah kerumunan orang-orang yang mulai berkerumun. Dia turun dari motor dan menghampiri mereka.
"Gimana sih lo ketua Osis!!"