Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 57


__ADS_3

Agnia menyusut air mata dipelupuk matanya, "Kau benar-benar akan menyesal Zian!!"


Zian berdecih, "Aku tidak akan menyesal, semua yang aku katakan itu benar! Kau memang gadis liar yang tidak tahu terima kasih! Aku sudah salah menilaimu, dan berharap kau bisa berubah saat disampingku! Bodohnya aku."


"Sekarang kau boleh pergi sesukamu!" ucapnya lagi, kali ini suaranya tidak lagi tinggi seperti sebelumnya.


Ujung matanya pun menganak, tidak dapat dipungkiri, hati nya terasa perih melihat Agnia yang bersimpuh, dan menatapnya dengan nanar.


Namun baginya, harga diri kekasihnya yang akan dijunjung ditempat paling tertinggi, bahkan diatas harga dirinya sendiri, betapa Zian percaya seratus persen padanya meski berkali-kali menekan egonya dan terus mengalah.


Dan tidak ada yang boleh mengatakan hal buruk sekalipun Agnia yang perlahan memasuki ruang di dalam hatinya.


"Bi ... Bibi!!" panggilnya dengan berteriak.


Pelayan paruh baya itu tergopoh-gopoh mendekati ke arah suara, meski sebelumnya, dia pun mendengar apa yang mereka ributkan.


"Bawa anak ini keluar dari rumah! Aku sudah tidak peduli lagi padanya."


Agnia bangkit, dan berdiri dengan berani, dan melemparkan tas yang berada di hadapannya, "Kau tidak berhak mengatakan apapun tentang hidupku tuan Zian yang terhormat, kau tidak berhak mengatakan hal itu padaku! Kau tidak tahu apa-apa, aku memang akan pergi! Dan aku pastikan kau yang akan menyesal nanti, kau akan minta maaf pada gadis tidak tahu diri ini! Penilaianmu selalu salah!" Ujar dengan suara yang bergetar.


"Salah? Benarkah ... aku tidak pernah salah menilai orang," Zian merogoh saku dalam jadinya lalu melemparkan beberapa lembar foto dirinya yang tengah berjalan masuk ke dalam hotel, dan beberapa saat sedang bersiap-siap di butik kecil bersama Cecilia.


"Tadinya aku akan berpura-pura tidak tahu, dan memaafkan semua tingkah laku mu Nia! Tapi kau yang memaksaku melakukannya!"


Agnia tersentak, darimana Zian tahu dia keluar malam tadi dan foto yang dia dapatkan, "Kau mengikutiku? Tanpa seijinku ...! Cih, orang yang harusnya kau ikuti adalah pacarmu sendiri Zian!"


Zian mengepalkan tangannya, takut jika emosinya semakin tidak terkontrol, "Kamu lebih buruk dari pads yang aku duga!" dia lantas memilih masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan keras, "Dia sudah keterlaluan, aku sudah muak padanya!" gumamnya pelan.


Agnia menyambar tas berisi pakaiannya dan keluar begitu saja, sementara bibi pelayan rumah mengikutinya dari belakang.


"Non ... non Nia! Tunggu Non...."


"Non mau pergi kemana?"


Agnia menghentikan langkahnya, "Kemana saja bi, asal gak disini!" ujarnya dengan menyulitkan mata ke arah dalam.

__ADS_1


"Non kembali pulang saja ke rumah Non! Bibi khawatir kalau Non terlantung-lantung begitu."


"Enggak lah bi, Nia masih punya tabungan, Nia akan cari tempat tinggal sementara ini. Bibi tidak usah khawatir." ujarnya dengan terus menyusut air yang turun dari matanya.


Agnia pun kembali berbalik setelah memeluk bibi pelayan rumah, "Jaga diri baik-baik ya Non! Tuan Zian memang begitu jika marah, dia tidak akan percaya kalau Non Dita itu sebenarny---a!"


"Sudah lah bi! Tidak perlu dibahas, semua juga sudah tahu, biarkan dia menyesal karena mengabaikan orang-orang mengenai kekasihnya itu."


Bibi itu mengangguk, "Hatinya sudah tertutup! Bibi harap Non bisa kembali kemari, jika. tuan kemarahan tuan sudah mereda"


Agnia hanya mengangguk, lalu kembali berbalik dan melangkah keluar, dengan berderai air mata, dia tidak masalah harus keluar dari rumah Zian, namun perkataan Zian menusuk macam belati, mengoyak lalu menaburinya dengan garam.


