
Sinar mentari pagi cukup terik pagi ini dan langit biru cukup menyejukkan.
Suasana pagi sangat indah seperti nama seorang gadis yang masih terlelap nyenyak di bawah selimut empuknya.
Setelah banyak pertimbangan dan perdebatan singkat akhirnya Indah mengalah dan berhenti kerja.
Makanya pagi ini dia masih betah tidur dan juga kuliah masuk siang, hingga dia lebih memilih tidur setelah subuh tadi.
"Indah bangun dulu sarapan,"
Panggil Ibu Wana dari luar pintu kamar Indah.
Ya Wana adalah nama Ibu Indah.
"Iya bu bentar lagi, Indah masih ngantuk,"
Jawab Indah dari dalam kamar dengan suara lemah menandakan dia masih ngantuk.
"Anak gadis kok suka bangun siang,"
Protes Ibu.
"Cepat Ibu tunggu kalau lama Ibu habiskan sarapan nya,"
Pergi dari sana setelah merasa cukup membangunkan Indah.
"Ibu mah ngancam gitu terus, kayak sanggup aja habisin semua sarapan,"
Dengus Indah bangun dari ranjang lalu cuci wajah dan ikut bergabung.
Berjalan perlahan sambil masih sedikit mengusap mata yang terasa ngantuk.
"Pagi bu,"
Sapa Indah dan duduk berhadapan sama Indah.
"Pagi sayang, ayo sarapan,"
Mereka hanya makan berdua, yang biasa berempat jadi bertiga karena ayah Indah tiada dan kini jadi berdua sebab kakak Indah harus kerja luar kota dan tinggal di sana yang dekat sama tempat tinggal serta hemat waktu dan biaya kalau harus bolak balik yang memakan waktu di jalan tiga jam lebih.
Skip selesai makan.
"Sepi ya bu cuma kita berdua aja di rumah, coba ada kakak pasti rame,"
Keluh indah dan sekarang mereka lagi santai setelah mengisi perut.
"Ya mau gimana lagi Ndah, kakak dapat kerja disana apa lagi gaji besar tentu kakak ngak mau buang kesempatan,"
Tutur Ibu yang duduk sambil membelai kepala Indah di pangkuan nya sebab Indah menjadikan paha Ibu sebagai bantal.
"Tapi kan kita jadi jauh an gini bu,"
Menghadapkan wajah pada perut Ibu.
Posisi nyaman sebab hanya dalam dekapan orang tua seorang anak merasa nyaman.
Nyaman dalam artian luas, bukan hanya sekedar nyaman pada pasangan kita tapi nyaman akan semua hal termasuk dapat kasih sayang tulus tanpa di buat buat.
"Ngak apa Ndah, deketan juga paling ribut aja kalian berdua.
Ibu heran kalian jauh kangen tapi dekat ribut,"
Ibu sama sekali tidak keberatan sama sifat kedua anaknya itu yang selalu ribut kalau bertemu tapi semua itu hanya candaan sesama saudara yang tidak serius.
__ADS_1
Jangankan bertemu dalam telpon pun mereka masih sempat buat berdebat, memang saudara komplek.
Orang kalau jarang bertemu akan kangen kangenan bukan debat yang mendebatkan rasa rindu terlupakan.
"Tapikan Bu kalau bertemu ribut nya lebih afdol gitu bisa pake tangan juga kalau terlalu marah, nah kalau ngak ada orang nya pake tangan mau pukul apa dinding, yang ada sakit tangan bu,"
Mana ada ribut itu afdol yang ada membuat polusi pendengaran dan mengusik ketenangan tetangga.
"Hus anak gadis ngak boleh sering ribut,"
Nasehat Ibu, sebenarnya tidak masalah kalau mereka terus ribut asal tidak adu mulut.
"Kalian kalau ribut berisik bikin bising,"
Tambah Ibu dengan tangan yang tidak berhenti mengelus kepala Indah.
Indah tersentak mendengar penuturan ibunda tercinta.
"Ibu ku sayang kalau ribut ya bising lah, kalau ngak bising namanya bisik bisik ok bu,"
Dengan sedikit menahan emosi indah bicara.
Sejak kapan ribut tapi diam, sudah lah bu terserah ibu saja yang penting Ibu senang dan bahagia kami sebagai anak hanya bisa mengiyakan walau itu tidak.
