Bukan Sugar Baby

Bukan Sugar Baby
Episode. 172


__ADS_3

Tiba tiba saja pintu terbuka, sosok pria dengan balutan jas lengkap berwarna hitam berdiri, menatap ketiganya dengan wajah yang tampak serius. Laras dan Dave melebarkan penglihatannya, sementara Agnia membola dengan wajah yang berseri seri.


"Keputusanku sudah bulat, seperti yang telah aku katakan pada Dave, itu juga berlaku padamu Laras, aku akan menikahi putrimu ada atau tanpa izin darimu."


Zian berjalan dan membuka tiga kancing pada kemejanya sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk, walaupun tidak ada yang mempersilahkannya.


"Aku kemari hanya ingin memastikan jika kalian berdua tidak lagi mempermasalahkan hal ini. Secepatnya aku akan menikahinya." ucap Zian menarik tangan Agnia dan menggenggamnya erat.


Laras ternganga, dia juga tidak bisa berkata apa apa apalagi menolak. Dave mengulum senyuman, menatap Zian yang bicara sangat serius.


Dave berujar dengan mengelus bahu Laras, "Kami sudah sepakat, hanya saja Laras khawatir pada masa depan Nia, pendidikan nya, dan emosinya yang belum stabil saat karena usianya yang masih muda."


"Aku tidak akan pernah melarangnya untuk melanjutkan pendidikan, aku juga akan mendukungnya 100 persen apapun yang berkaitan dengan masa depannya, jadi kau tidak perlu khawatirkan itu!"


Laras menatap Agnia, yang kini mengangguk ke arahnya, dia pun akhirnya tersenyum.


"Baiklah ... aku percaya padamu Tuan Zian! Maksudku Zian."


Dave meraup wajahnya, "Sudah aku bilang, ini sangat konyol, calon menantu kita bahkan hampir seusia dengan mu Laras. Haiiiissshhh ... bagaimana bisa kau memanggil menantumu dengan sebutan tuan."


Semua tergelak, begitu juga Agnia yang saat ini saling menatap dengan Zian.


"Dia tidak keberatan memiliki suami yang hampir seusia ibu dan ayahnya! Benarkan sayang?"


Semburat merah terlihat jelas diwajah Agnia, dia menunduk bahkan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kedua orang tuanya pun tampak terkekeh dengan melihat tingkahnya.


.


.


"Kenapa menyusulku kemari?" tanya Agnia saat keduanya keluar dari ruangan itu,


Setelah Dave dan Laras keluar lebih dulu, mereka hendak ke kantor baru milik Dave.


"Aku pikir aku harus menyusulmu! Ternyata dugaanku benar, kalau aku tidak kemari. Kau pasti akan kesulitan sendiri menghadapi ibumu."


Agnia menggusel kedua pipi Zian, "Pengertian sekali calon suamiku ini!"


Setelahnya justru dia berlari sambil tertawa, dia masuk kedalam lift yang saat itu telah terbuka, Zian segera menyusulnya.


"Nakal sekali kau ini! Setelah membuat kedua pipiku sakit, kau kabur begitu saja! Hem ...!" Tangan Zian merekat dipinggangnya, Agnia masih tertawa dan semakin tertawa saat Zian menggelitik pinggangnya.


"Kukumu tajam sekali! Aku akan memotongnya!" Zian memasukkan telunjuk Agnia ke dalam mulut dan menggigitnya pelan.


"Eeeh ... tidak mau! Susah payah aku merawat kuku ini, kau seenaknya akan merusaknya!" seru Agnia dengan terus tertawa hingga pintu lift tertutup.


Zian melepaskan jemarinya, lalu mengecupnya perlahan, "Kalau begitu aku tidak jadi merusaknya, aku takut di tuntut ganti rugi."


Keduanya kembali tertawa, Zian menarik kepalanya dan memeluknya, "Aku akan merawat semuanya mulai sekarang!"


"Benarkah? Apa yang akan kau rawat?"

__ADS_1


"Tentu saja semuanya!"


Mobil Camry berwarna hitam sudah terparkir didepan pintu keluar, saat keduanya keluar dari lift, seseorang datang membuka pintu mobil.


"Sekretaris Kim? Ikut juga?"


"Hai Nia ...!"


"Iya ... karena dia akan membantumu untuk mengurus berkas!


"Tunggu, mengurus berkas?"


Kim masuk kedalam mobil, sementara Zian dan Agnia sudah masuk kedalamnya.


"Berkas pernikahan," Zian mengedipkan satu mata ke arah gadisnya yang masih melongo tidak percaya.


"Berkas pernikahan? Tapi ... tapi!" jawabnya tergagap.


"Tidak perlu khawatir, semua akan Kim urus! Benarkan Kim?"


"Tentu saja!" jawab Kim dengan menarik sudut bibirnya hingga melengkung.


Ketiganya turun di sebuah mall untuk mencari sebuah cincin yang akan dijadikan cincin pernikahan mereka, Agnia berjalan bersisian dengan Zian sementara Kim berada di belakang mereka.


Mereka pun naik ke atas dimana toko perhiasan dan juga berbagai toko berlian berjejer rapi.


"Nia?"


Suara yang tidak asing ditelinga Agnia terdengar, seketika membuat langkahnya terhenti, dan sesaat Agnia mematung.