Sorot lampu mobil dari arah belakang, membuat Agnia menghentikan langkahnya, lalu berkedip sebanyak 3 kali itu dan berhenti disampingnya. "Masuklah!"


Agnia menoleh ke arah kaca mobil yang tampak terbuka, wanita yang sudah hampir 10 tahun bekerja dengan Zian itu membukakan pintu mobil, "Masuk Nia!"


Agnia menghela nafas, lalu masuk kedalam mobil. "Sekretaris Kim?"


"Aku baru saja mampir, dan bibi penjaga rumah bilang kau---"


"Lebih baik kau tinggal bersamaku saja! Bagaimana?"


Hening


Agnia tidak menjawabnya, dia hanya menatap lurus jalanan yang tengah dilewatinya. "Kenapa sekretaris Kim? Kenapa tidak kau katakan padanya juga, dan berikan bukti-bukti yang akurat mengenai Dita. Agar dia tidak bodoh seperti ini!"


"Kau tahu sendiri, bagaimana dia bukan?"


"Jadi kau akan tetap membiarkan dia bodoh seperti ini?"


"Kau tahu Nia, semenjak ada dirimu, dia sedikit bisa tenang karena Dita menghilang tanpa kabar! Tidak seperti sebelumnya!"


"Kalau aku jadi kau! Aku akan membongkar kebusukan Dita sampai Zian sadar kesalahannya!"


Sekretaris Kim memperlihatkan seutas senyum, " Kau memang pemberani Nia!"

__ADS_1


Agnia tersenyum kecut, "Turunkan aku disini saja!" ujarnya menunjuk pertigaan jalan.


"Kau mau kemana? Biar aku antar ...."


Agnia membuka pintu mobil, "Tidak usah ... terima kasih!!"


Agnia pun memilih turun dari mobil dan berjalan beberapa langkah kemudian menghilang masuk ke dalam taksi.


"Zian pasti akan menyesal." gumam Kim kembali melajukan mobilnya.


Sementara di satu tempat berbeda.


Seorang perempuan baru saja terbangun dari tidurnya, walaupun matahari sudah berada di pucuk kepala. Dia berjalan gontai menuju kamar mandi dan melakukan ritual rutinnya, seseorang masuk begitu saja ke dalam kamar mandi, menyusul perempuan yang tengah bertelanjang itu.


"Ah ... kau mengagetkanku!" ujarnya dengan mencipratkan air pada wajahnya.


"Aku merindukanmu sayang!" bisiknya dari telinga belakang, menjilat cuping telinga hingga terdengar desa han lembut sang wanita.


"Aku harus pergi ...! lirihnya dengan tubuh menggelinjang.


"Please Dita sekali saja! Aku benar-benar merindukanmu."


Dita berbalik, dan melingkarkan tangan dilehernya, "Aku juga merindukannya ... Zianku yang bodoh!"


Pria itu melepaskan tangan Dita dari kehernya, "Dia lagi-dia lagi ... tidakkah kau berhenti saja bermain-main dengannya? Kau bisa oergi denganku dan kita akan hidup bahagia?"


"Denganmu? Ooh ... belum bisa sayang, Zian itu tambang emasku, aku tidak mungkin meninggalkannya, sebelum mengeruk semua miliknya."


Pria itu membuka kemeja yang melekat di tubuhnya, "Lalu kenapa kau disini? Bukankah lebih baik kau cepat menikah dengannya agar semua mimpi mu terwujud? Hem...."


Dita membuka ikat pinggang yang membelit di celananya, "Waktuku bermain-main seperti ini tidak lama, aku ingin berpetualang sebelum akhirnya menjadi nyonya Ziandra Maheswara yang membosankan, dia selalu menuruti semua kemauanku tanpa bisa menolak. Sangat membosankan!!"


Pria itu merapatkan tubuhnya, dengan merengkuh pinggang Dita yang ramping, membuat wanita itu kembali menggelinjang saat tangan kekar menyentuh gundukan miliknya. "Aaah ... kau selalu tahu kelemahanku!"


"Itulah sebab nya, kau tidak akan pernah pergi dariku sayang, ada atau tanpa Zian!" ujarnya dengan mengangkat sebelah kaki Dita dan menghujamkan senjata miliknya masuk.

__ADS_1


"Kau memang bajingan!!!"


__ADS_2