
"Kenapa Kau lakukan ini padaku Zian? Kau membuat karirku hancur!"
Zian mengernyit, "Bukan aku yang membuat karirmu hancur! Tapi kau sendiri yang menghancurkannya. Kau tahu itu!"
"Tapi, jika saja kau tidak memberikan flash disk itu pada mereka, aku tidak akan seperti ini! Kau harus bertanggung jawab Zian!"
Zian tergelak, "Jadi semua salahku? Dan aku harus bertanggung jawab, bagaimana dengan apa yang kau lakukan dengan Iyan dibelakang ku selama ini? Kau lupa? Apa yang tidak aku bisa berikan padamu Dita? Uang, kenyamanan, Hem? Atau kepuasan diatas ranjang? Apa katakan ... bahkan semua yang kau kenakan dan semua kariermu, aku yang berikan!" Zian menghela nafas. "Sekarang terimalah hasil dari perbuatannya sendiri! Sadarlah, itu semua karena ulahmu sendiri, pergilah Dita!" sambungnya lagi dengan suara menggelegar.
Kedua manik Anandita sudah basah, dengan air menggenang menyusuri wajah cantiknya. Namun Zian tidak akan tertipu lagi dengan air mata itu. "Pergilah, air matamu sudah tidak ada artinya bagiku!"
"Apa kau tidak memberikan kesempatan bagiku Zian, I still loved you."
"Cinta?" Zian mendecih, "Cinta apa yang kau berikan selama 2 tahun ini Dita? Semua nya palsu. Betapa menjijikkannya dirimu, kau tidur dengan ku tapi kau juga tidur dengan asistenku! Atau bahkan dengan banyak pria diluar sana?" tukas Zian dengan intonasi lebih tinggi dari sebelumnya.
"Semurahan itukah dirimu? Apa yang kau cari Anandita?"
Dita menggenggam tangan Zian, "Maafkan aku Baby...!"
"Stop, aku muak denganmu Dita, pergilah!" Ujarnya dengan tangan menunjuk pintu keluar.
"Pergi atau aku seret keluar!"
"Apa semua ini ada hubungannya dengan gadis yang kau bawa kemari Zian? Apa kau sadar, kau menghianatiku juga, kau mengatakan apa? Dia hanya keponakanmu, dan aku percaya itu! Kau juga berkhianat! Kita sama."
Zian tergelak, "Apa kau tidak bisa mencari alasan yang lebih masuk akal? Kau menuduhku berkhianat? Kau gila Dita."
Zian menatap tajam ke arah wanita yang sebelumnya sangat dia dambakan, tapi semua kini sudah berubah, walaupun tidak dipungkiri, cinta itu masih ada, "Pergilah, sebelum aku lepas kontrol dan berbuat kasar!" ujarnya dengan suara yang lebih lembut.
Anandita menghentakkan kakinya ke lantai, lalu beranjak pergi, "Aku akan terus berusaha Zian! Aku akan memilikimu kembali!" gumamnya saat berjalan.
Setelah kepergian Dita, Zian membanting pintu dengan keras, dan menghempaskan tubuhnya diatas sofa, dengan kepala yang dia sandarkan. Menatap langit-langit rumah lalu memejamkan mata.
Sementara Agnia mendengar semuanya di celah pintu kamar, semua percakapan antara Zian dan Dita, namun dia tidak berani keluar, dia juga tidak tahu harus menghibur atau membuat Zian lebih baik.
Kita berdua sama Om, sama-sama tidak dihargai oleh orang-orang terdekat kita. Huft...
Agnia menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, "Kasian dia! Entah gimana sakit hatinya dikhianati segitunya oleh pacar dan asistennya sendiri!"
Waktu terus berjalan, hari pun semakin larut, akibat kelelahan menangis, Agnia sampai tertidur dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, begitu juga dengan Zian yang masih berdiam diri di ruang tamu.
.
.
Suara perut keroncongan membuat Agnia terbangun, dan dia melonjak kaget karena kamarnya sudah gelap, dengan tirai jendela yang masih terbuka, "Astaga gue ketiduran berapa lama sampai tengah malam begini!" ujarnya melihat jam weker diatas nakas.
"Mana masih pake seragam lagi." ujarnya lagi dengan melihat pakaiannya.
Agnia masuk kedalam toilet untuk membasuh muka dan berganti pakaian, lalu keluar dari kamar karena merasa lapar.
Gelap
Seluruh ruangan pun gelap, hanya cahaya redup dari luar, "Om Zian kemana sih! Kenapa pada gelap begini."
Agnia berjalan menuju dapur, membuka lemari es dan mencari sesuatu yang bisa dimakan. Biasanya bibi pelayan rumah akan menyiapkan masakan yang tinggal mereka hangatkan saja di microwave.
"Ah makan ini saja!" ujarnya dengan membawa 1 boks kecil cake lalu menutup kembali lemari es.
__ADS_1
"Aaaaakkk ...!!" teriaknya saat melihat sosok jangkung yang tengah duduk dimeja makan.
Zian bangkit dan menghampiri saklar lampu
Cetrek
"Ada apa?"
"Astaga! Om, Nia kira siapa! Ngapain sih gelap-gelapan begitu! Bikin kaget aja!" ujarnya dengan menarik kursi meja makan dan mendudukkan dirinya.
"Tidak apa-apa, tadi aku ketiduran disini!" ujarnya berbohong, yang dia lakukan sedari tadi hanya diam dan mematung, memikirkan banyak hal setelah perdebatan nya dengan Dita.
