Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 266


__ADS_3

"Astaga Agnia!" Zian meraup wajahnya, perlahan dia kembali memejamkan matanya dan kepalanya kembali dia sandarkan. "Kapan kamu akan menurut pada suamimu? Apa aku harus galak dan pemarah seperti dulu!" ungkapnya lagi.


"Kalau hubby juga nurut padaku! Istirahat jangan maksain diri kayak gini," jawab Agnia tidak mau kalah, kedua tangannya dia lipat didepan dadanya lalu membuang wajah ke arah luar.


Kepala Zian bergerak, perlahan tersandar di bahu Agnia, dengan helaan nafas panjang yang terasa sangat berat. "Aku akan menurut padamu baby!"


"Gitu dong! Itu baru suamiku, superman aja nurut kok sama pacarnya."


"Superman tidak punya pacar Baby!"


"Punya ...!"


Zian semakin menempelkan kepalanya, "Ya terserah baby saja! Asal tidak mengungkit Kim lagi, aku tidak bohong, dan benar benar baru tahu tentang hal itu. Dan kenapa tidak mengatakannya padamu, itu semata mata hanya tidak penting. Aku tidak ingin ada masalah diantara kita, seperti kau yang dibawa keliling dengan diboncengi Regi pada malam itu." ungkapnya dengan suara lirih.


Agnia membulatkan manik hitamnya, sedetik kemudian matanya terpejam. Zian mengetahui hal itu namun tidak bertanya apalagi marah padanya.


Pantes aja malam itu dia keliatan beda sekali, kayak nahan marah. Ternyata dia tahu gue dibonceng Regi.


"Aaa--aku...."


"Kau tahu baby! Cintaku padamu begitu besar, sampai membuat pemikiranku berubah, aku tidak akan percaya apa yang dikatakan orang lain sebelum mataku sendiri melihatnya, dan hanya padamu aku mampu menutup mata dan berpura pura tidak tahu. Aku ingin pungkiri walau aku melihatnya sendiri. Motor sport sialan itu milik Regi bukan? Selalu ada disekolahmu disaat jam kau pulang, beberapa kali aku melihatnya ditempat kita berada." Zian membuka matanya perlahan, lalu menghela nafas, "Anggaplah aku bodoh jika sudah mencintai seseorang! Tapi, aku tidak menyesal saat itu dirimu baby." ungkap Zian, tangannya terulur menggenggam jemari Agnia yang bahkan tidak bisa lagi berkata kata.


"Jadi jika yang kau masalahkan itu hanya perkara perasaan Kim padaku! Tidak usah khawatir, rasa kehilanganku akan dirimu jauh lebih besar dari perasaannya padaku. Posisi kalian berada ditempat berbeda. Kau paham Nia."


Kedua manik hitam Agnia berkaca kaca, perkataan Zian begitu dalam, dan langsung menusuk kedalam hatinya. Dia memang pemarah dan juga bisa kejam saat berhadapan dengan orang lain, tapi saat dengannya, dia berubah. Bahkan sangat berubah.


Agnia mengangguk pelan, dia merasa bersalah karena kejadian Regi, apalagi kegilaannya yang mencium Regi. Walaupun sebenarnya dia melakukannya tanpa sadar.


"Maafin Nia Hubby!" ucapnya dengan memeluk tubuh kekar yang tengah berkeringat dingin itu. Kedua matanya mulai mengabur. "Nia ... pernah ngelakuin kesalahan besar."


Zian menggelengkan kepalanya, sembari menarik tubuh tidak seberapa itu kedalam pelukannya, "Tidak usah dibahas lagi ya, kesalahan apapun yang kamu lakukan di masa lalu. Aku tidak ingin mendengarnya!"


"Ta---tapi kan!"


"Bisa kan kau nurut saja baby! Masa lalu ku tidak juga bagus!"


"Iya ... iya! Berarti udah maafin Nia kan!"

__ADS_1


Zian mengangguk dengan kepala yang bergerak menggusel di ceruk leher Agnia, bak seekor kucing yang jinak, menghirup dalam dalam wangi kulit putih sang istri.


"Iih ... Nia belum mandi tahu!"


"Tidak apa ... aku suka wangi kulitmu."