"Bu Indah siap siap dulu ya mau ke kampus sambil nunggu Ines juga, pasti lama tuh anak,"
Indah pergi ke kamar buat siap siap ke rumah Ines dulu sebelum berangkat ke kampus.
Dua sahabat itu selalu bersama kapan saja dan kemana saja termasuk saat Indah berhenti kerja maka Ines akan ikutan juga.
Sahabat setia pokoknya.
Tidak butuh waktu lama bagi Indah buat siap siap dan sudah rapi dengan pakaian yang tidak terlalu mencolok.
"Assalamu'alaikum ma Ines ada?"
Tanya Indah pada mama Ines yang lagi duduk di luar.
"Wa alaikum salam. Ada Ndah, langsung masuk aja mungkin masih di kamar,"
Suruh mama Ines pada Indah agar langsung masuk aja.
Indah masuk ke rumah itu menuju kamar Ines yang bercatkan pintu warna coklat.
Indah heran kamar cewek tapi pilih warna kalem tidak ada kesan feminim.
"Nes lo masih tidur ya?"
Suara indah saat masuk kamar Ines.
"Salam dulu masuk kamar orang Ndah,"
Balas Ines dari dalam sana.
"Oh ini kamar orang ya,"
Indah masuk ke dalam lalu duduk di ranjang Ines yang mana pemilik kamar lagi merias sedikit.
Cuma sedikit tidak banyak palingan cuma habis waktu sepuluh menit.
"Dasar kayak lo orang aja,"
Dengus Ines yang sudah selesai dan mengambil tasnya.
__ADS_1
Berjalan beriringan keluar rumah dan pamitan pada mama Ines.
Sekarang belum jam masuk kampus masih kurang dua jam lagi namun perempuan dua itu yang belum punya pasangan sampai sekarang hanya ingin bersantai sebelum belajar menguras otak.
Kayak bak mandi aja di kuras.
"Beda ya ndak rasa nya jadi pengangguran,"
Bicara Ines di sela langkah kaki mereka.
"Ya mau bagaimana lagi Nes, lo kan tau ndiri gimana tuh kakak tiap kali nelpon udah kayak rentenir nagih hutang, di tanyain mulu gue,"
Pasrah Indah melepas pekerjaan yang di sukai sudah tidak berat, bos baik dan teman kerja baik juga malah di suruh berhenti.
Bukannya bangga punya adik bisa cari uang malah di suruh berhenti.
Di kantor F'Corp.
"Sibuk ya bos?"
Farid masuk ruangan Frans dengan beberapa berkas dia pegang.
"Lo kira gue pengangguran apa yang ngak sibuk,"
Dasar asisten kurang kerjaan nanya gitu, sudah liat bosnya lagi sibuk malah nanya.
"Ya kan cuma basa basi bos, biar ngak tegang amat,"
Duduk di kursi depan Frans yang hanya berbatas meja kerja Frans.
"Tapi pertanyaan lo udah basi, balik sana lo kurang kerjaan ngapelin gue terus,"
Usir Frans yang tidak mau lama lama Farid berada di depan nya.
"Yah mau gue temenin ngak mau, gimana sih lo,"
Meletakkan berkas yang di bawa ke ruangan itu ke atas meja.
"Lo kira gue kesepian apa sampai butuh teman segala,"
Sudah jelas bukan, maka sekarang silahkan keluar Rid.
"Jomblo kayak lo ya kesepian lah, bye gue balik dulu,"
Sedikit berlari keluar dari sana sebelum pulpen tanpa sayap bisa terbang melayang ke arah Farid.
"Lo liat nanti gue yang bakal duluan punya pasangan dari lo,"
Teriak Frans yang tidak bisa di dengar Farid sebab pintu ruangan itu sudah tertutup.
"Dia lagi apa ya?"
Dengan cepat Frans menggelengkan kepala mengusir fikiran jelek yang melintas di kepalanya.
"Gue mikir apa coba, dasar kepala ngak tau diri jangan mikirin cewek orang ngak baik,"
Mengetuk kepala sendiri dengan tangan.
"Dasar kurang kerjaan nih kepala kayak si selokan itu,"
Dasar kamu Frans teman sendiri kamu bilang comberan, teman laknat.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Tbc.