"Nia sendiri sedang apa! Bukannya tidur, ini sudah jam berapa coba?" ucapnya dengan melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
"Aku lapar Om, makanya kebangun!" ucapnya dengan membuka boks cake lalu menyuapnya kedalam mulut.
"Maaf ... Om lupa kasih kamu makan malam ya!"
Agnia mendengus, "Emangnya aku kucing dikasih makan! Yang bener aja Om kalau ngomong."
Zian mengulas seutas senyum, "Paling bisa kalau jawab!"
"Om emangnya gak lapar? Mau gak?"
Zian menggelengkan kepalanya, "Nanti saja!"
Agnia melahap hampir setengah boks cake coklat itu, tanpa menghiraukan Zian yang menatapnya heran.
"Lapar ya! Kita pesan makanan saja yaa?"
"Tidak usah Om, aku udah kenyang! Aku mau kembali ke kamar saja!" ujarnya dengan membereskan meja.
"Eeh ... Om mau kemana?"
"Cari angin sebentar, kamu tidur saja!"
Agnia mengernyit, "Eeh ... gak mau, Nia gak mau sendirian dirumah! Nia ikut!"
Bagaimana aku bisa pergi ke klub jika Nia ikut,
"Tidak kau dirumah saja!"
Zian mengambil kunci mobil di atas nakas, lalu keluar. Agnia menyusulnya keluar dapur,
"Ihh apaan gak mau ... Nia mau ikut cari angin!"
Zian akhirnya menghela nafas, " Ya sudah, pakai jaket sana! Aku tunggu diluar."
Agnia mengangguk, lalu naik ke atas dan mengambil jaket miliknya.
"Iihh ... ngapain gue pake jaket, baju ini udah tebel! Pake nurut lagi gue!" gerutunya dengan membuka kembali jaket lalu menentengnya keluar dari kamar.
Agnia kembali turun dan menyusul Zian yang sudah berada di luar.
"Ayo, eh kenapa jaketnya tidak kau pakai?" menatap Agnia yang hanya menenteng jaket.
"Nanti saja! Kalau sudah kedinginan, sekarang masih gerah karena banyak makan!" ujarnya dengan terkekeh kecil.
__ADS_1
"Dasar ... ya sudah ayo!"
Zian membuka gerbang dan berjalan keluar, dengan Agnia yang menyusul langkahnya.
"Kok gak naik mobil?"
"Kita jalan-jalan disekitar sini saja! Dan kembali pulang jika kita sudah mulai mengantuk!"
"Ide bagus! Nia juga tiba-tiba gak bisa tidur lagi."
Mereka berjalan berdampingan, dengan sesekali berceloteh tentang apa saja, berjalan melewati taman yang berada tidak jauh dari sana.
"Kalau Nia gak ikut, Om mau kemana tadi?"
Zian menggosok hidung nya yang mulai merasa kedinginan, "Pakai jaketmu Nia, udaranya dingin!"
"Tadi mau kemana? Jawab dulu."
"Klub...! Kita duduk disana!" tunjuk Zian pada satu kursi panjang yang terdapat di taman dengan menghadap air mancur buatan dengan lampu warna warni.
"Dasar, pria- pria suka minum-minum kalau ada masalah! Memangnya akan selesai apa dengan minum?"
"Segarnya udara malam ini!" gumam Agnia lagi.
Keduanya duduk bersampingan, Agnia merogoh ponsel dan mengambil gambar air mancur dengan pantulan bulan diatasnya, lalu menguploadnya di sosial media miliknya dengan caption.
Malam membawaku pada kesunyian, namun sinar bulan, memberiku sedikit kehangatan.
Zian menggelengkan kepalanya, "Kenapa semua wanita sering meng-upload foto seperti itu?"
Agnia menggaruk kepalanya, "Gak tahu juga kenapa? Mungkin ingin orang lain tahu!"
Zian mengangguk, "Mungkin juga! Lalu apa itu juga tujuanmu? Agar semua orang tahu kamu sedang merasakan apa?"
"Enggak juga sih! Udah ah apaan malah bahas Nia, bahas yang lain aja!"
Zian menghadap ke arahnya, "Memangnya mau bahas apa?"
"Gak tahu juga, kita kan mau cari angin! Ya udah cari angin aja!"
Pria itu terkekeh, lalu mencubit lembut pipi Agnia, "Selain pintar menyanggah, membantah, pintar juga menjawab! Dan juga ...."
"Iih ... apaan sih, apa lihat-lihat?"
"Juga cantik!"
Agnia tergelak, "Ya ampun, sekalinya digombalin, digombalinnya sama Om-Om."
"Heh ... kau bicara apa? Aku memang sudah berumur, tapi masih bisa bersaing dengan pria-pria di luar sana."
"Ya ...ya terserah Om saja!" ujar Agnia dengan kembali tergelak.
Zian menggelitik pinggang Agnia hingga dia terpingkal, "Eeh ... hentikan Om, geli tahu!"
Tangan Zian terhenti karena Agnia menepisnya, namun dia malah menggenggam tangan mungil milik Agnia, dengan kedua mata yang saling menatap.
Beratapkan sinar bulan, mereka saling menatap, menelisik dengan cara masing-masing, dengan perasaan mereka sendiri yang tahu.
__ADS_1
Jemari Zian menyelusup diantara ceruk leher Agnia, dan Agnia sendiri memejamkan matanya perlahan. Benda basah itu kini menempel, cukup lama. Membuat Agnia membuka matanya perlahan, dia menyunggingkan bibirnya karena ternyata benda basah itu menempel tepat dikeningnya.
"Tetaplah berada disisiku!" lirih Zian.