"Serly? Lagi ngapain lo?" Tangan Agnia yang berada di lengan Zian pun terlepas, dia melangkah maju menghampiri Serly yang tengah bersama ibunya.


"Tante? Apa kabar?" Sapa Agnia dengan hatunyang berdebar debar karena baru saja bertemu dengan Serly pada saat dia bersama Zian.


"Baik Nia! Kau sendiri bagaimana? Kau baik baik saja kan?" Agnia mengangguk, "Katanya Daddymu bangkrut Nia? Apa itu benar?" tanya ibunya Serly menohok.


Serly menatap Zian yang berada di belakangnya juga Kim. Melihat Agnia tidak menjawabnya, dia menggoyangkan lengan ibunya. "Ibu ... jangan bertanya seperti itu, Nia pasti sedih!"


"Ah ... maafkan Tante Nia, Tante tidak ada niat membuatmu sedih." ujarnya dengan mengusap bahu Agnia.


"Tidak apa apa Tan!"


"Oh ya, Lo lagi ngapain disini Nia? Nganterin om lo!"


"Hm ... Seperti yang lo lihat Serl, gue ke sini sama om dan Tante gue!" tunjuknya pada Zian dan juga Kim.


"Dia pacar Om lo?"


"Hah ... hm ...!! Ya udah Serl gue cabut duluan ya,"


Agnia bergegas pergi, di ikuti oleh Zian dan juga Kim yang mengikutinya.

__ADS_1


"Sial ... kenapa harus ketemu Serly di sini sih! Bisa kacau kan." gumam Agnia yang berjalan lebih dulu.


Zian menyamai langkahnya, "Hei ... tenang, tenang saja! Kenapa, biarkan saja jika Serly tahu. Bukankah dia temanmu?"


"Iya tapi dia beda, gak kayak Cecilia dan juga Nita." sahutnya dengan melepaskan tangan Zian, kemudian dia berbalik, "Aku ada ide? Dia pasti nyusulin kita lagi, aku yakin itu ..."


Zian mengernyit, "Terus ... bagaimana?"


"Om dan sekertaris Kim masuk duluan, aku kan nyusul nanti, Om bakal lihat dia nanti." ujarnya lagi.


"Ya ampun ... Nia, tidak usah berbuat apa apa, toh kita akan menikah dan lambat laun mereka semua akan tahu juga!"


Agnia terdiam sesaat, Serly nyatanya tidak akan mudah percaya jika tidak melihatnya sendiri. Dan Agnia tidak ingin ketahuan sekarang, ujian sekolah sebentar lagi digelar dan dia tidak ingin mendapat masalah karena permasalahan ini.


"Please Om ... sekali aja!" ujarnya dengan mengiba.


Zian menghela nafas, "Apa yang harus aku lakukan Nia?"


"Begini ... Om dan sekertaris Kim masuk ke toko perhiasan dan memilih, lalu nanti Om tanyanya jangan ke Nia tapi ke sekretaris Kim! Nanti Om tinggal ikuti aja, Om tinggal ngangguk ngangguk aja!" terang Nia.


"Hanya itu?"


Agnia mengangguk, "Ya itu saja ... bisakan? Sekretaris Kim?"


Akhinya mereka bertiga masuk, Kim bertanya pada seorang pengawai agar menunjukan perhiasan yang hendak mereka beli. Seketika beberapa pegawai pun melayani mereka dengan menunjukan beberapa pilihan. Begitu pun Agnia yang berada disamping Zian, dengan sesekali melihat ke arah pintu.


Dan benar saja, Serly kembali datang.


"Nia ... kita ketemu lagi disini? Lo lagi nyari apa?"


"Hai Serl ... gue lagi nemenin om gue nyari cincin buat nikah!"


Serly tampak terkejut, "Pak Zian mau nikah?"


Zian menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Iya Serl ... ini calon istrinya? Cantik kan?" tunjuk Agnia pada Kim. Kim membulatkan kedua manik hitamnya, begitu juga dengan Zian.


"Nia!" gumam Zian pelan, kedua maniknya pun tak kalah lebar menatap Agnia.


"Ah ya udah... Lo juga kalau mau milih ya milih aja, om gue gak suka kalau ada orang yang ikut campur masalah pribadinya." Bisik Agnia pada Serly, namun sangat jelas terdengar ditelinga Zian dan juga Kim.


Kim menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka ide Agnia sungguh konyol, dengan mengatakan hal itu.


"Calon istrimu sangat cerdik!" Gumam Kim.


"Ya ... tentu saja, tapi tetap saja! Ide konyolnya justru akan membuatnya dalam masalah nanti." jawab Zian.


"Kita cari tempat lain!" Zian berlalu pergi dan keluar dari sana, diikuti oleh Kim lalu Agnia.


"Nah kan gue bilang apa! Om gue itu gak suka sama orang yang suka ikut campur dan sok tahu! Gue cabut dulu Serl."

__ADS_1


Serly menatap ketiganya, yang keluar dari sana, "Sialan ... kenapa gue malah kesel lihat mereka, gue berharap Nia ada hubungan sama Zian itu, tapi ternyata perempuan itu pacarnya. Tapi gue belum percaya seratus persen, bisa aja ini cuma akal akalan Nia aja!"


__ADS_2