
"Heh ... Lo masih aja nganggep dia temen Lo, males banget!" desis Cecilia yang memang tidak pernah suka pada Serly, terlebih setelah kejadian di kantin yang membuatnya harus di skors selama tiga hari dari sekolah.
Sebenarnya Agnia juga tidak bisa menganggap Serly seperti dulu saat mereka bersahabat, namun dia tidak ingin mencari masalah lagi.
"Nia ... dipanggil pak Sopian tuh!" ujar Serly.
Cecilia dan juga Nita menatapnya tajam, seakan waspada terhadap Serly yang selalu mencari gara-gara duluan.
"Ngapain ya, gue dipanggil!" tanyanya pada Serly, dia kemudian menatap Cecilia dan juga Nita.
"Jangan jangan lo ketahuan berduaan!" ucap Cecilia dengan gumaman pelan.
Agnia menyikut lengan Cecilia, "Sembarangan lo kalau ngomong!"
"Ya udah sih, lo kesana dulu biar tahu!"
Agnia lantas mengayunkan kakinya, dengan fikiran yang bertanya tanya, kenapa lagi pak Sopian harus memanggilnya, apa dia dan Zian ketahuan, atau ada yang melihatnya dan melaporkannya.
Setelah sampai diruangan pak Sopian, dia dihadang oleh Zian, pria itu menariknya lebih dulu.
"Apapun yang terjadi di dalam, jangan pernah membantah, oke!" ucapnya dengan tersenyum.
"Kenapa?"
"Kamu akan tahu saat berada di dalam. Sekarang masuklah, ingat jangan membuat keributan disekolah."
Agnia mengernyit, dia mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Zian, namun sampai pintu ruangan terbuka, dia tidak bisa memahaminya.
"Duduklah Nia!" Pak Sopian tengah menandatangani sebuah surat, saat Agnia mengangguk kecil lalu mendaratkan bokongnya di kursi dihadapan guru konseling itu.
"Ada apa pak? Perasaan aku tidak berbuat masalah, kenapa bapak doyan banget panggil aku ke ruangan ini?"
Pak Sopian terkekeh, dia menyingkirkan surat surat yang dia tanda tangani dari hadapannya, lalu menatap Agnia.
"Memangnya anak anak yang masuk ruangan ini harus bermasalah saja?"
__ADS_1
"Ya kali pak!" sahutnya dengan herdikan bahu.
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan di pintu, sering guru membuka pintu dan mempersilahkan seseorang masuk. Agnia membulatkan kedua matanya, dia sekarang paham apa yang dikatakan oleh Zian sebelum masuk tadi.
"Selamat datang tuan Arkhan?" sapa pak Sopian dengan berdiri menyambutnya.
Ternyata Arkhan tidak menyerah, setelah mencari tahu semua hal yang berkaitan dengan cucunya, dia menghubungi Sopian agar bisa menemui Agnia disekolah.
"Agnia ... kakekmu ini ingin bertemu denganmu!" ujarnya pada Agnia yang masih enggan beranjak dari kursi, kedua matanya mendelik ke arah sang kakek yang tersenyum padanya.
Senyuman palsu, dia pasti mengada ngada agar bisa kesini nemuin gue, heran. Pantas saja Zian mengatakan hal seperti tadi, dia sudah tahu kakek kemari.
"Agnia ... kemari sayang!"
"Kakek kenapa kesini? Oh Nia tahu, kakek lupa rumah Nia ya?" Sindirnya dengan berjalan mendekat, berpura pura tersenyum lalu memeluk sang kakek.
"Wah kakek sampai harus datang kesekolah hanya untuk tahu prestasi cucu kakek." ujar Nia tersenyum kecut.
Arkhan tergelak, "Benarkan Pak Sopian? Cucuku ini sangat pintar, dia pandai berargumen, dia pasti akan jadi pembisnis hebat seperti Daddy nya."
"Yang jelas pembisnis hebat kayak Mommy, kalau Daddy mah jangan ditanya, dia hebat karena Kakek, iya kan." terkekeh lagi, kali ini melingkarkan tangannya dilengan sang kakek.