Agnia mengulas senyuman, dia semakin mengeratkan pelukannya pada pria yang berbeda usia setengahnya dari usianya itu.


Supir kantor itu mengulas senyuman, menatap keduanya dari pantulan spion.


"Pak supir ngeliatin kita!" bisik Agnia yang menatap tatapan supir dengan ujung matanya.


"Abaikan saja!"


"Tapi Nia gak mau pake supir dannpake mobil!"


Zian mengenadahkan kepalanya. "Baby!! Nurut saja! Aku tidak akan mengijinkanmu naik ojek online lagi. Apa perlu aku menutup perusahaannya dan membuat kacau aplikasinya agar kau menurut?"


Agnia memukul dadanya, "Iih ... jahat banget!"


Agnia kembali mengulas senyuman, dengan jemari yang memijat lembut kepala Zian, hingga keduanya hanya berpelukan tanpa ada lagi yang mengeluarkan kata kata.


Tak lama mobil berhenti, mereka tiba dirumah. Tampak Dave berdiri mematung didepan pintu masuk dengan berkacak pinggang, dia benar benar khawatir jika keduanya masih ribut, atau Zian melakukan sesuatu hal yang buruk pada putrinya.


Agnia membuka pintu, begitu juga Zian yang keluar dari pintu sebelahnya.


"Daddy?"


"You Ok sweetheart? Zian tidak melakukan hal kasar padamu kan?" tanyanya dengan memegang kedua bahu Agnia, lalu memutarkannya. Melihat apa ada sesuatu di tubuh putrinya.


"Kau gila Dave! Menuduhku yang tidak tidak!" Hardik Zian dengan menarik pergelangan tangan Agnia.


"Pulang sana! Untuk apa kau kemari!" ujar Zian membawa Agnia masuk kedalam rumah.


"Heh menantu kurang ajar! Kau berani mengusir mertuamu sendiri! Kau mau kualat!"


"Dad ...!" ujar Agnia memperingati Ayahnya agar tidak bicara sembarangan. "Hubby! Inget lagi pusing kepala kan! Jangan ribut terus." sambungnya lagi memperingati sang suami.

__ADS_1


Keduanya terus berjalan menuju tangga dan masuk kedalam kamar, sementara Dave hanya menatap punggung keduanya. Kekhawatirannya sedikit berkurang melihat senyum Agnia dan juga tatapan Zian yang tidak seperti sebelumnya yang dia lihat saat di kantor, walaupun nada bicara Zian padanya masih tidak berubah.


"Nia ... Daddy pulang ya!" teriaknya.


"Dad! Nanti Nia hubungi Daddy ya!"


"Sudah ... biarkan ayahmu pulang, pekerjaannya sangat banyak! Jangan membuatnya jadi pemalas." Zian merengkuh bahu Agnia dan membawanya masuk kedalam kamar.


Dave menggelengkan kepalanya lalu kembali berjalan keluar dan meninggalkan rumah Zian dengan perasaan lega.


Sementara di kamar Zian langsung membawa Agnia ke atas ranjang dan memeluknya dengan erat.


"Hubby ... aku mau mandi!"


"Tidak usah mandi! Aku suka wangi ini baby!"


"Iya kan wanginya nanti juga begini lagi."


Namun Zian tidak mau melepaskan tangannya yang melingkari tubuh Agnia, lengan kekarnya menjadi bantal sang istri dengan kaki yang ikut naik dan mengunci paha Agnia.


"Tidak ... temani aku tidur! Kepalaku berat sekali."


"Makanya ayo makan dulu dan minum obat baru istirahat!" Agnia berusaha mengurai pelukan Zian, namun tetap saja dia tidak bisa berkutik.


"Tidak mau baby! Jangan lakukan apa apa dulu! Aku ingin tidur dengan memelukmu sekarang."


"Hubby ih Nia mau pipis!"


Namun Zian tidak menjawabnya lagi, kedua matanya sudah terpejam dengan nafas lembut, terlihat dadanya turun naik dengan teratur. Agnia menatap wajahnya dengan lekat lalu mengelus pipinya.


"I love you my Superman."


.


.


Hai readers ... maaf othor masih belum bisa ngebut ya, tetep sabar nungguin othor ngebut nanti. Happy weekend.

__ADS_1


__ADS_2