"Anda sampai melakukan pencitraan kayak gini disekolah! Apa karena obsesi anda terlalu tinggi kakek?" gumam Agnia, yang langsung mendapat sorotan tajam dari Arkhan.
"Aku datang kemari karena jelas ingin melihat nilai mu, agar aku bisa mencari fakultas yang cocok untuk mu di Singapura Agnia."
Gadis berumur 17 tahun itu menutup mulutnya, "Ya ampun ... kakek sampai repot repot mencari fakultas untukku! Padahal aku tidak akan kuliah disana, kalau pun aku kesana, aku bisa mencari sendiri."
Mereka berbicara satu sama lain dengan saling bergumam, bahkan posisi Agnia membelakangi Pak Sopian, hingga pria itu tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
"Kalau gitu, kakek cari sendiri nilai nilai yang ingin kakek lihat, aku mau ke kelas lagi karena pelajaran akan dimulai! Boleh kan kek?" sinisnya dengan senyuman palsu.
__ADS_1
"Tentu sayang, biarkan kakek bicara pada pak Sopian, kamu bisa ke kelasmu!"
Agnia mengangguk, dia lantas pamit pada pak Sopian lalu keluar ruangannya dengan tersungut.
"Enak saja dia bicara! Sok so an jadi kakek yang baik hati nyariin fakultas buat gue! Siapa yang mau kesana." sungutnya sambil berjalan menuju kelas.
Tak lama dia masuk, menyambar tas sekolahnya lalu kembali ke luar dari kelas, membuat Serly mengernyit. Pun dengan Adam.
"Lo mau kemana Nia?" tanya Serly.
"Oh itu ... gue ada urusan, kakek gue jemput gue pulang. Lo nanti bilangin ke guru kimia ya!" ucapnya dengan bergegas keluar.
Adam mengejarnya keluar, "Nia ... lo gak bohong kan?"
"Duh lo ribet banget deh, gue mau bohong juga bukan urusan lo! Udah ah sana, kalau lo gak percaya lo lihat ke ruangan pak Sopian, disana ada kakek gue." sentaknya kemudian kembali berjalan.
Adam hanya menatap punggungnya, lalu menatap ruangan konseling walaupun dia tidak bisa melihat siapa yang berada diruangan itu.
Agnia turun melalui tangga yang berbeda, bukan melewati selasar gedung yang biasa dia lewati saat hendak pulang. Memilih jalan lain agar tidak terlihat.
"Gue harus pergi sebelum pria tua itu melakukan hal yang gue gak duga nanti." gumamnya mencari cara untuk keluar.
Tak lama dia menjentikkan ibu jari dan jari telunjuknya saat mendapat ide yang menurutnya cemerlang itu. Dia menuju parkiran sekolah, mencari dimana mobil Zian.
Agnia melepaskan pin sekolahnya, meluruskan jarum kecil itu hingga berbentuk lebih panjang.
"Semoga mobilnya gak ada alarmnya." gumamnya dengan mengotak ngatik jarum itu pada lubang kunci mobil milik Zian. Ketimbang dia harus menghubungi Zian, dia memilih melakukan hal itu, karena tidak mau membuat kecurigaan, Zian pasti akan segera menemuinya, bahkan bisa jadi meninggalkan kelas mengajarnya.
Klik.
Mobil Zian terbuka, seperti yang dia duga sebelumnya, mobil yang dikenakan Zian untuk datang ke sekolah bukan mobil mewah yang biasa dipakainya, bukan juga mobil matic dengan kunci otomatis yang akan membuat heboh siswa dan guru disekolah. Tapi mobil yang bisa dibilang mobil biasa.
Agnia masuk ke dalam mobil, bersembunyi dikursi belakang, dan menunggu Zian.
Gadis itu menelengkupkan tubuhnya, bersembunyi di balik jas milik Zian yang tergantung. Hampir setengah jam dia menunggu, hingga akhirnya seseorang masuk kedalam mobil dan mobil bergerak maju. Zian tidak menyadari jika Agnia bersembunyi dibelakang mobilnya. Bahkan dia tidak tahu jika pintu mobil belakangnya telah rusak, dia terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju kantor.
__ADS_1